Pertamina dan Chevron, Kembangkan Teknologi Rendah Karbon

  • Chevron dan Pertamina mencanangkan kerja samanya untuk mempertimbangkan teknologi panas bumi baru (novel geothermal).
  • Kolaborasi komprehensif antara Chevron dan Pertamina ini merupakan bagian dari upaya kedua perusahaan untuk memenuhi komitmen target net zero emission Pemerintah Indonesia pada tahun 2060.
  • Indonesia yang merupakan negara kedua terbesar dengan memiliki kapasitas terpasang panas bumi telah mengembangkan geothermal sejak tahun 1974.

Pertamina dan Chevron, melalui anak perusahannya, Chevron New Ventures Pte, menjalin kerja sama untuk menggarap potensi peluang bisnis rendah karbon di Indonesia pada Kamis (12/05/22).

Chevron dan Pertamina mencanangkan kerja samanya untuk mempertimbangkan teknologi panas bumi baru (novel geothermal); penyeimbangan karbon (carbon offsets) melalui solusi berbasis alam; penangkapan, pemanfaatan dan penyimpanan karbon (carbon capture, utilization, dan storage/CCUS); serta pengembangan, produksi, penyimpanan, dan transportasi hydrogen berbasis rendah karbon (lower carbon hydrogen).

Baca Juga



Kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Washington, DC yang dihadiri oleh Executive Vice President Business Development Chevron Jay Pryor, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI Luhut Binsar Pandjaitan dan Investasi, serta Menteri Investasi/Kepala BKPM RI Bahlil Lahadalia.

“Kami sangat antusias dalam membangun sejarah Chevron hingga hampir 100 tahun di Indonesia. MoU ini menunjukkan komitmen Chevron dan Pertamina untuk terus mengidentifikasi peluang rendah karbon melalui kolaborasi dan kemitraan antara Chevron, perusahaan energi nasional, dan pemerintah yang masing-masing memiliki kepentingan bersama dalam mendorong transisi energi nasional,” papar Jeff Gustavson, Presiden Chevron New Energies.

Gebrakan Untuk Memenuhi Target Nol Emisi

Kolaborasi komprehensif antara Chevron dan Pertamina ini merupakan bagian dari upaya kedua perusahaan untuk memenuhi komitmen target net zero emission Pemerintah Indonesia pada tahun 2060. Selain itu, Pertamina berkomitmen untuk meningkatkan bauran energi terbarukan dari 9,2 persen pada tahun 2019 menjadi 17,7 persen di tahun 2030.

“Pertamina, sebagai BUMN energi terbesar di Indonesia, terus berkomitmen untuk mempercepat transisi energi sesuai dengan target pemerintah. Kemitraan ini merupakan langkah strategis bagi Pertamina dan Chevron untuk saling melengkapi kekuatan masing-masing, serta mengembangkan proyek dan solusi energi rendah karbon untuk mendorong kemandirian dan ketahanan energi dalam negeri,” jelas Nicke Widyawati, Direktur Utama Pertamina.

Indonesia yang merupakan negara kedua terbesar dengan memiliki kapasitas terpasang panas bumi telah mengembangkan geothermal sejak tahun 1974.

Baca Juga



Lebih lanjut, melalui Subholding Power & NRE, Pertamina memiliki total kapasitas terpasang Geothermal mencapai 1.877 MW yang berasal dari 13 area kerja Geothermal, di mana 672 MW berasal dari area kerja yang dioperasikan sendiri dan 1.205 merupakan kontrak operasi bersama (joint operation contract/JOC).

Pemerintah Republik Indonesia sendiri sudah memiliki peta jalan atau roadmap transisi energi yang tertuang dalam Grand Strategy Energi Nasional. Dalam peta jalan tersebut, penggunaan energi terbarukan ditargetkan mencapai 23 persen pada tahun 2025.

Di samping itu, pemerintah pun sangat menyadari betapa pentingnya pendekatan yang bersifat kolaboratif untuk mencapai tujuan rendah karbon untuk masa depan Indonesia.

Editor: Riana Nurhasanah

Referensi:

[1] “Chevron dan Pertamina Umumkan Kerja Sama dalam Bisnis Rendah Karbon”

[2] “Pertamina dan Chevron Umumkan Kerja Sama Bisnis di Sektor Panas Bumi”

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.