
- Bauran listrik EBT Indonesia mencapai 16,3% pada 2025 dan melampaui target nasional dalam RUKN sebesar 15,9%
- Total kapasitas pembangkit EBT nasional mencapai 15.630 MW, didominasi PLTA, bioenergi, panas bumi, dan tenaga surya
- Investasi subsektor EBTKE mencapai USD 2,4 miliar pada 2025, menunjukkan transisi energi bersih di Indonesia terus berkembang
Sobat EBT Heroes! Transisi energi di Indonesia mulai menunjukkan perkembangan positif, dengan catatan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk sektor ketenagalistrikan sepanjang 2025 tercatat mencapai 16,3%. Angka ini bahkan melampaui target dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) yang sebesar 15,9%.
Capaian tersebut menjadi salah satu sinyal bahwa pemanfaatan energi bersih di Indonesia terus bergerak naik, meski masih dihadapkan pada berbagai tantangan energi global dan kebutuhan listrik nasional yang terus meningkat.
Kapasitas Pembangkit EBT Capai 15.630 MW

Kementerian ESDM mencatat total kapasitas pembangkit EBT Indonesia pada 2025 mencapai 15.630 MW. Angka ini menjadi penambahan kapasitas terbesar dalam lima tahun terakhir.
Dari total tersebut, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) masih menjadi penyumbang terbesar dengan kapasitas mencapai 7.587 MW. Setelah itu disusul bioenergi sebesar 3.148 MW dan panas bumi sebesar 2.744 MW.
Sementara itu, energi surya juga terus tumbuh dengan kapasitas mencapai 1.494 MW. Selain PLTS, kontribusi energi terbarukan lain berasal dari angin sebesar 152 MW, pemanfaatan sampah 36 MW, hingga gasifikasi batu bara sebesar 450 MW.
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa sumber energi bersih di Indonesia semakin beragam dan tidak lagi hanya bergantung pada satu jenis pembangkit saja.
Baca Juga:
- Realisasi Kapasitas EBT Indonesia 2025 Menurut Jenis Pembangkit, Tembus 15.630 MW
- Target Bauran EBT Indonesia 2030–2060: Dari 19,61% hingga 68,34%
Bauran EBT Naik, Tapi Masih Ada Tantangan
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan penambahan kapasitas EBT sebenarnya cukup besar sepanjang 2025. Namun, persentase bauran EBT tidak naik terlalu tinggi karena masih ada tambahan pembangkit berbasis gas dan batu bara.
“Sebenarnya penambahan EBT ini cukup besar di tahun 2025, tetapi kalau dikonversi menjadi turun persentasenya karena ada penambahan dari gas dan batu bara,” ujar Bahlil.
Ia juga menilai capaian tersebut diraih di tengah kondisi global yang penuh tantangan.
“Tahun 2025 ini adalah tahun yang penuh cobaan dan dinamika,” ungkapnya.
Meski begitu, pemerintah tetap menilai sektor energi menjadi salah satu penopang penting pembangunan nasional dan transisi menuju energi yang lebih bersih.
Sektor Ketenagalistrikan Lampaui Target Nasional
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa khusus sektor ketenagalistrikan, capaian bauran EBT berhasil melampaui target nasional.
“Kalau khusus di ketenagalistrikan, itu tercapai 16,3%. Itu di atas RUKN yang hanya menargetkan 15,9%,” ujar Eniya.
Capaian ini menjadi penting karena sektor listrik merupakan salah satu sektor utama dalam upaya menekan emisi karbon nasional. Semakin besar porsi listrik dari energi terbarukan, semakin kecil ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil.
Investasi EBT Juga Terus Tumbuh
Selain dari sisi pembangkit, investasi sektor EBT dan konservasi energi juga menunjukkan pertumbuhan positif. Sepanjang 2025, realisasi investasi subsektor EBTKE mencapai sekitar USD 2,4 miliar.
Sementara itu, sektor ESDM secara keseluruhan tetap menjadi salah satu penyumbang besar penerimaan negara dengan capaian PNBP mencapai Rp138,37 triliun atau sekitar 108,56% dari target.
Hal ini menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga mulai menjadi bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi dan investasi nasional.
#ZONAEBT #EBTHeroes #Sebarterbarukan
Sumber:
[1] https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/bauran-ebt-di-sektor-listrik-lampaui-target-rukn