PLTS Atap dan Baterai, Solusi Ketahanan Energi Setelah Indonesia Blackout

Ilustrasi blackout di Sumatera, foto: X.
  • Kasus blackout di Sumatera dan Jawa-Bali menjadi alarm penting bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan PLTS atap dan Battery Energy Storage System (BESS) guna meningkatkan ketahanan energi nasional.
  • Indonesia masih tertinggal dalam pemanfaatan PLTS atap dengan kapasitas terpasang sekitar 853 MW pada 2025, jauh di bawah Vietnam (6,9 GW), Thailand (3,6 GW), dan Malaysia (1,8 GW).
  • IEEFA merekomendasikan pengembalian skema net-metering, revisi kuota PLTS atap, perluasan pembiayaan ESCO, serta percepatan regulasi baterai agar adopsi energi surya semakin masif.

Sobat EBT Heroes! Kasus pemadaman listrik (blackout) yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera dan sistem Jawa-Madura-Bali menjadi pengingat penting bahwa ketahanan kelistrikan nasional masih menghadapi berbagai tantangan. Selain menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu, pemadaman listrik juga berdampak pada sektor industri, layanan publik, hingga perekonomian.

Menurut Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), salah satu langkah yang perlu dipercepat adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap yang dipadukan dengan Battery Energy Storage System (BESS) atau sistem penyimpanan energi berbasis baterai. Kombinasi kedua teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan keandalan pasokan listrik sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih.

PLTS Atap dan Baterai Dapat Memperkuat Ketahanan Energi

PLTS Atap di gedung industri, foto: Antara.

Selama ini, sistem kelistrikan Indonesia masih didominasi oleh pembangkit berbahan bakar batu bara dan energi fosil lainnya. Ketergantungan tersebut membuat pasokan listrik rentan terganggu ketika terjadi masalah pada rantai pasok bahan bakar maupun gangguan teknis pada pembangkit.

Research & Engagement Lead Indonesia Energy Transition IEEFA, Mutya Yustika, menilai investasi pada PLTS atap dan baterai seharusnya tidak hanya dipandang sebagai upaya mengurangi emisi karbon. Lebih dari itu, teknologi ini merupakan bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional.

Dengan memanfaatkan energi matahari yang melimpah di Indonesia, PLTS atap dapat menghasilkan listrik langsung di lokasi pengguna. Ketika dipadukan dengan sistem baterai, energi yang dihasilkan pada siang hari dapat disimpan dan digunakan kembali saat malam hari maupun ketika terjadi gangguan pada jaringan listrik utama.

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, sistem kelistrikan yang lebih terdesentralisasi juga dinilai mampu meningkatkan keandalan pasokan listrik di berbagai daerah.

Baca Juga:



Kapasitas PLTS Atap Indonesia Masih Tertinggal

Meski memiliki potensi energi surya yang besar, pengembangan PLTS atap di Indonesia masih berjalan relatif lambat dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Hingga 2025, kapasitas terpasang PLTS atap di Indonesia baru mencapai sekitar 853 megawatt (MW). Angka tersebut masih jauh di bawah Vietnam yang telah mencapai sekitar 6,9 gigawatt (GW), Thailand sekitar 3,6 GW, dan Malaysia sekitar 1,8 GW.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa peluang pemanfaatan energi surya di Indonesia masih sangat besar, baik untuk sektor rumah tangga, komersial, maupun industri.

Apa yang Menghambat Pengembangan PLTS Atap?

IEEFA menilai terdapat beberapa faktor yang membuat adopsi PLTS atap di Indonesia belum berkembang optimal.

Salah satunya adalah dihapuskannya skema net-metering melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2024. Sebelumnya, pelanggan PLTS atap dapat mengurangi tagihan listrik melalui ekspor kelebihan listrik ke jaringan PLN. Setelah skema tersebut dihapus, daya tarik investasi PLTS atap bagi masyarakat dinilai ikut menurun.

Selain itu, penerapan kuota pemasangan PLTS atap oleh PLN juga dinilai membatasi pertumbuhan pasar. Dalam RUPTL 2025–2034, kapasitas PLTS atap dialokasikan sebesar 3.037 MW, sementara kebutuhan pemanfaatan energi surya diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Di sisi lain, biaya investasi yang masih berada pada kisaran Rp20 juta hingga Rp30 juta per kilowatt (kW) membuat periode pengembalian modal berkisar antara 7 hingga 12 tahun, terutama bagi pelanggan rumah tangga.

Rekomendasi untuk Mempercepat Adopsi Energi Surya

Agar pemanfaatan PLTS atap semakin luas, IEEFA merekomendasikan sejumlah langkah strategis. Di antaranya mengembalikan skema net-metering, meninjau kembali sistem kuota pemasangan, memperluas model pembiayaan melalui Energy Service Company (ESCO), serta mempercepat penyusunan regulasi yang mendukung integrasi sistem penyimpanan energi berbasis baterai.

Selain memperluas penggunaan PLTS atap, investasi pada jaringan listrik yang lebih modern juga dinilai penting agar sistem kelistrikan mampu mengintegrasikan energi terbarukan secara lebih optimal.

PLTS Atap Bukan Hanya Solusi Energi Bersih

Peristiwa blackout menunjukkan bahwa pengembangan PLTS atap tidak hanya berkaitan dengan target pengurangan emisi, tetapi juga berperan dalam meningkatkan ketahanan energi nasional. Dengan memanfaatkan sumber energi matahari yang tersedia melimpah serta didukung teknologi penyimpanan energi, Indonesia memiliki peluang untuk membangun sistem kelistrikan yang lebih tangguh, efisien, dan andal dalam menghadapi berbagai risiko di masa depan.

#ZONAEBT #EBTHeroes #Sebarterbarukan #PLTS

Sumber:

[1] https://ecobiz.asia/blackout-bukti-ketergantungan-indonesia-pada-batubara-ieefa-desak-percepatan-plts-atap/

Bot
ZEBot Asisten Digital ZonaEBT
Hai Kak!
Aku ZEBot, asisten digital ZonaEBT. Ada yang bisa kubantu hari ini?