
Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bali atau PSEL Denpasar Raya resmi dimulai pada 8 Juli 2026 di Desa Pedungan, Kecamatan Denpasar Selatan. Proyek yang berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) ini dirancang mengolah hingga 1.500 ton sampah per hari menjadi energi listrik.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan berharap fasilitas tersebut dapat mulai beroperasi pada akhir 2027. PSEL Bali diharapkan menjadi salah satu solusi untuk menangani persoalan sampah di Bali, khususnya di wilayah Denpasar dan Badung.
Proyek ini mencakup penggunaan teknologi pembakaran dengan sistem pengendalian emisi berlapis. Dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai Rp3 triliun, PSEL Bali juga diproyeksikan membuka lapangan kerja selama pembangunan dan operasionalnya.
Berikut lima fakta mengenai PSEL Bali yang perlu diketahui.
1. Ditargetkan Beroperasi pada 2027
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan berharap PSEL Bali dapat beroperasi pada akhir 2027. Harapan itu disampaikan saat menghadiri Gala Dinner Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia ke-22 (PIT ISOI XXII 2026) di Jaya Sabha, Denpasar, Kamis (15/10/2026) malam.
“Mudah-mudahan tahun depan, 2027, mudah-mudahan bisa sudah jadi. Oktober, November sudah jadi,” ujar Zulhas.
PSEL Bali dirancang mengolah hingga 1.500 ton sampah per hari. Fasilitas ini juga diproyeksikan mampu memasok listrik untuk sekitar 50.000 rumah.
2. Berstatus Proyek Strategis Nasional
PSEL Bali ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Pembangunannya dilaksanakan oleh Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) Nusantara Bali New Energy berdasarkan mandat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025.
Status tersebut menempatkan PSEL Bali sebagai bagian dari upaya pemerintah mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik. Proyek ini diharapkan memperkuat infrastruktur pengelolaan sampah sekaligus mendukung pemanfaatan energi alternatif.
Baca Juga:
3. Dirancang Mengolah 1.500 Ton Sampah per Hari
Kapasitas pengolahan hingga 1.500 ton sampah per hari menjadi salah satu aspek utama PSEL Bali. Fasilitas ini diharapkan membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Kebutuhan fasilitas pengolahan berskala besar berkaitan dengan tingginya timbulan sampah di kawasan Bali selatan. Kementerian Lingkungan Hidup menyebut timbulan sampah gabungan Denpasar dan Badung mencapai sekitar 1.600 ton per hari, dengan 72,18% di antaranya masih dibuang ke TPA.
Dengan kapasitas yang direncanakan tersebut, PSEL Bali diharapkan membantu mengurangi tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah di kedua wilayah. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kesiapan pasokan sampah dan sistem pengangkutan menuju fasilitas.
4. Menggunakan Teknologi Pembakaran dengan Pengendalian Emisi Berlapis
PSEL Bali direncanakan menggunakan teknologi moving grate incinerator, yakni teknologi pembakaran sampah menggunakan kisi bergerak. Panas dari pembakaran dimanfaatkan untuk menghasilkan energi yang kemudian dikonversi menjadi listrik.
Untuk mengendalikan emisi, fasilitas ini akan dilengkapi Air Pollution Control System (APCS) berlapis. Standar emisi European Union Industrial Emissions Directive (EU IED) disebut menjadi salah satu acuan perlindungan lingkungan dalam pengoperasiannya.
Pengendalian emisi menjadi aspek penting dalam teknologi pengolahan sampah melalui pembakaran. Pemantauan dan kepatuhan terhadap standar lingkungan diperlukan agar produksi listrik tidak mengabaikan kualitas udara dan pengelolaan residu pembakaran.
5. Investasi Diperkirakan Mencapai Rp3 Triliun
Pembangunan PSEL Bali diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp3 triliun. Proyek ini juga diproyeksikan menciptakan lapangan kerja selama tahap pembangunan hingga operasional.
Informasi proyek dari Danantara Indonesia memperkirakan penyerapan tenaga kerja mencapai 1.200 orang. Sementara itu, Zulhas menyebut potensi penyerapan sekitar 2.000 tenaga kerja. Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa estimasi yang disampaikan dalam kedua informasi itu belum sama.
PSEL Bali diharapkan dapat membantu mengurangi beban sampah sekaligus menghasilkan listrik. Agar manfaatnya berkelanjutan, pengoperasian fasilitas perlu berjalan beriringan dengan pemilahan sampah, pengurangan sampah dari sumber, serta pengawasan lingkungan secara berkala.
#ZONAEBT #EBTHeroes #Sebarterbarukan