Target Bauran EBT Indonesia 2030–2060: Dari 19,61% hingga 68,34%

Target bauran energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia 2030-2060, foto: PLN
  1. Bauran energi baru terbarukan (EBT) Indonesia mencapai 15,75% pada 2025, meningkat dari 14,65% pada 2024 dengan kapasitas pembangkit sekitar 15.630 MW.
  2. PLTA menjadi kontributor terbesar pembangkit EBT di Indonesia dengan kapasitas 7.587 MW, diikuti bioenergi, panas bumi, dan energi surya.
  3. Pemerintah menargetkan bauran EBT meningkat hingga 68,34% pada 2060, sebagai bagian dari strategi transisi energi dan pengurangan emisi gas rumah kaca.

Sobat EBT Heroes! Pemerintah Indonesia terus mendorong percepatan transisi energi dengan meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional. Upaya ini menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca.

Melalui berbagai kebijakan dan pembangunan proyek pembangkit listrik berbasis energi bersih, pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas EBT secara bertahap dalam beberapa dekade ke depan. Langkah ini dinilai penting mengingat kebutuhan energi nasional yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk.

Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, hingga akhir tahun 2025 porsi bauran EBT Indonesia tercatat mencapai 15,75% dengan kapasitas terpasang sekitar 15.630 megawatt (MW). Angka ini menunjukkan adanya peningkatan sekitar 1,1% dibandingkan tahun 2024, ketika bauran EBT masih berada di level 14,65%.

Meski peningkatannya masih relatif bertahap, tren ini menunjukkan bahwa pengembangan energi terbarukan di Indonesia terus bergerak ke arah yang positif. Peningkatan kapasitas pembangkit EBT diharapkan dapat memperkuat sistem kelistrikan nasional sekaligus mempercepat pengurangan emisi dari sektor energi.

Baca Juga:



Kapasitas Pembangkit EBT Indonesia

PLTA masih jadi tumpuan utama pencapaian target bauran EBT Indonesia, foto: Mongabay/Rico Coubut

Jika dilihat dari jenis sumber energinya, kapasitas pembangkit energi terbarukan di Indonesia saat ini berasal dari beberapa sektor utama. Setiap jenis pembangkit memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari sisi potensi sumber daya, stabilitas produksi listrik, maupun lokasi pengembangannya.

Berikut rincian kapasitas pembangkit EBT di Indonesia hingga Desember 2025:

  • Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA): 7.587 MW
  • Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi: 3.148 MW
  • Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP): 2.744 MW
  • Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS): 1.494 MW
  • Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB): 152 MW
  • Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa): 36 MW
  • Gasifikasi batu bara: 450 MW
  • Lainnya: 18 MW

Dari data tersebut terlihat bahwa PLTA masih menjadi kontributor terbesar dalam sistem energi terbarukan Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari potensi sumber daya air yang cukup besar di berbagai wilayah, terutama di pulau-pulau dengan banyak sungai dan bendungan.

Di posisi berikutnya terdapat bioenergi yang memanfaatkan biomassa maupun limbah organik sebagai sumber energi. Sementara itu, panas bumi juga menjadi salah satu sektor strategis karena Indonesia memiliki cadangan geothermal terbesar di dunia.

Energi surya juga mulai menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dengan potensi radiasi matahari yang tinggi sepanjang tahun, PLTS dinilai memiliki peluang besar untuk terus berkembang di masa depan, baik melalui proyek skala utilitas maupun sistem surya atap.

Target Bauran EBT hingga 2060

Untuk mempercepat transisi energi, pemerintah telah menetapkan target peningkatan bauran energi terbarukan secara bertahap dalam jangka panjang. Target tersebut mencerminkan arah kebijakan energi nasional menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Berikut target bauran EBT Indonesia dalam beberapa dekade mendatang sesuai yang tercantum pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional:

  • 2030: 19,61%
  • 2040: 35,42%
  • 2050: 52,23%
  • 2060: 68,34%

Target ini menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, energi terbarukan diharapkan dapat menjadi tulang punggung sistem energi nasional. Dengan porsi yang terus meningkat, EBT tidak hanya berperan dalam menjaga ketahanan energi, tetapi juga membantu mengurangi dampak perubahan iklim.

Namun, mencapai target tersebut tentu membutuhkan berbagai langkah strategis. Beberapa di antaranya adalah percepatan pembangunan pembangkit energi terbarukan, penguatan jaringan transmisi listrik, peningkatan investasi di sektor energi bersih, serta pengembangan teknologi penyimpanan energi.

Selain itu, dukungan kebijakan yang konsisten juga menjadi faktor penting agar transisi energi dapat berjalan lebih cepat dan efektif. Dengan sinergi antara pemerintah, sektor industri, dan masyarakat, pengembangan energi terbarukan di Indonesia diharapkan dapat terus meningkat dalam beberapa dekade ke depan.

#EBT #Energi #ZONAEBT

Sumber:

[1] Bauran EBT Capai 15,75% pada Akhir 2025, PLTA Masih yang Terbesar

[2] Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional

Bot
ZEBot Asisten Digital ZonaEBT
Hai Kak!
Aku ZEBot, asisten digital ZonaEBT. Ada yang bisa kubantu hari ini?