5 Fakta dan Mitos Energi Panas Bumi yang Perlu Diluruskan

PLTP Sorik Marapi berlokasi di Mandailing Natal, Sumatra Utara yang dioperasikan PT Sorik Marapi Geothermal Power. (Dok. KS Orka Renewables Pte Ltd)
  • Energi panas bumi dapat memasok listrik secara konsisten sepanjang hari dan membantu memenuhi kebutuhan listrik dasar.
  • PLTP modern dapat menekan emisi dibandingkan pembangkit fosil, tetapi tetap membutuhkan pengelolaan dampak lingkungan.
  • Pemanfaatan panas bumi bergantung pada kondisi geologi, sementara penggunaan langsung panas bumi dapat diterapkan untuk beragam kebutuhan.

Sobat EBT Heroes! Energi panas bumi atau geotermal merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Energi ini berasal dari panas alami di dalam bumi dan berpotensi mendukung penyediaan listrik yang stabil dengan emisi operasional relatif rendah.

Meski memiliki potensi besar, masih ada sejumlah anggapan yang membuat energi panas bumi kurang dipahami masyarakat. Mulai dari kekhawatiran sumbernya akan habis hingga anggapan bahwa pembangkitnya selalu mencemari lingkungan.

Lantas, mana yang merupakan fakta dan mana yang sekadar mitos? Berikut lima mitos tentang energi panas bumi yang perlu diketahui.

1. Mitos: Energi Panas Bumi Bisa Habis

Fakta: Panas bumi tergolong energi terbarukan karena sumber panasnya berasal dari dalam bumi dan terus tersedia melalui proses alami. Namun, bukan berarti setiap reservoir panas bumi tidak mungkin mengalami penurunan produksi. Pengelolaan yang baik, termasuk pengaturan pengambilan fluida dan reinjeksi, diperlukan agar sumber daya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

2. Mitos: Energi Terbarukan Tidak Bisa Menghasilkan Listrik 24 Jam

Fakta: Berbeda dengan pembangkit surya dan angin yang produksinya bergantung pada kondisi cuaca, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dapat memasok listrik secara konsisten sepanjang hari. Selama sumber daya dan fasilitas dikelola dengan baik, PLTP dapat membantu memenuhi kebutuhan listrik dasar atau base load.

3. Mitos: Pembangkit Panas Bumi Membutuhkan Lahan yang Sangat Luas

Fakta: PLTP membutuhkan lahan untuk sumur produksi, fasilitas pembangkit, jaringan pipa, dan infrastruktur pendukung. Meski demikian, kebutuhan lahannya relatif efisien dibandingkan sejumlah sumber energi lain berdasarkan energi yang dihasilkan. Besarnya lahan yang diperlukan tetap bergantung pada kondisi lokasi dan rancangan proyek.

Baca Juga:



4. Mitos: Pembangkit Panas Bumi Selalu Mencemari Lingkungan

Fakta: PLTP modern dirancang untuk mengendalikan dampak lingkungan, termasuk melalui pengelolaan fluida panas bumi dan reinjeksi ke dalam reservoir. Emisi gas rumah kaca dari pembangkit panas bumi umumnya lebih rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil. Namun, pengembangan panas bumi tetap perlu memperhatikan emisi gas alami, penggunaan air, pengelolaan limbah, serta potensi dampak terhadap lingkungan sekitar.

5. Mitos: Energi Panas Bumi Hanya Bisa Dimanfaatkan di Daerah Tertentu

Fakta: Pemanfaatan panas bumi untuk pembangkitan listrik memang bergantung pada kondisi geologi dan karakteristik sumber daya. Namun, teknologi pemanfaatan panas bumi langsung, seperti untuk pemanasan dan pengeringan, memiliki peluang penggunaan yang lebih beragam. Di Indonesia, potensi panas bumi tersebar di sejumlah wilayah yang berada di jalur vulkanik, meski tidak semua lokasi layak dikembangkan menjadi PLTP.

Energi panas bumi memiliki peluang besar untuk mendukung transisi energi di Indonesia. Untuk memaksimalkan manfaatnya, pengembangan perlu disertai kajian teknis, pengelolaan reservoir yang berkelanjutan, serta perlindungan lingkungan dan masyarakat di sekitar proyek.

#ZONAEBT #EBTHeroes #Sebarterbarukan

Bot
ZEBot Asisten Digital ZonaEBT
Hai Kak!
Aku ZEBot, asisten digital ZonaEBT. Ada yang bisa kubantu hari ini?