Tantangan PSEL di Indonesia: Sampah Basah Jadi Hambatan Utama

Tantangan yang dihadapi dari penyelenggaraan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Indonesia, foto: Warta Kota/Miftahul Munir
  • PSEL di Indonesia menghadapi tantangan besar karena dominasi sampah organik basah yang menurunkan efisiensi energi.
  • Sampah tidak terpilah membuat biaya operasional dan investasi PSEL meningkat akibat proses pengeringan tambahan.
  • Optimalisasi TPS3R dan pemilahan sampah dari hulu menjadi kunci keberhasilan pengolahan sampah menjadi energi listrik.

Sobat EBT Heroes! Pengolahan sampah menjadi energi listrik atau PSEL terus didorong pemerintah sebagai solusi dua masalah sekaligus: krisis sampah dan kebutuhan energi. Melalui pendekatan aglomerasi, pembangunan PSEL dipercepat di berbagai daerah agar pasokan energi tetap terjaga dan pengelolaan sampah menjadi lebih terintegrasi.

Namun di balik potensinya, implementasi PSEL di Indonesia tidak semudah yang dibayangkan. Salah satu tantangan utama justru datang dari karakteristik sampah domestik yang kita hasilkan sehari-hari.

Sampah Basah Jadi Tantangan Utama PSEL

Ilustrasi sampah basah, foto: Istimewa

Berbeda dengan negara lain, sampah di Indonesia didominasi oleh sampah organik dengan kadar air tinggi. Kondisi ini membuat teknologi PSEL, khususnya yang berbasis pembakaran (insinerasi), tidak bisa bekerja secara optimal.

Guru Besar Teknik Kimia UGM, Prof. Wiratni, menjelaskan bahwa kadar air dalam sampah sangat memengaruhi efisiensi energi yang dihasilkan.

“Teknologi PSEL akan berfungsi secara optimal pada kondisi sampah dengan kadar air rendah. Keberadaan air akan mengurangi efisiensi utilisasi panas sehingga jumlah energi listrik per ton sampah akan berkurang,” ujarnya, dikutip dari pemberitaan Universitas Gadjah Mada.

Artinya, semakin basah sampah yang masuk ke fasilitas PSEL, semakin kecil pula listrik yang bisa dihasilkan. Hal ini tentu menjadi tantangan besar bagi Indonesia yang komposisi sampahnya masih didominasi limbah organik.

Baca Juga:



Dampak ke Biaya dan Operasional Proyek

Foto PSEL Benowo di Surabaya, foto: Pemkot Surabaya

Masalah tidak berhenti di efisiensi energi. Sampah basah juga berdampak langsung pada biaya proyek. Jika sampah yang masuk belum terpilah, pengelola PSEL harus melakukan proses tambahan untuk mengurangi kadar air, baik secara mekanis maupun termal.

Menurut Prof. Wiratni, kondisi ini membuat proyek menjadi lebih kompleks dan mahal.

“Jika sampah yang masuk PSEL masih merupakan sampah tidak terpilah dan didominasi oleh sampah organik, maka diperlukan pengeringan terlebih dahulu. Hal ini tentu akan menambah biaya investasi alat, dan biaya operasional,” jelasnya.

Dengan kata lain, tanpa sistem pemilahan yang baik dari awal, efisiensi PSEL tidak hanya turun, tetapi juga membutuhkan energi tambahan untuk mengolah sampah itu sendiri.

Menariknya, kebutuhan sampah dalam jumlah besar untuk PSEL sebenarnya juga dipengaruhi oleh kondisi ini. Sampah yang basah membutuhkan volume lebih banyak untuk menghasilkan energi yang sama dibandingkan sampah kering.

Peran Pemilahan Sampah dan TPS3R

Ilustrasi pemilahan sampah basah dan sampah kering, foto: Istimewa

Untuk mengatasi tantangan tersebut, solusi yang ditawarkan bukan hanya teknologi, tetapi juga perubahan sistem pengelolaan sampah dari hulu. Salah satunya melalui optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).

Menurut Prof. Wiratni, pemilahan sampah di tingkat komunitas menjadi kunci keberhasilan PSEL. Sampah organik bisa diolah secara terpisah, sementara sampah anorganik yang memiliki nilai kalor tinggi dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar PSEL.

“Sampah organik di TPS3R bisa diolah menjadi kompos atau maggot. Komponen anorganiknya dikirim ke PSEL sebagai bahan bakar dengan kualitas tinggi dari sisi nilai kalor pembakarannya,” jelasnya.

Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi PSEL, tetapi juga membuka peluang ekonomi dari pengolahan sampah berbasis komunitas.

Teknologi Saja Tidak Cukup

Pada akhirnya, keberhasilan PSEL tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada perilaku masyarakat. Tanpa kesadaran untuk memilah sampah, sistem yang sudah dibangun berisiko tidak berjalan optimal.

Prof. Wiratni menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mendukung operasional PSEL.

“Kalau hanya membangun PSEL saja, tanpa merancang sense of belonging, maka teknologi apa pun tidak akan bertahan lama,” tegasnya.

Artinya, pembangunan PSEL perlu berjalan beriringan dengan edukasi dan partisipasi masyarakat. Dengan begitu, pengelolaan sampah bisa lebih efektif, dan potensi energi dari sampah dapat dimanfaatkan secara maksimal.

#ZONAEBT #EBTHeroes #Sebarterbarukan #Sampah #PSEL

Sumber:

[1] Didominasi Sampah Organik, Kendala Terbesar Pengolahan Sampah jadi Energi Listrik

Bot
ZEBot Asisten Digital ZonaEBT
Hai Kak!
Aku ZEBot, asisten digital ZonaEBT. Ada yang bisa kubantu hari ini?