
- Membeli REC menjadi alternatif yang lebih cepat dan efisien dibanding membangun PLTS atap untuk memenuhi kebutuhan energi terbarukan perusahaan.
- Pembangunan PLTS membutuhkan investasi CAPEX besar, perizinan, konstruksi, serta biaya operasional dan perawatan jangka panjang.
- REC memungkinkan perusahaan mengklaim penggunaan listrik energi terbarukan secara legal, instan, dan terukur untuk mendukung target PROPER dan ESG.
Sobat EBT Heroes! Perusahaan yang ingin meningkatkan kinerja lingkungan dan mengejar peringkat PROPER yang lebih tinggi umumnya memiliki dua pilihan. Pertama, membangun pembangkit energi baru terbarukan (EBT) sendiri seperti PLTS atap. Kedua, membeli Renewable Energy Certificate (REC) sebagai bukti penggunaan energi terbarukan.
Sekilas, membangun pembangkit sendiri terlihat lebih menarik karena menghasilkan listrik secara langsung. Namun dari sisi bisnis, pilihan tersebut membutuhkan investasi awal yang tidak murah, waktu implementasi yang panjang, serta risiko operasional yang harus dikelola dalam jangka panjang.
Membangun PLTS Atap Membutuhkan CAPEX Besar

Pembangunan PLTS atap membutuhkan biaya modal atau Capital Expenditure (CAPEX) yang cukup besar. Komponen utama yang harus disiapkan meliputi panel surya, inverter, mounting system, kabel, grounding, hingga baterai jika diperlukan.
Menurut Warung Energi, biaya pembangunan PLTS atap rumah tangga berkisar Rp12-15 juta per kWp. Untuk proyek skala komersial dan industri biayanya memang bisa lebih rendah, yakni sekitar Rp8-10 juta per kWp, tetapi tetap membutuhkan investasi awal yang signifikan.
Biaya tersebut juga belum mencakup kebutuhan lain seperti perizinan, sertifikasi, izin PLN, Sertifikat Laik Operasi (SLO), biaya transportasi, logistik, commissioning, hingga pelatihan operator.
Setelah sistem beroperasi, perusahaan masih harus mengalokasikan anggaran untuk perawatan berkala, penggantian komponen yang mengalami penurunan performa, serta biaya operasional lainnya selama umur proyek.
Selain investasi yang besar, pembangunan pembangkit EBT juga membutuhkan waktu. Mulai dari tahap perencanaan, pengadaan peralatan, instalasi, hingga proses perizinan dapat memakan waktu berbulan-bulan.
Bagi perusahaan yang sedang mengejar target PROPER dalam periode penilaian tertentu, waktu sering kali menjadi faktor yang sangat krusial. Keterlambatan implementasi dapat membuat manfaat lingkungan yang diharapkan belum dapat diakui pada periode penilaian berjalan.
Baca Juga:
- 12 Pembangkit EBT Penyuplai REC PLN, Ini Sumber Listrik Hijau di Indonesia
- Tren Penjualan REC 2021–2025 Terus Tumbuh, Industri Jadi Motor Utama Energi Hijau
REC: Klaim Energi Bersih yang Cepat dan Terukur

Di sisi lain, REC menawarkan pendekatan yang jauh lebih sederhana. REC merupakan instrumen yang memungkinkan perusahaan mengklaim penggunaan listrik berbasis energi terbarukan tanpa harus membangun pembangkit sendiri.
Setiap 1 REC merepresentasikan 1 MWh listrik yang dihasilkan dari pembangkit energi terbarukan yang telah terverifikasi. Dengan membeli REC, perusahaan dapat menunjukkan dukungannya terhadap penggunaan energi bersih secara legal dan terdokumentasi.
Dari perspektif keuangan, REC juga lebih mudah dikelola karena masuk dalam skema biaya operasional (OPEX) yang terukur. Perusahaan tidak perlu mengeluarkan investasi besar di awal, tidak perlu mengelola aset pembangkit, dan tidak perlu menanggung risiko teknis maupun biaya pemeliharaan jangka panjang.
Dalam konteks PROPER, REC dapat menjadi solusi yang lebih cepat untuk mendukung strategi dekarbonisasi perusahaan. Ketika target pengurangan emisi dan penggunaan energi terbarukan harus dicapai dalam waktu tertentu, REC memberikan fleksibilitas yang sulit ditandingi oleh pembangunan infrastruktur baru.
Hal ini bukan berarti PLTS atap tidak penting. Bagi banyak perusahaan, kombinasi antara pembangunan pembangkit EBT dan pembelian REC justru menjadi strategi yang optimal. Namun ketika pertimbangannya adalah kecepatan implementasi, efisiensi anggaran, dan kepastian pemenuhan target, REC sering kali menjadi pilihan yang lebih praktis.
Melalui skema ini, perusahaan dapat memperoleh manfaat penggunaan energi terbarukan tanpa harus menunggu proses konstruksi yang panjang maupun mengalokasikan investasi miliaran rupiah untuk pembangunan aset baru.
Dapatkan REC untuk Kebutuhan PROPER Perusahaan

Bagi perusahaan yang ingin memperkuat strategi keberlanjutan sekaligus mendukung pencapaian target PROPER, REC dapat menjadi solusi yang cepat, legal, dan efisien. Pelajari lebih lanjut mengenai layanan REC dari ZONAEBT dan temukan skema yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan melalui zonaebt.com/zona-rec/.