Ancaman Panas Mendidih yang Terjadi di Indonesia

Ancaman Panas Mendidih yang Terjadi di Indonesia zonaebt.com
  • Cuaca panas disebabkan oleh fenomena El Nino.
  • Ada 7 daerah di Indonesia yang paling terdampak oleh cuaca panas mendidih.
  • Langkah apa yang bisa kita lakukan?

Sobat EBT Heroes, akhir-akhir ini cuaca terasa lebih panas dari biasanya bukan? Hal ini terjadi karena ada ancaman cuaca panas mendidih di Indonesia. Lantas apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi, ya?

Warga Indonesia sudah berbulan-bulan merasakan cuaca ekstrem. Hujan tak kunjung turun secara natural, namun beberapa kali sempat mengguyur wilayah Jabodetabek lantaran modifikasi yang dilakukan BMKG.

Fenomena ini disebabkan oleh El Nino, yakni fenomena anomali kenaikan suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian Tengah dan Timur. Akibatnya, ada pergeseran potensi pertumbuhan awan dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudera Pasifik Tengah dan Timur.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena iklim El Nino akan memicu cuaca panas ekstrem di Indonesia. Puncaknya ada di periode Agustus hingga Oktober 2023 dan terus berlanjut hingga awal 2024. Daerah yang diperkirakan paling terdampak El Nino adalah Sumatra bagian tengah hingga Selatan, Riau bagian Selatan, Jambi, Lampung, Banten, dan Jawa Barat.

Plt. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan bahwa tujuh daerah tersebut diperkirakan tedampak El Nino yang cukup parah. Hujan akan turun sangat jarang sehingga berpotensi menciptakan kondisi kekeringan.

“Jadi, itu daerah yang perlu diwaspadai dari bulan Agustus hingga Oktober 2023, sebagian besar wilayah Indonesia bagian Selatan khatulistiwa, prediksinya akan mengalami hujan yang sangat kecil kecuali spot-spot yang memiliki topografis tinggi,” ujar Ardhasena dalam Focus Group Discussion Antisipasi El Nino di Kantor Kementerian PUPR, Jakarta, dikutip Rabu (27/9/2023).

Ancaman Panas Mendidih yang Terjadi di Indonesia zonaebt.com
Fenomena El Nino. Sumber: unsplash.com

Baca Juga



Mencairnya Es di Puncak Jaya Papua

Ancaman Panas Mendidih yang Terjadi di Indonesia zonaebt.com
Ilustrasi Puncak Jaya Papua. Sumber: unsplash.com

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menemukan bahwa kondisi es di Papua semakin menipis. Hal ini ditunjukkan dalam hasil pemantauan berkala oleh tim BMKG dan PT Freeport Indonesia (PTFI) sejak 2010 hingga 2022. Temuan tersebut pun semakin diperkuat dengan hasil penelitian BMKG bersama The Ohio State University, Amerika Serikat. Koordinator Bidang Litbang Klimatologi BMKG, Donaldi S. Permana, mengatakan bahwa selama 2010 hingga 2015, BMKG menemukan es menipis sekitar 5 meter dengan laju penipisan 1,05 meter per tahun.

Pada November 2015 hingga 2016, penipisan es sangat signifikan hingga 5 meter. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh efek El Nino pada 2015 hingga 2016 yang sangat kuat. Sementara itu, pada awal 2021 foto udara menunjukkan ketebalan es telah berkurang 12,5 meter lagi sejak November 2016 atau setara dengan laju penipisan sekitar 2,5 meter per tahun. “Kami menggunakan pemodelan CORDEX-SEA dan data observasi untuk memprediksi hilangnya tutupan es Papua berdasarkan proyeksi iklim di masa depan,” kata Donaldi dalam tulisannya di The Conversation. “Hasilnya, tutupan es di Puncak Jaya diperkirakan hilang pada 2026,” sambungnya. Namun, laju penipisan gletser bisa lebih parah. Gletser dapat habis total paling cepat pada tahun 2024. Risiko ini semakin besar karena El Nino yang membuat iklim bumi lebih hangat dapat terjadi pada tahun ini.

Mengurangi Penggunaan Batu Bara

Perlahan manusia mulai mengurangi penggunaan batu bara. Itu menjadi langkah yang tepat, sebab batu bara adalah bahan bakar fosil yang menjadi salah satu penghasil emisi karbon terbesar, serta pendorong utama perubahan iklim. Manusia saat ini melepaskan sekitar 15 miliar ton CO2 ke atmosfer setiap tahunnya. Batu bara menyumbang sekitar 40% dari emisi tersebut. Begitu berada di atas sana, CO2 dapat bertahan selama berabad-abad, memerangkap panas matahari dan mengubah iklim di seluruh dunia.

Sayangnya, menurut studi terbaru, langkah manusia untuk berhenti memanfaatkan batu bara sudah terlambat. Sebelumnya, komitmen mengurangi emisi karbon ditetapkan melalui Perjanjian Paris. Tujuan Perjanjian Paris adalah membatasi kenaikan suhu rata-rata global hingga di bawah 2 derajat celcius, dan mengejar upaya untuk mempertahankan kenaikan di bawah 1,5 derajat.

Namun, tanpa perubahan ekstrim, para ilmuwan memperingatkan umat manusia akan menuju pemanasan 2,5 atau 3 derajat. Ini bukan pertama kalinya para peneliti membuat prediksi tersebut. “Semakin banyak negara yang menjanjikan bahwa mereka akan menghapus batu bara dari sistem energi mereka, dan itu positif,” kata rekan penulis studi dan ilmuwan lingkungan Aleh Cherp dari Universitas Lund di Swedia, dikutip dari Science Alert, Kamis (27/4/2023). “Namun sayangnya, komitmen mereka kurang kuat,” tambahnya.

Baca Juga



Menurut Cherp, jika ingin memiliki peluang realistis untuk memenuhi target 2 derajat, penghentian penggunaan batu bara harus dilakukan lebih cepat dan negara-negara yang bergantung pada bahan bakar fosil lain perlu meningkatkan laju transisinya. Untuk mencapai kesimpulan tersebut, para peneliti menganalisis rencana dari 72 negara yang telah berjanji untuk menghentikan penggunaan batu bara pada tahun 2050.

Lalu Hal Apa yang Dapat Kita Lakukan Saat Ini?

Ancaman Panas Mendidih yang Terjadi di Indonesia zonaebt.com
Ilustrasi Cuaca Panas. Sumber: unsplash.com

Seperti yang sebelumnya, telah diberitahukan oleh BMKG melalui seluruh platform media sosialnya bahwa akan terjadi cuaca panas mendidih. Apakah Sobat EBT Heroes sudah tahu mengenai langkah yang perlu dipersiapkan untuk menghadapinya?

Berdasarkan informasi yang disebarluaskan oleh BMKG melalui pesan siarannya di Whatsapp dan media sosial, mereka menginformasikan bahwa, “Untuk menghadapi cuaca panas saat ini, jangan lupa menggunakan tabir surya dan kenakan pakaian yang tidak menyerap panas. Saat ini matahari tepat di garis khatulistiwa dan tutupan awannya sedikit sehingga saat cuaca cerah, radiasi matahari akan masuk tanpa ada penghalang”.

Untuk Sobat EBT Heroes, jika sedang melakukan aktivitas di luar ruangan, jangan lupa menggunakan tabir surya agar kulit tidak terkena paparan cuaca panas mendidih saat ini.

#zonaebt #ebtheroes #sebarterbarukan

Editor: Rewinur Alifianda Hera Umarul

Referensi:

[1] Simak! Bocoran Terbaru BMKG soal ‘Panas Mendidih’ di RI

[2] Puncak Es Papua Akan Punah 2025-2027, Ketebalan Es di Puncak Jaya Tinggal 8 Meter Tahun 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 Comment

  1. Wow, marvelous weblog layout! How long have you been blogging
    for? you make running a blog look easy. The total glance of your site is magnificent,
    as well as the content material! You can see similar here sklep internetowy