Sangat Indah! Intip PLTB Tolo Jeneponto Miliki Panorama

PLTB dengan panorama indah
  • Peninjuan terhadap PLTB Tolo Jeneponto yang miliki panorama indah.
  • Perbedaan PLTB Sidrap dengan PLTB Tolo Jeneponto.
  • Rincian isi dari proyek pembangunan PLTB Tolo Jeneponto.

Listrik sudah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat Indonesia, hal tersebut yang mengakibatkan proyek pembangunan pembangkit listrik tersebar. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) menjadi trobosan baru yang ramah lingkungan, salah satunya PLTB Tolo Jeneponto yang dikenal memiliki panorama yang sangat indah.

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tolo Jeneponto berlokasi di Desa Karumpang Loe, Kecamatan Arungkeke, Jeneponto, Sulawesi Selatan. PLTB Tolo Jeneponto dikenal memiliki panorama yang indah tak ada duanya karena di antara ratusan hektare sawah warga setempat.

Baca juga:                              



Menteri ESDM atau Energi dan Sumber Daya Mineral bersama Direktur Pengadaan Strategis 2 PT PLN (Persero) melakukan peninjauan terhadap PLTB Tolo Jeneponto. Dikatakan memiliki daya kapasitas sebesar 72 megawatt.

PLTB yang didirikan di tahun 2016 dan beroperasi secara komersial di tahun 2019, dilihat memiliki potensi lebih karena dapat memproduksi listrik dengan jumlah yang meningkat. Memiliki tantangan besar mengenai harga jual listrik yang lebih terjangkau yang menyebabkan adanya pengembangan PLTB tahap kedua.

Baca juga:



Suasana yang dimiliki PLTB Tolo Jeneponto sangat sejuk, apalagi pada saat musim tumbuh padi, hijaunya membentang menemani putarnya baling-baling PLTB. Miliki turbin sebanyak 20 buah, PLTB Tolo Jeneponto menjadi PLTB yang paling besar kedua setelah PLTB yang terkenal di Sulawesi Selatan, PLTB Sidrap.

Melihat dari segi tarif, disebutkan tidak adanya perbedaan PLTB Tolo Jeneponto dengan PLTB Sidrap. Terlihat hanya PLTB Sidrap dipasang tarif sebesar 12 sen/kWh, sedangkan PLTB Tolo Jeneponto dipasang sebesar 11 sen/kWh.

Tinggi menara pada PLTB Tolo Jeneponto sekitar 135 meter yang menjadi tampak dari kejauhan. Miliki diameter 5.4 meter, yang menyebabkan PLTB Tolo Jeneponto tidak diperbolehkan melihat secara dekat.

Investasi pembangunan PLTB Tolo Jeneponto mencapai angka USD 106,7 juta, karena tiang berasal dari China dan turbinnya berasal Denmark. Dikarenakan, ingin membuktikan bahwa pemerintah berkomitmen mewujudkan bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen di tahun 2025.

Akan tetapi, untuk mencapai bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen, tidak hanya berasal dari dua pembangkit listrik Sidrap dan Tolo Jeneponto saja. Ditargetkan bahwa ada penambahan pembangkit listrik lainnya, seperti halnya PLTA Jatigede dengan kapasitas 110 MW, PLTA Rajamandala dengan kapasitas 47 MW, PLTP Sorik Merapi dengan kapasitas 45 MW, PLTP Muara Laboh dengan kapasitas 80 MW, serta PLTP Mulut Balai dengan kapasitas 55 MW.

Jika pembangkit listrik energi terbarukan berhasil diibangun, maka jumlah keseluruhan pembangkit listrik untuk saat ini sudah mencapai 6711,2 MW atau bisa dikatakan setara dengan 11,76 persen dari 23 persen. Diharapkan bauran energi baru terbarukan sudah mencapai 23 persen sebelum menginjak tahun 2025.

Manfaat dari adanya pembangunan PLTB Tolo Jeneponto ini selain meningkatkan kapasitas kesediaan energi listrik, PLTB juga dapat sebagai upaya pengurangan penggunaan BBM atau Bahan Bakar Minyak dan pengurangan terhadap biaya pokok pembangkit listrik.

Proyek pembangunan pada PLTB Tolo Jeneponto melibatkan pekerja sebnyak 950 orang yang mana terdiri dari tenaga kerja asli masyarakat Indonesia dan sebanyak 3 persen berasal dari tenaga kerja asing. Pemanfaatan tenaga kerja asing hanya menggunakan sebnyak 27 orang selama kontruksi proyek. Pada saat pengoperasian, tenaga kerja asing membutuhkan 1 orang saja.

Referensi:

Mengunjungi PLTB Tolo Jeneponto, Terbesar Kedua di Indonesia

PLTB Tolo Sukses Beroperasi Komersial, Tahap II Siap Dikembangkan

Pembangkit Listrik Angin Jeneponto Selesai November 2018

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.