Belajar dari Benowo, 34 PLTSa Disiapkan untuk Atasi Sampah dan Energi

PLTSa Benowo di Surabaya, Jawa Timur, foto: listrikindonesia
  • Pemerintah menargetkan pembangunan 34 PLTSa di 34 kota pada 2026–2027 untuk mengatasi sampah sekaligus menghasilkan energi terbarukan.
  • PLTSa Benowo di Surabaya menjadi contoh sukses pengolahan 1.600 ton sampah per hari menjadi listrik dan bahan bakar alternatif.
  • Pengembangan PLTSa mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan di perkotaan.

Sobat EBT Heroes! Pemerintah terus mendorong solusi energi alternatif yang sekaligus menjawab persoalan sampah perkotaan. Salah satu langkah strategis yang kini dipercepat adalah pembangunan 34 Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di berbagai kota di Indonesia pada periode 2026–2027.

Program ini tidak hanya berfokus pada penyediaan energi baru terbarukan (EBT), tetapi juga menjadi solusi pengelolaan sampah yang selama ini menjadi tantangan besar di wilayah perkotaan. Dengan memanfaatkan sampah sebagai sumber energi, Indonesia dapat mengurangi pencemaran sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional secara berkelanjutan.

Salah satu contoh implementasi PLTSa yang sudah berjalan adalah di TPA Benowo. Fasilitas ini mampu mengolah sekitar 1.600 ton sampah per hari dan mengubahnya menjadi energi melalui teknologi pengolahan modern, termasuk pirolisis dan gasifikasi. Hasilnya bahkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar setara diesel.

PLTSa Benowo Jadi Role Model Nasional

PLTSa Benowo di Surabaya, foto: teras.id

PLTSa Benowo dikelola oleh PT Sumber Organik dan menjadi salah satu proyek percontohan pengembangan waste-to-energy di Indonesia. Di lokasi ini, terdapat dua unit PLTSa dengan teknologi berbeda.

Unit pertama adalah PLTSa reguler dengan teknologi landfill gas, yang memanfaatkan gas metana dari timbunan sampah. Pembangkit ini memiliki kapasitas terpasang sebesar 1,65 MW dan telah beroperasi sejak 2015, dengan listrik yang disalurkan ke PLN.

Sementara itu, unit kedua merupakan PLTSa berkapasitas 9 MW yang menggunakan teknologi gasifikasi. Proyek ini termasuk dalam kategori Proyek Strategis Nasional (PSN) dan menjadi bagian dari program percepatan pengembangan energi berbasis sampah yang diatur dalam Perpres 35 Tahun 2018.

Kombinasi dua teknologi ini menunjukkan bahwa sampah tidak lagi sekadar limbah, tetapi dapat diolah menjadi sumber energi yang bernilai ekonomi.

Baca Juga:



Dorong Solusi Ganda: Energi dan Lingkungan

Pengembangan 34 PLTSa di berbagai kota diharapkan mampu memberikan solusi ganda bagi Indonesia. Di satu sisi, masalah penumpukan sampah dapat dikurangi secara signifikan. Di sisi lain, kebutuhan energi dapat dipenuhi dari sumber yang lebih berkelanjutan.

Dengan mencontoh keberhasilan PLTSa Benowo, pemerintah optimistis proyek-proyek serupa dapat direalisasikan di kota lain dengan dukungan teknologi, regulasi, dan kolaborasi lintas sektor.

Ke depan, PLTSa berpotensi menjadi salah satu pilar penting dalam transisi energi Indonesia, terutama untuk kota-kota besar yang memiliki volume sampah tinggi. Jika dikelola dengan baik, sampah bukan lagi masalah, melainkan peluang untuk menghasilkan energi bersih sekaligus menjaga lingkungan.

#ZONAEBT #EBTHeroes #Sebarterbarukan

Sumber:

[1] Yuk Kenalan 2 Teknologi Pengolahan Sampah di PLTSa Benowo

[2] 34 PLTSa DIPERCEPAT, BENOWO JADI MODEL WASTE TO ENERGY!

Bot
ZEBot Asisten Digital ZonaEBT
Hai Kak!
Aku ZEBot, asisten digital ZonaEBT. Ada yang bisa kubantu hari ini?