
- Pertamina menilai transisi energi Indonesia masih lambat karena investasi energi bersih dianggap mahal dan membutuhkan dukungan besar
- Kenaikan harga energi fosil global menunjukkan pentingnya percepatan penggunaan energi terbarukan dan bioetanol di Indonesia
- Pemerintah, industri, dan masyarakat perlu bekerja sama mempercepat transisi energi lewat regulasi, kendaraan listrik, dan pemanfaatan EBT
Sobat EBT Heroes! Konflik global dan kenaikan harga energi beberapa waktu terakhir kembali menunjukkan satu hal penting bahwa ketergantungan terhadap energi fosil membuat ketahanan energi Indonesia masih rentan. Ketika harga minyak dunia naik, dampaknya langsung terasa, mulai dari subsidi energi yang membengkak hingga kenaikan biaya hidup masyarakat.
Karena itu, transisi menuju energi terbarukan kini dianggap bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Namun, proses peralihannya ternyata masih berjalan cukup lambat.
Direktur Transformasi, Digitalisasi, dan Sustainability Pertamina Patra Niaga, Tenny Elfrida, mengatakan Indonesia sebenarnya terlambat beralih ke energi hijau.
“Ini kami baru melihat terlambat ya kita shifting ke arah green energy,” ujar Tenny dalam webinar pada Jumat (15/5/2026), dikutip dari Kompas.
Kenapa Transisi Energi Masih Lambat?

Selama ini, pengembangan energi bersih sering dianggap membutuhkan biaya besar. Teknologi seperti bioetanol, hidrogen, hingga sustainable aviation fuel (SAF) memerlukan investasi tinggi dan proses riset yang panjang.
Akibatnya, banyak proyek energi terbarukan berjalan lebih lambat dibanding energi fosil yang infrastrukturnya sudah lama tersedia.
Padahal, kondisi sekarang justru menunjukkan bahwa ketergantungan pada energi fosil juga memiliki biaya yang besar. Saat harga minyak dunia naik, negara harus mengeluarkan subsidi lebih tinggi, sementara masyarakat ikut merasakan kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok.
Tenny mengatakan pengembangan energi bersih tidak bisa hanya dibebankan kepada pelaku usaha. Menurutnya, pemerintah perlu membangun ekosistem yang mendukung agar investasi energi terbarukan lebih menarik.
“Kalau Indonesia mau mencapai net zero emission, kami juga membutuhkan dukungan untuk mengembangkan bioetanol, SAF, hidrogen, dan energi alternatif lainnya,” katanya.
Bioetanol dan Kendaraan Listrik Dinilai Penting

Selain energi surya dan pembangkit listrik terbarukan lainnya, pengembangan bioetanol juga mulai dianggap penting untuk mengurangi impor BBM.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Unggul Priyanto, mengatakan Indonesia masih tertinggal dalam pengembangan bioetanol dibanding biodiesel sawit yang lebih dulu berkembang lewat program campuran solar.
“Bioetanol harus dipercepat. Kalau menunggu produksi dalam negeri, akan terlalu lama, terutama dalam situasi krisis,” ujar Unggul.
Ia mendorong penerapan campuran E20 atau bensin dengan kandungan 20 persen bioetanol sebagai salah satu langkah memperkuat ketahanan energi nasional.
Selain itu, elektrifikasi transportasi lewat penggunaan kendaraan listrik juga dinilai penting agar konsumsi BBM bisa perlahan berkurang.
Baca Juga:
- 8 Bahan Baku Pembuatan Bioetanol di Indonesia
- Prospek PLTS Atap 2026 Kian Cerah, Permintaan Industri dan Rumah Tangga Meningkat
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mempercepat Transisi Energi?
1. Memperluas Penggunaan Energi Terbarukan
Pemanfaatan energi terbarukan perlu diperbanyak, terutama yang dekat dengan masyarakat seperti PLTS atap di rumah, sekolah, gedung, dan kawasan industri. Cara ini bisa membantu mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus membuat pasokan energi lebih mandiri.
2. Mendorong Biofuel dan Kendaraan Listrik
Pengembangan biodiesel, bioetanol, dan kendaraan listrik perlu dipercepat agar penggunaan BBM impor bisa dikurangi secara bertahap. Selain membantu ketahanan energi nasional, langkah ini juga dapat menekan emisi karbon dari sektor transportasi.
3. Memperkuat Dukungan Regulasi dan Edukasi
Transisi energi tidak akan berjalan cepat tanpa dukungan kebijakan yang jelas dan edukasi kepada masyarakat. Pemerintah perlu menghadirkan regulasi dan insentif yang mendukung investasi energi bersih, sementara masyarakat juga perlu semakin memahami pentingnya penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
Pada akhirnya, transisi energi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal kesiapan kebijakan, investasi, dan perubahan cara pandang terhadap energi masa depan Indonesia.
#ZONAEBT #EBTHeroes #Sebarterbarukan
Sumber:
[1] https://lestari.kompas.com/read/2026/05/15/204452186/indonesia-dinilai-terlambat-beralih-ke-energi-terbarukan