Menelusuri Istilah dan Peristiwa Jejak Karbon di Masyarakat

Ilustrasi Jejak Karbon atau Carbon Footprint. Sumber: https://pixabay.com/id/illustrations/jejak-karbon-emisi-karbon-6855793/

  • Mengenal pengertian atau definisi dari jejak karbon (carbon footprint) beserta macam gas emisi keluarannya.
  • Kegiatan-kegiatan yang dapat menjadi penyebab dari jejak karbon dan upaya mengatasinya.
  • Dilema dalam masyarakat dalam menyikapi upaya pengurangan jejak karbon serta peran pemerintah.

Mengetahui Apa Itu Jejak Karbon

Dewasa ini pendidikan mengenai keberlanjutan lingkungan dan segala tindakan preventif untuk mengurangi kerusakan pada alam semakin berkembang. Salah satu topik yang menjadi pembahasan adalah jejak karbon. Mungkin bagi sebagian orang masih awam mengenal istilah jejak karbon. Tidak dapat dipungkiri walaupun saat ini penyebarluasan wawasan dan gerakan melindungi bumi dari kerusakan alam hingga perubahan iklim semakin sering digunakan namun ada juga beberapa masyarakat yang masih belum mengetahui istilah-istilahnya, salah satunya adalah jejak karbon.

Pada pembahasan pertama pada artikel kali ini adalah mengenai pengertian jejak karbon atau juga dikenal sebagai carbon footprint. Istilah jejak karbon merupakan jumlah karbon atau gas emisi rumah kaca yang dihasilkan dari beberapa kegiatan yang dilakukan oleh individu, masyarakat, organisasi atau produk dalam kurun waktu tertentu. Gas emisi yang dihasilkan tersebut akan mengakibatkan berbagai dampak negatif bagi kehidupan di bumi. Biasanya gas emisi ini diukur dalam satuan ton karbon dioksida atau (ton CO2e). Tidak hanya itu, emisi gas rumah kaca juga terdiri dari karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen oksida (NOx) dan lainnya.

Baca Juga:



4 Aktivitas Penghasil Jejak Karbon

1. Deforestasi

Potret Kegiatan Deforestasi Hutan, sumber: https://pixabay.com/id/photos/pohon-tebangan-kayu-gergaji-hutan-4361530/

Apa maksud dari istilah deforestasi? Dikutip oleh zonaebt.com dari web resmi lindungihutan.com memberikan definisi dari deforestasi (secara kuantitatif) yaitu pengurangan tutupan tajuk pohon menjadi kurang dari ambang minimum sebesar 10% untuk jangka panjang dengan tinggi pohon minimum 5 meter pada areal seluas minimum 0,5 ha.

Sederhananya, dapat kita artikan sebagai perubahan wilayah yang tadinya berhutan menjadi wilayah tidak berhutan atau juga pengurangan dan penebangan pohon di wilayah hutan. Salah satu alasan adanya deforestasi ini adalah pembukaan hutan untuk kepentingan komersial atau ekonomi. Salah satunya terjadi di Indonesia, kita bisa melihat banyak kasus dimana kawasan hutan dibuka untuk kepentingan ekonomi dan investasi, merubah fungsi hutan. Ada beberapa dampak negatif yang dihasilkan dari kegiatan ini salah satunya adalah mengurangi emisi karbon melalui pohon.

2. Penggunaan Transportasi dengan Bahan Bakar Fosil

Foto Kendaraan Berbahan Bahan Bakar Fosil, sumber: https://pixabay.com/id/photos/lalu-lintas-jalan-kendaraan-mobil-4522805/

Tidak dipungkiri bahwa kendaraan merupakan salah satu alat pendukung untuk mobilitas masyarakat sehari-hari. Jalanan yang macet karena volume kendaraan tinggi sering kita jumpai di kota-kota besar. Bahkan penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil ini semakin tinggi di daerah-daerah yang tidak berstatus kota besar. Bahan bakar fosil memang masih menjadi sumber energi dengan konsumsi yang paling tinggi di masyarakat. Namun, perlu diketahui jika semakin tinggi konsumsi bahan bakar fosil ini maka jumlah emisi karbon (CO2) yang dihasilkan atau dilepaskan di udara juga semakin besar. Berdasarkan universaleco.id, penggunaan kendaraan atau transportasi berbahan bakar fosil seperti bensin dan solar menyumbang emisi karbon sebesar 11%.

3. Penggunaan Barang Elektronik (Energi Listrik) dan Air

Penggnaan Barang Elektronik, sumber: https://pixabay.com/id/photos/komputer-keyboard-peralatan-313840/

Listrik pada saat ini merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat guna menunjang kegiatan atau aktivitas sehari-hari. Masyarakat pada saat ini memang tidak dapat dielakan sangat membutuhkan listrik bagi efektivitas dan efisiensi pekerjaan sehari-hari. Bahkan di lingkungan masyarakat paling kecil yaitu lingkup keluarga.

Di rumah kita menggunakan listrik untuk menghidupkan lampu, lemari es, televisi bahkan kompor untuk memasak. Energi listrik seperti tidak dapat dipisahkan dari kegiatan masyarakat setiap harinya. Namun, apakah kalian tahu jika penggunaan energi listrik ini menjadi salah satu pengumbang emisi karbon dalam jumlah yang besar? Salah satu penyebabnya adalah sumber energi listrik tersebut yang berasal dari pembakaran bahan fosil.

Ilustrasi Penggunaan Air Untuk Minum, sumber: https://pixabay.com/id/photos/air-kaca-miring-bersih-minum-2315559/

Hal ini juga berlaku pada penggunaan air yang berlebihan. Selain listrik, air juga mempunyai peran penting dalam kegiatan manusia untuk mandi atau membersihkan diri, memasak, minum dan lain sebagainya. Untuk mendapatkan air bersih memerlukan beberapa proses dan tahapan tersebut masih menggunakan energi fosil. Jadi, bijaklah dalam menggunakan air dalam kegiatan sehari-hari.

4. Makanan

Potret Peternakan Sapi, sumber: https://pixabay.com/id/photos/anak-sapi-sapi-peternakan-hewan-362170/

Makan menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi manusia. Tidak hanya manusia namun seluruh makhluk hidup memerlukan makan seperti hewan dan tumbuhan. Namun, kegiatan yang biasa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ini juga tidak terlepas dari penghasil gas emisi khususnya pada makanan yang berpotensi menjadi gunungan sampah Perlu kalian ketahui bahwa segala aktivitas atau kegiatan di balik proses pembuatan makanan, mulai dari ekstraksi bahan baku, proses produksi, distribusi, hingga diolah menjadi makanan untuk kita santap juga meninggalkan jejak karbon.

Salah satunya adalah konsumsi daging sapi yang mana jejak karbon yang dihasilkan dari bahan makanan tersebut cukup tinggi. Hal ini dikarenakan sapi merupakan salah satu penghasil gas emisi yang paling tinggi di dunia. Gas emisi tersebut dihasilkan dari proses pengadaannya dari pengantaran hingga memprosesnya menjadi makanan. Jejak karbon yang dihasilkan dari sapi juga akan semakin tinggi dari bertambahkan jalur distribusi. Apalagi bagi negara-negara yang berlangganan melakukan impor daging sapi dari Amerika, Eropa bahkan Australia.

Baca Juga:



Dilema di Masyarakat serta Peran Pemerintah dalam Penanggulangan Jejak Karbon

Dari daftar kegiatan atau aktivitas yang menghasilkan jejak karbon tersebut memang sebagian besar sangat dekat dengan kita. Contohnya adalah penggunaan listrik dan air, kendaraan berbahan bakar fosil seperti bensin dan solar ataupun mengenai makanan. Bahkan beberapa aktivitas atau kegiatan tersebut berkaitan dengan kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari.

Tentu saja hal ini akan menimbulkan kebimbangan di tengah masyarakat. Di satu sisi mereka masih melakukan kegiatan atau aktivitas yang akan menimbulkan jejak karbon untuk pemenuhan kebutuhan namun disisi lain mereka sadar bahwa beberapa hal tersebut akan berdampak pada lingkungan. Oleh karena itu perlunya beberapa langkah-langkah sederhana sekedar untuk membantu mengurangi jejak karbon tersebut, yakni:

  1. Mengurangi penggunaan dan atau volume kendaraan berbahan bakar fosil dengan menggunakan transportasi umum.
  2. Mengurangi intensitas penggunaan barang-barang elektronik dengan energi listrik yang berasal dari pembakaran fosil dan beralih pada energi alternatif seperti menggunakan panel surya.
  3. Tidak membuang-buang air, oleh karena itu perlu penggunaan sumber air yang efektif dan efisien.
  4. Mengurangi konsumsi daging sapi dan beralih pada alternatif hewani lainnya yang dihasilkan oleh peternak lokal.

Di lain sisi, pemerintah juga memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan fasilitas negara yang mendukung pengurangan jejak karbon. Hal-hal seperti pemenuhan fasilitas transportasi umum yang mudah diakses serta menjamin keamanan serta kenyamanan penggunaannya. Tidak hanya itu, dalam skala lebih besar yaitu pertumbuhan ekonomi dengan membuka lahan hutan, peran pemerintah semakin dibutuhkan.

Apalagi pemerintah memiliki fungsi penting sebagai regulator dan pengawas harusnya dapat dengan bijak untuk mengambil keputusan terkait deforestasi hutan yang akan berakibat tidak hanya secara sosial dan budaya tetapi juga dalam peningkatan gas emisi karena jejak karbon yang akan berakibat pada buruk terhadap lingkungan.

Editor: Savira Oktavia

Referensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 Comment

  1. ⚽벳모아티비⚽ 구글검색에 📺벳모아티비📺 betmoatv.com 벳모아티비는 – 실시간 무료 스포츠 중계 , 고화질스포츠중계, 라이브 스포츠 중계, 해외 스포츠중계 전문 사이트입니다. 🌍스포츠중계는 벳모아티비🌍