Benarkah Blue Jeans Berdampak Buruk bagi Lingkungan?

blue jeans
Ilustrasi blue jeans. Sumber: freepik.com
  • Blue jeans atau jeans biru saat ini disebut sebagai denim.
  • Pembuatan bahan kain denim menghasilkan limbah dalam jumlah besar.
  • Levi’s, salah satu brand jeans ternama juga menawarkan celana jeans ramah lingkungan.

Halo, Sobat EBT Heroes! Kamu pasti sudah tidak asing lagi dengan yang namanya blue jeans, kan? Eitss, tapi bukan lagu Blue Jeans karya Gangga Kusuma, ya. Blue jeans yang satu ini merupakan celana kasual yang terbuat dari denim. Salah satu merk fashion terkenal yang memproduksi blue jeans ialah Levi’s.

Nama blue jeans diambil dari warna kain yang digunakan untuk membuatnya. Denim diolah dengan pewarna biru yang diperoleh dari tanaman nila. Produsen jeans biru mengimpor nila dari India hingga abad kedua puluh, ketika nila sintetis dikembangkan untuk menggantikan pewarna alami.

Miliaran pakaian denim diproduksi setiap tahunnya, dengan nilai pasar denim global sebesar $63,5 miliar pada tahun 2020. Untuk memproduksi pakaian klasik ini, produsen mengandalkan pewarna indigo, satu-satunya molekul yang diketahui menghasilkan warna jeans yang unik dan disukai. Meskipun nila sendiri secara alami berasal dari tumbuhan, meningkatnya permintaan akan jeans biru sepanjang abad ke-20 memunculkan nila sintetis yang kini lebih umum digunakan.

Namun, nila, baik alami maupun sintetis, tidak larut dalam air menjadi pewarna cair. Sebaliknya, pewarna tersebut harus diubah menggunakan bahan kimia keras yang mengikat pewarna pada serat pakaian.

Lantas, seperti apa dampak buruk blue jeans bagi lingkungan serta bagaimana cara mengantisipasi permasalahan ini? Simak penjelasan di bawah ini!

Baca Juga



Bagaimana Dampak Pewarnaan Blue Jeans bagi Lingkungan?

pewarnaan blue jeans
Ilustrasi proses pewarnaan blue jeans. Sumber: getty images

Proses kimiawi untuk mewarnai jeans biru telah berlangsung selama satu abad terakhir. Industri denim menggunakan sekitar 50.000 ton nila sintetis per tahun, bersama dengan lebih dari 84.000 ton natrium hidrosulfit sebagai zat pereduksi. Pekerja tekstil terpapar bahan kimia ini, yang dapat beracun dan bersifat karsinogenik. Bahan kimia beracun juga mencemari lingkungan di sekitar pabrik. Mewarnai hanya satu celana jeans memerlukan hampir 30 galon air dan bahan kimia tambahan yang digunakan dalam air bersifat sangat basa dan korosif—sehingga sulit untuk menampung air limbah. Air yang terkontaminasi bahan kimia sering kali berakhir di saluran air dekat pabrik sehingga merusak ekosistem lokal dan bahkan membuat sungai menjadi biru.

Sepasang jeans diperkirakan menghabiskan lebih dari 790 galon air di seluruh rantai pasokan. Mulai dari penanaman kapas, pewarnaan, hingga pencucian untuk mendapatkan warna dan pola yang diinginkan.

Adam Taubenfligel, salah satu pendiri perusahaan denim Triarchy, menyebut metode konvensional dalam memproduksi jeans “sangat konsumtif.”

Baca Juga



Cara yang Lebih Ramah Lingkungan dalam Proses Pewarnaan Blue Jeans

indican
Ilustrasi pewarnaan dengan indican. Sumber: Phys.org

Indican, pendahulu nila yang ditemukan pada tanaman yang sama dari genus Indigofera, adalah kunci alternatif pewarnaan ini. Indican adalah senyawa yang mengubah daun tanaman nila menjadi biru jika dihaluskan, dan dapat diubah menjadi nila. Ini bukanlah penelitian pertama yang menggunakan indican sebagai pewarna alternatif. Para ilmuwan bahkan telah merekayasa bakteri untuk mengeluarkan indican. Namun, tantangan terbesarnya adalah menemukan cara untuk menggunakan pewarna indican secara efisien pada skala yang diperlukan untuk memasok pasar denim biru global.

Menurut Ditte Hededam Welner, ahli biologi di Novo Nordisk Foundation Center for Biosustainability dan peneliti utama studi baru ini, enzim baru mereka yang direkayasa sangat stabil sehingga dapat bertahan dalam proses manufaktur industri lebih baik dibandingkan metode sebelumnya yang menggunakan indican.

Para peneliti mengamati 18 kategori dampak, termasuk penggunaan bahan bakar fosil, paparan karsinogen pada manusia, dan polusi air. Menggunakan enzim rekayasa untuk mewarnai dengan indican mengurangi dampak lingkungan sebesar 92% dibandingkan dengan pewarnaan konvensional. Menggunakan cahaya untuk mewarnai dengan indican mengurangi dampak lingkungan sebesar 73%.

Mengurangi bahan kimia tambahan saat melakukan pewarnaan konvensional tentu akan mengurangi emisi karbon secara besar-besaran. Tim Welner memperkirakan mengganti nila dengan indican akan menurunkan emisi karbon dioksida tahunan blue jeans sebanyak lebih dari 3 juta ton, berdasarkan perkiraan 4 miliar pasang jeans yang diperdagangkan per tahun.

Nah, bagaimana Sobat EBT Heroes? Kamu pasti sudah paham, bahwa pewarnaan blue jeans secara konvensional ternyata memiliki dampak buruk bagi lingkungan kita. Yuk, mulai gunakan blue jeans yang aman bagi lingkungan, seperti merek yang menggunakan bahan organik; mencakup kapas atau rami organik; pewarna dan metode penyelesaian akhir yang ramah lingkungan.

#zonaebt #sebarterbarukan #ebtheroes

Editor: Ken Hitana Prakarsi

Referensi

[1] Kebanyakan Celana Jeans atau Denim Berwarna Biru, Ini Alasan di Baliknya

[2] Jeans yang Kamu Pakai Bisa Merusak Lingkungan, Ini 7 Faktanya!

[4] The 9 best sustainable denim brands, according to experts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 Comment