
- Mengenal BESS dan perannya dalam menjaga stabilitas energi terbarukan seperti PLTS dan PLTB
- Tren global BESS yang semakin murah dan mendorong adopsi di berbagai negara
- Peluang pengembangan BESS di Indonesia untuk mendukung target transisi energi nasional
Sobat EBT Heroes! Di tengah percepatan transisi energi, satu tantangan besar yang sering muncul adalah ketidakstabilan pasokan dari energi terbarukan seperti surya dan angin. Produksinya bergantung pada cuaca, sehingga tidak selalu sejalan dengan kebutuhan listrik. Di sinilah peran Battery Energy Storage System (BESS) menjadi sangat penting.
BESS memungkinkan kelebihan energi disimpan saat produksi tinggi, lalu digunakan kembali ketika kebutuhan meningkat. Dengan cara ini, sistem kelistrikan menjadi lebih stabil, efisien, dan andal.
Apa Itu BESS dan Kenapa Penting?

BESS adalah sistem penyimpanan energi berbasis baterai yang berfungsi menyimpan listrik untuk digunakan di waktu berbeda. Teknologi ini sangat krusial dalam sistem energi modern, terutama ketika porsi energi terbarukan semakin besar.
Tanpa BESS, integrasi energi seperti PLTS dan PLTB dalam jumlah besar berisiko mengganggu stabilitas jaringan, bahkan berpotensi menyebabkan pemadaman. Sebaliknya, dengan BESS, energi bisa dikelola lebih fleksibel—disimpan saat berlebih dan digunakan saat dibutuhkan.
Dalam skala kecil, BESS juga bisa digunakan di rumah, gedung, atau industri sebagai bagian dari distributed energy resources (DER). Sistem ini bahkan dapat merespons kebutuhan listrik secara otomatis melalui mekanisme demand side management (DSM).
Baca Juga:
- Apa Itu Renewable Energy Engineering? Ini Peluang Kerja dan Perannya di Transisi Energi
- Project InnerSpace: Potensi Panas Bumi Indonesia 2.160 GW, Bisa Penuhi 90% Kebutuhan Panas Industri
Tren Global: BESS Semakin Murah dan Masif

Perkembangan BESS di dunia menunjukkan tren yang sangat positif. Harga baterai global turun hampir 30% pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan dalam satu dekade terakhir, harga paket baterai telah turun hingga 93%.
Saat ini, biaya sistem BESS berada di kisaran USD 165/kWh, yang mendorong peningkatan kapasitas global hingga 169 GWh per tahun. Penurunan harga ini dipicu oleh kelebihan kapasitas produksi baterai lithium-ion yang mencapai 2,5 kali dari permintaan.
Contoh implementasi nyata juga sudah terlihat di berbagai negara. Di Rwanda, proyek Bugesera menggabungkan PLTS 60 MW dengan BESS 60 MWh. Sementara di Mesir, sistem baterai 300 MWh terhubung dengan pembangkit surya 500 MW. Ini menunjukkan bahwa BESS bukan lagi teknologi tambahan, tetapi sudah menjadi bagian utama dalam sistem energi modern.
Peluang Besar BESS di Indonesia
Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan BESS. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, ditargetkan pengembangan BESS hingga 4,3 GW.
Tidak hanya itu, rencana besar pembangunan energi surya 100 GW juga membuka peluang integrasi BESS hingga 320 GWh. Kombinasi ini akan menjadi tulang punggung sistem energi masa depan, terutama untuk mendukung listrik berbasis desa dan wilayah terpencil.
Dengan harga baterai yang semakin terjangkau, Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini untuk:
- Mempercepat pembangunan proyek BESS
- Mengembangkan industri pendukung seperti manufaktur dan EPC
- Mendorong adopsi di sektor rumah tangga dan industri
Kombinasi PLTS dan BESS bahkan dinilai bisa menghasilkan listrik yang kompetitif dibandingkan sumber konvensional.
Peran BESS dalam Transisi Energi
Lebih dari sekadar penyimpan energi, BESS kini berperan aktif dalam sistem kelistrikan. Dengan dukungan teknologi seperti energy management system (EMS) dan battery management system (BMS), BESS dapat mengatur pengisian dan penggunaan energi secara otomatis.
Fungsi BESS pun semakin luas, mulai dari:
- Menjaga frekuensi listrik tetap stabil
- Menyediakan cadangan daya
- Mengurangi beban puncak
- Mendukung integrasi energi terbarukan skala besar
Karena itu, BESS sebaiknya sudah direncanakan sejak awal dalam pembangunan sistem energi, bukan hanya sebagai tambahan.
BESS menjadi salah satu teknologi kunci dalam transisi energi, termasuk di Indonesia. Dengan potensi besar, harga yang semakin terjangkau, serta dukungan kebijakan, BESS bisa mempercepat peralihan dari energi fosil menuju energi bersih.
Ke depan, kombinasi energi surya dan BESS bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan utama untuk menciptakan sistem energi yang andal, efisien, dan berkelanjutan.
#ZONAEBT #EBTHeroes #Sebarterbarukan #Energi
Sumber: