
- Penjualan Renewable Energy Certificate (REC) di Indonesia meningkat signifikan dari 0,30 TWh (2021) menjadi 6,43 TWh (2025), didorong kebutuhan industri akan energi hijau.
- REC menjadi solusi praktis bagi perusahaan untuk menggunakan energi terbarukan tanpa mengubah infrastruktur listrik.
- Lima sektor utama pengguna REC adalah manufaktur, kimia, pertambangan, makanan, serta pulp dan kertas.
Sobat EBT Heroes! Minat terhadap energi hijau di Indonesia terus menunjukkan tren yang meningkat, salah satunya melalui pembelian Renewable Energy Certificate (REC) dari PLN. Dalam beberapa tahun terakhir, penjualan REC tumbuh signifikan dari hanya sekitar 0,30 TWh pada 2021 menjadi 6,43 TWh pada 2025. Lonjakan ini mencerminkan semakin kuatnya komitmen sektor industri dalam mendukung transisi energi sekaligus menekan emisi karbon.
Peningkatan ini tidak terjadi tanpa alasan. Banyak perusahaan mulai menyadari bahwa penggunaan energi bersih bukan hanya soal kepatuhan regulasi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi bisnis berkelanjutan. REC pun menjadi solusi praktis bagi industri yang ingin beralih ke energi terbarukan tanpa harus mengubah infrastruktur kelistrikan yang sudah ada.
Secara sederhana, Renewable Energy Certificate (REC) adalah sertifikat yang membuktikan bahwa listrik yang digunakan berasal dari sumber energi baru terbarukan (EBT). Satu unit REC setara dengan 1 megawatt-hour (MWh) listrik hijau yang disalurkan ke jaringan PLN.
Dengan membeli REC, perusahaan tetap menggunakan listrik dari jaringan yang sama, tetapi secara klaim telah berkontribusi pada penggunaan energi bersih. Inilah yang membuat REC menjadi instrumen penting, terutama bagi industri yang ingin menurunkan jejak karbon, meningkatkan daya saing, dan memenuhi standar keberlanjutan global.
Baca Juga:
- 12 Pembangkit EBT Penyuplai REC PLN, Ini Sumber Listrik Hijau di Indonesia
- Tren Penjualan REC 2021–2025 Terus Tumbuh, Industri Jadi Motor Utama Energi Hijau
5 Industri dengan Permintaan REC Tertinggi

Menurut data PLN, terdapat lima sektor industri yang menjadi pengguna utama REC di Indonesia. Kelima sektor ini umumnya memiliki konsumsi energi besar sekaligus tekanan tinggi untuk menjalankan praktik bisnis berkelanjutan.
1. Manufaktur
Industri manufaktur menjadi penyerap REC terbesar karena kebutuhan energinya yang sangat tinggi. Penggunaan REC membantu sektor ini mengurangi emisi tanpa mengganggu operasional produksi yang sudah berjalan.
2. Kimia
Sektor kimia juga menjadi pengguna utama REC karena proses produksinya yang intensif energi. Dengan REC, perusahaan kimia dapat menjaga efisiensi sekaligus memenuhi standar lingkungan yang semakin ketat.
3. Pertambangan
Industri pertambangan mulai beralih ke energi bersih sebagai bagian dari komitmen dekarbonisasi. REC menjadi langkah awal yang praktis sebelum beralih ke sistem energi terbarukan secara langsung.
4. Makanan
Industri makanan dan minuman semakin terdorong menggunakan REC karena tuntutan konsumen terhadap produk yang ramah lingkungan. Penggunaan energi hijau menjadi nilai tambah dalam rantai produksi mereka.
5. Pulp dan Kertas
Sektor pulp dan kertas dikenal memiliki konsumsi energi besar dalam proses produksinya. Dengan REC, industri ini dapat menekan jejak karbon sekaligus meningkatkan citra keberlanjutan di pasar global.
Melihat tren yang terus meningkat, REC diperkirakan akan semakin menjadi instrumen penting dalam mendorong adopsi energi terbarukan di Indonesia. Bagi industri, langkah ini bukan hanya soal energi, tetapi juga investasi jangka panjang menuju bisnis yang lebih berkelanjutan.
Mulai dari Langkah Sederhana

Kabar baiknya, sekarang sobat juga bisa ikut berkontribusi dengan cara yang lebih mudah. Melalui platform ZONAEBT, REC dari berbagai sumber energi seperti panas bumi, air, hingga surya sudah tersedia dan bisa dibeli secara langsung.
Langkah kecil seperti membeli REC bisa jadi awal untuk mendorong penggunaan energi terbarukan yang lebih luas di Indonesia.
#ZONAEBT #EBTHeroes #Sebarterbarukan #REC #PLN
Sumber:
[1] Layanan Energi Bersih PLN Semakin Diminati, Penjualan REC PLN Tahun 2025 Capai 6,43%