Potensi Hidrogen Hijau di Indonesia serta Tantangan Pengembangannya

Potensi hidrogen hijau di Indonesia, foto: Antara.
  • Potensi hidrogen hijau Indonesia diperkirakan mencapai 345,6 juta ton per tahun, didukung sumber energi terbarukan seperti PLTS, PLTA, dan PLTP.
  • Tantangan utama pengembangan hidrogen hijau masih berasal dari tingginya biaya produksi dan belum kuatnya permintaan pasar (offtaker).
  • Industri pupuk, baja, serta sektor maritim diproyeksikan menjadi pengguna utama hidrogen hijau untuk mendukung dekarbonisasi dan transisi energi.

Sobat EBT Heroes! Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemain utama dalam pengembangan hidrogen hijau (green hydrogen). Didukung oleh sumber energi terbarukan yang melimpah, mulai dari tenaga surya, air, hingga panas bumi, potensi produksi hidrogen hijau nasional diperkirakan mencapai 345,6 juta ton per tahun.

Meski potensinya sangat besar, pengembangan hidrogen hijau di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi biaya produksi, permintaan pasar, hingga kesiapan ekosistem industri. Lantas, seperti apa prospek dan hambatan pengembangan hidrogen hijau di Indonesia?

Potensi Hidrogen Hijau Indonesia Sangat Besar

Potensi besar energi hidrogen untuk Indonesia, foto: CNBC.

Berdasarkan kajian Institute for Essential Services Reform (IESR), Indonesia memiliki potensi memproduksi hidrogen hijau hingga 345,6 juta ton per tahun dengan memanfaatkan berbagai sumber energi baru terbarukan (EBT).

Potensi tersebut berasal dari keunggulan sumber daya alam Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah. Energi surya, tenaga air, dan panas bumi dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan hidrogen melalui proses elektrolisis, yaitu pemisahan molekul air menggunakan listrik dari sumber energi bersih.

Besarnya potensi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan energi domestik, tetapi juga menjadi pemasok hidrogen hijau di pasar internasional seiring meningkatnya permintaan energi rendah karbon.

Biaya Produksi Masih Menjadi Tantangan Utama

Biaya produksi masih menjadi kendala pengembangan hidrogen, foto: CNBC.

Di balik potensi yang besar, tantangan terbesar pengembangan hidrogen hijau di Indonesia masih terletak pada aspek keekonomian.

IESR mencatat bahwa biaya produksi hidrogen hijau di Indonesia saat ini masih berada di kisaran US$12 per kilogram. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan harga yang dinilai kompetitif di pasar global, yakni sekitar US$4–6 per kilogram.

Dengan biaya produksi yang masih tinggi, banyak proyek hidrogen hijau dinilai belum cukup menarik secara komersial.

Meski demikian, biaya produksi berbeda-beda tergantung sumber listrik yang digunakan. Hidrogen hijau yang diproduksi menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berpotensi menghasilkan biaya paling rendah. Sementara itu, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dinilai mampu menghasilkan harga yang lebih stabil karena mampu beroperasi sepanjang waktu.

Baca Juga:



Permintaan Pasar Menjadi Faktor Penentu

Selain biaya produksi, keberhasilan pengembangan hidrogen hijau juga sangat bergantung pada adanya permintaan atau offtaker.

Potensi produksi yang besar tidak akan berkembang menjadi proyek nyata apabila belum tersedia pasar yang siap menyerap hidrogen hijau dalam jumlah besar.

Dalam skenario paling optimistis, Indonesia diperkirakan mampu memanfaatkan sekitar 37,3 juta ton hidrogen hijau per tahun. Permintaan tersebut diproyeksikan berasal dari berbagai sektor industri yang sulit didekarbonisasi.

IESR mengidentifikasi sedikitnya 14 wilayah yang memiliki potensi permintaan tinggi terhadap hidrogen hijau. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Jawa Barat untuk industri baja, keramik, dan semen.
  • Kalimantan Timur sebagai pusat industri pupuk.
  • Aceh dan Sulawesi Selatan yang memiliki potensi pengembangan kawasan hidrogen.

Pengembangan kawasan Hydrogen Hub Potential Zones juga dinilai mampu menurunkan biaya produksi sekitar US$0,5–1,5 per kilogram melalui pembangunan infrastruktur yang terintegrasi.

Industri Apa Saja yang Cocok Menggunakan Hidrogen Hijau?

Tidak semua sektor membutuhkan hidrogen hijau. Teknologi ini lebih tepat digunakan pada sektor yang sulit melakukan elektrifikasi atau dikenal sebagai hard-to-abate sectors.

Beberapa sektor yang diproyeksikan menjadi pengguna utama hidrogen hijau antara lain:

1. Industri Pupuk

Sektor pupuk telah lama menggunakan hidrogen sebagai bahan baku. Penggunaan hidrogen hijau dapat menggantikan hidrogen berbasis gas alam sehingga emisi karbon dapat ditekan secara signifikan.

2. Industri Baja

Hidrogen hijau dapat dimanfaatkan pada proses Direct Reduced Iron (DRI) sebagai pengganti teknologi Blast Furnace yang menghasilkan emisi karbon tinggi.

3. Sektor Maritim dan Logistik

Transportasi laut menjadi salah satu sektor yang diperkirakan membutuhkan hidrogen hijau untuk memenuhi tuntutan dekarbonisasi global, termasuk regulasi dari International Maritime Organization (IMO) dan kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa.

Hidrogen Hijau Berpeluang Mendukung Transisi Energi Indonesia

Pengembangan hidrogen hijau diperkirakan akan menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan transisi energi Indonesia. Meski belum menjadi solusi untuk seluruh sektor, hidrogen hijau memiliki peran strategis dalam mengurangi emisi pada industri-industri yang sulit dialihkan ke listrik secara langsung.

Agar potensinya dapat diwujudkan, diperlukan berbagai langkah pendukung, mulai dari penurunan biaya produksi, pembangunan infrastruktur, penyediaan pasar atau offtaker, hingga kebijakan yang mampu mendorong investasi.

Dengan dukungan sumber energi terbarukan yang melimpah dan ekosistem industri yang terus berkembang, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat produksi hidrogen hijau di kawasan Asia sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di masa depan.

#ZONAEBT #EBTHeroes #Sebarterbarukan

Sumber:

[1] https://lestari.kompas.com/read/2026/03/12/171800586/potensi-hidrogen-hijau-di-indonesia-capai-345-6-juta-ton-per-tahun-apa

Bot
ZEBot Asisten Digital ZonaEBT
Hai Kak!
Aku ZEBot, asisten digital ZonaEBT. Ada yang bisa kubantu hari ini?