
- Perkembangan IGT Kemenhut dari WebGIS hingga SIGAP yang terintegrasi secara nasional
- Penguatan regulasi dan standar geospasial untuk meningkatkan kualitas data kehutanan
- Peran penting informasi geospasial dalam perencanaan dan pengambilan kebijakan berbasis data
Sobat EBT Heroes! Pengelolaan data geospasial menjadi bagian penting dalam perencanaan dan pengambilan kebijakan, khususnya di sektor kehutanan. Di Indonesia, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus mengembangkan Informasi Geospasial Tematik (IGT) agar semakin akurat, terintegrasi, dan relevan dengan kebutuhan pembangunan. Perjalanannya cukup panjang, dimulai dari sistem sederhana hingga kini berbasis platform digital yang lebih modern.

Awal Pengelolaan: Era WebGIS Sebelum 2014
Sebelum tahun 2014, pengelolaan data geospasial di sektor kehutanan masih berada pada tahap awal. Saat itu, melalui Permenhut No P.59/Menhut-II/2008, Badan Planologi Kehutanan ditunjuk sebagai unit yang menangani data spasial. Pemerintah juga sudah mulai memanfaatkan teknologi dengan meluncurkan webgis.dephut.go.id pada tahun 2010.
Namun, pada fase ini belum ada standar IGT yang jelas. Artinya, meskipun data sudah mulai terdigitalisasi, kualitas dan integrasinya masih terbatas. Sistem yang ada lebih berfungsi sebagai wadah awal pengumpulan dan penyebaran informasi, belum menjadi sistem yang benar-benar terstruktur.
Masa Transisi: 2014–2020 Mulai Terstandarisasi
Perubahan signifikan mulai terlihat setelah tahun 2014, seiring penggabungan kementerian menjadi KLHK dan hadirnya Perpres No. 27 Tahun 2014 tentang Jaringan Informasi Geospasial Nasional. Pada periode ini, sistem mulai beralih dari WebGIS menuju geoportal.menlhk.go.id.
Di fase ini, standar IGT mulai diterapkan meskipun belum sepenuhnya optimal. Regulasi mulai diperkuat untuk mendukung tata kelola data yang lebih baik, termasuk mendukung kebijakan satu peta (One Map Policy). Transformasi ini menandai langkah penting menuju integrasi data geospasial yang lebih rapi dan terarah.
Baca Juga:
- Mengenal SIG UGM, Program Studi GIS Pertama di Indonesia
- 7 Prospek Pekerjaan GIS, dari GIS Specialist hingga Remote Sensing Analyst
Transformasi Digital: 2021 hingga Sekarang dengan SIGAP

Perkembangan paling pesat terjadi sejak 2021, ketika sistem bertransformasi menjadi lebih terintegrasi melalui platform SIGAP (Sistem Informasi Geospasial). Perubahan ini tidak hanya soal pergantian platform, tetapi juga peningkatan kualitas pengelolaan data.
Platform SIGAP, yang awalnya berada di sigap.menlhk.go.id, kini berkembang menjadi sigap.kemenhut.go.id. Sistem ini dirancang untuk mendukung integrasi data lintas sektor sekaligus meningkatkan kualitas informasi geospasial tematik. Standar IGT juga semakin diperkuat melalui berbagai regulasi dan penyesuaian kebijakan terbaru.
Selain itu, pengembangan SIGAP juga mencakup peningkatan kualitas data, optimalisasi sistem, serta penyesuaian terhadap kebutuhan kebijakan yang semakin kompleks. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi digital di sektor kehutanan tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada kualitas dan akurasi data.
Penutup
Perjalanan pengembangan Informasi Geospasial Tematik di Kemenhut mencerminkan komitmen pemerintah dalam membangun sistem data yang lebih baik. Dari WebGIS yang sederhana hingga SIGAP yang terintegrasi, setiap tahap menunjukkan peningkatan dalam hal teknologi, regulasi, dan kualitas data.
Ke depan, peran IGT akan semakin penting, terutama dalam mendukung perencanaan kehutanan, pengawasan lingkungan, serta pengambilan kebijakan berbasis data yang lebih akurat dan berkelanjutan.
#ZONAEBT #EBTHeroes #Geospasial #GIS #Kehutanan
Sumber:
[1] ZONAEBT