Mengenal Agrivoltaik: Perpaduan Pertanian dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Ilustrasi Lahan Pertanian yang dapat dimanfaatkan secara bersamaan dengan PLTS. Sumber: unsplash.com
  • Agrivoltaik merupakan perpaduan antara pertanian dengan pembangkit listrik tenaga surya dengan memanfaatkan lahan kosong.
  • Penerapan sistem agrivoltaik mulai banyak diterapkan terutama pada daerah pertanian.
  • Agrivoltaik sangat cocok digunakan di daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T) seperti di Indonesia.

Apa itu Agrivoltaik?

Ilustrasi Penggunaan Panel Surya pada Lahan Pertanian. Sumber: unsplash.com

Agrivoltaik merupakan perpaduan antara sistem pertanian dengan pembangkit listrik tenaga surya pada suatu lahan. Pemanfaatan ruang kosong di bawah panel surya dapat dimanfaatkan sebagai lahan bercocok tanam atau mengangon ternak. Penggunaan pemanfaatan lahan tersebut disebut dengan agrivoltaik yang merupakan perpaduan antara agrikultur dengan fotovoltaik. 

Perpaduan antara kedua sistem tersebut memanfaatkan lahan pertanian untuk menghasilkan energi surya melalui pemasangan panel surya serta untuk melakukan kegiatan pertanian tanaman. Sistem agrivoltaik diprakarsai oleh Adolf Goetzberger dengan Armin Zastrow di era 80-an.

Adanya inovasi agrivoltaik merupakan sebuah pendekatan inovatif yang dapat membuat pembangkit listrik tenaga surya dengan pertanian dapat saling bekerjasama dan menguntungkan, sehingga dapat memberikan manfaat bagi wilayah dan masyarakat setempat. 

Solar PV dipasang dengan ketinggian yang cukup agar mesin pertanian yang digunakan pada lahan pertanian dapat melintasinya sehingga tanaman dapat berkembang dengan optimal, serta hewan ternak dapat beraktivitas seperti pada umumnya. 

Pada tanaman yang membutuhkan sinar matahari langsung, maka akan dipasang panel surya secara vertikal dengan tipe bifacial. Pemasangan panel surya tersebut diberi jarak sekitar 8 meter agar mesin pertanian dapat tetap berjalan. 

Sistem agrivoltaik cocok digunakan pada daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T) di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan listrik yang dihasilkan dapat digunakan sebagai energi mandiri untuk memenuhi kebutuhan perlatan pertanian dan mengoptimalkan hasil pertanian yang masih terkendala cuaca maupun jaringan. 

Contoh sederhana dari pemanfaatan agrivoltaik adalah penggunaan pompa air tenaga surya (PATS) pada daerah kering yang berfungsi pada siang hari dan berhenti di malam hari. Hasil energi dari panel surya bisa langsung dikonversi untuk menjalankan pompa air. 

Sistem ini sangat cocok diterapkan di Indonesia pada bidang pertaniannya, semakin tahu Indonesia, Sobat Heroes akan mengetahui potensinya yang besar.

Baca Juga :



Pemanfaatan Panel Surya bagi Petani Bawang Merah di Sentolo dan Panjatan 

Ilustrasi Panel Surya di Wilayah Ladang Pertanian. Sumber: unsplash.com

Sentolo dan Panjatan menerima bantuan fasilitas panel surya dari Kementerian Pertanian RI. Pada wilayah Sentolo, Kelurahan Srikayangan mendapatkan fasilitas panel surya untuk keperluan pertanian. 

Panel surya di Srikayangan dikelola dan dimanfaatkan oleh lima petani dari Kelompok Tani Karya Makmur. Panel surya tersebut dimanfaatkan untuk membantu proses penyiraman tanaman hortikultura, utamanya seperti bawang merah dan cabai

Meskipun menggunakan panel surya, para petani tetap mengalami kendala seperti energi yang dihasilkan dari panel surya tidak dapat dimanfaatkan secara optimal ketika siang hari. Hal tersebut dikarenakan puncak produksi energi surya terjadi pada pukul 09.00 – 14.00 dengan indeks produksi matahari rata-rata 3,5 – 4 jam per hari. 

Tanah yang berada di wilayah Srikayangan memiliki karakteristik tidak dapat meresap ketika disiram siang di hari sehingga penggunaan panel surya tidak dapat bekerja dengan maksimal. Para petani mengatasi masalah tersebut dengan membuat bak tampung sehingga pengisian bak tampung dapat dilakukan siang hari.

Baca Juga :



Perpaduan Lahan Pertanian Wenchang dengan Ladang Energi Surya di China 

Ilustrasi Petani di Kota Wenchang yang Memanfaatkan Lahan Kosong untuk Menanam Ubi Jalar. Sumber: koran-jakarta.com

Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang terintegrasi dengan lahan pertanian diluncurkan di Kota Wenchang, Provinsi Hainan, China Selatan untuk mendorong vitalisasi pedesaan. 

Proyek pembangkit listrik tersebut menggunakan lahan seluas sekitar 1.600 mu (sekitar 106,7 hektare) dan penduduk desa setempat telah mampu untuk memanfaatkan energi surya yang melimpah sembari membudidayakan dan bercocok tanam berbagai sayuran, seperti lobak putih dan ubi jalar dengan memanfaatkan lahan di bawah panel surya fotovoltaik. Pemanfaatan ruang tersebut disebut sebagai agrivoltaik, yakni dengan memanfaatkan ruang atau lahan kosong untuk bercocok tanam dibawah panel surya. 

Penggunaan ruang kosong atau lahan kosong sebagai tempat pertanian atau penggembalaan merupakan langkah yang baik karena dapat menghasilkan berbagai manfaat bagi petani yang melakukannya sehingga tidak membuang-buang lahan kosong begitu saja. 

#zonaebt #sebarterbarukan #ebtheroes

Referensi :

[1] All the benefits of agrivoltaics

[2] China padukan ladang energi surya dengan lahan pertanian di Wenchang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 Comment