4 Peran GIS dalam Pencegahan Karhutla, dari Pemetaan hingga Deteksi Dini

Peran GIS untuk membantu mencegah kebakaran hutan, foto: ANTARA.
  • GIS membantu pemerintah memetakan wilayah rawan karhutla berdasarkan data spasial.
  • Analisis GIS dapat menggabungkan hotspot, kondisi lahan, dan riwayat kebakaran.
  • Pemanfaatan data geospasial mendukung deteksi dini dan penentuan prioritas penanganan karhutla.

Sobat EBT Heroes! Memasuki puncak musim kemarau yang menurut BMKG berlangsung pada Agustus-September 2026, pemerintah memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah rawan.

Selain kesiapan personel dan peralatan pemadaman, pemerintah juga mengandalkan data dan teknologi untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.

Salah satu teknologi yang berperan dalam upaya tersebut adalah Geographic Information System (GIS) atau Sistem Informasi Geografis. Teknologi ini memungkinkan berbagai data berdasarkan lokasi dikumpulkan, dianalisis, dan ditampilkan dalam bentuk peta sehingga dapat membantu menentukan wilayah yang memiliki risiko karhutla tinggi.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyebut sistem informasi geospasial menjadi salah satu bagian dari strategi pengendalian karhutla 2026. Analisis spasial digunakan bersama pemantauan titik panas (hotspot) dan informasi cuaca untuk mengidentifikasi wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Baca Juga:



Mengapa GIS Penting untuk Pencegahan Karhutla?

Karhutla tidak terjadi secara merata. Kondisi lahan, tutupan vegetasi, cuaca, riwayat kebakaran, hingga keberadaan lahan gambut dapat memengaruhi tingkat kerawanan suatu wilayah.

Di sinilah GIS dapat digunakan untuk melihat hubungan berbagai faktor tersebut berdasarkan lokasi.

Melalui GIS, pemerintah dapat membuat peta kerawanan karhutla dengan menggabungkan sejumlah informasi spasial. Kemenhut, misalnya, menyebut analisis peta rawan karhutla dapat di-overlay dengan data perizinan, kawasan konservasi, area perkebunan, hingga wilayah yang pernah terbakar dalam tiga tahun terakhir.

Dengan menggabungkan berbagai lapisan data tersebut, wilayah yang memiliki beberapa indikator risiko dapat lebih mudah diidentifikasi dan diprioritaskan untuk tindakan pencegahan.

4 Peran GIS dalam Mencegah Karhutla

Ilustrasi hotspot berbasis GIS, foto: Glenbambrick.

1. Memetakan wilayah rawan kebakaran

GIS dapat digunakan untuk mengelompokkan wilayah berdasarkan tingkat risiko kebakaran. Data kondisi lahan, tutupan vegetasi, cuaca, dan riwayat kebakaran dapat dianalisis untuk menghasilkan peta kerawanan.

Peta tersebut membantu pemerintah mengetahui wilayah mana yang membutuhkan pengawasan lebih intensif, terutama ketika memasuki periode musim kemarau.

2. Mengidentifikasi dan memetakan hotspot

Data titik panas atau hotspot yang diperoleh dari pemantauan satelit dapat ditampilkan berdasarkan koordinat geografis. Pemerintah kemudian dapat melihat persebarannya dan menghubungkannya dengan kondisi wilayah di sekitarnya.

Kemenhut menggunakan sistem pemantauan hotspot sebagai salah satu indikator dalam pengendalian karhutla secara nasional. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan lokasi yang membutuhkan verifikasi atau penanganan lebih lanjut.

Namun, hotspot tidak selalu berarti kebakaran hutan. Karena itu, informasi dari satelit tetap perlu dianalisis bersama data lainnya dan diverifikasi di lapangan.

3. Menganalisis riwayat kebakaran

Data kejadian karhutla pada tahun-tahun sebelumnya juga dapat dimasukkan ke dalam GIS. Informasi tersebut membantu menunjukkan pola persebaran kebakaran dan wilayah yang berulang kali mengalami kejadian serupa.

Dengan melihat pola historis, pemerintah dapat menempatkan wilayah tertentu sebagai prioritas dalam patroli dan pencegahan.

4. Menentukan prioritas penanganan

GIS tidak hanya menghasilkan peta, tetapi juga membantu proses pengambilan keputusan. Ketika data risiko, hotspot, kondisi lahan, dan riwayat kebakaran digabungkan, pemerintah dapat menentukan wilayah yang membutuhkan respons lebih cepat.

Alurnya dapat digambarkan secara sederhana: data satelit dan spasial dikumpulkan, wilayah berisiko dipetakan, potensi kebakaran dianalisis, kemudian dilakukan verifikasi dan tindakan di lapangan.

Karhutla 2026 Masih Menjadi Perhatian

Penggunaan teknologi tersebut menjadi semakin penting karena luas karhutla pada 2026 masih cukup signifikan. Kemenhut mencatat luas karhutla nasional pada Januari hingga Juni 2026 mencapai 107.465,47 hektare.

Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas karhutla terbesar, yakni 28.680,47 hektare, disusul Riau sebesar 15.477,95 hektare dan Nusa Tenggara Timur sebesar 10.538,30 hektare.

Besarnya wilayah terdampak menunjukkan bahwa pencegahan karhutla membutuhkan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul. Pemetaan risiko dan deteksi dini menjadi bagian penting untuk mengantisipasi kebakaran sebelum meluas.

GIS Bekerja Bersama Teknologi Lain

Meski memiliki peran penting, GIS bukan satu-satunya teknologi yang digunakan dalam pengendalian karhutla. Sistem ini bekerja dengan berbagai sumber data, mulai dari citra satelit, informasi cuaca, pemantauan hotspot, hingga data kondisi lahan.

Pemerintah juga terus mengembangkan infrastruktur teknologi untuk memperkuat pengendalian karhutla. Salah satunya melalui pengembangan Forest and Land Fire Management Center di Ogan Komering Ilir yang dilakukan Indonesia bersama Korea Selatan.

Dengan semakin banyaknya data yang tersedia, GIS dapat menjadi salah satu alat penting untuk mengubah data tersebut menjadi informasi yang lebih mudah digunakan dalam pengambilan keputusan.

Pada akhirnya, teknologi tidak menggantikan peran petugas di lapangan. GIS justru membantu memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai di mana risiko berada, mengapa wilayah tersebut berisiko, dan area mana yang perlu mendapat prioritas penanganan.

#ZONAEBT #EBTHeroes #GIS

Sumber:

[1] https://www.instagram.com/p/Db3EKhoBZaX/

[2] https://www.kehutanan.go.id/pers/kementerian-kehutanan-perkuat-pengendalian-karhutla-di-kalimantan-selatan-dan-seluruh-wilayah-rawan-hadapi-puncak-musim-kemarau-2026

[3] https://www.kehutanan.go.id/pers/indonesia-korsel-perkuat-dalkarhutla-melalui-pengembangan-forest-and-land-fire-management-centre-di-oki

Bot
ZEBot Asisten Digital ZonaEBT
Hai Kak!
Aku ZEBot, asisten digital ZonaEBT. Ada yang bisa kubantu hari ini?