Manisnya Uap Sisa Panas Bumi PLTPB Lahendong

pabrik Masarang. Memanfaatkan uap panas bumi
Pabrik gula aren Masarang. Sumber: bkppkutim.com
  • Pabrik gula Masarang, mulai dibangun pada tahun 2004. merupakan pabrik gula aren pertama yang menggunakan uap sisa PLTPB.
  • Uap panas bumi didapatkan dari PLTPB Lahendong yang dialirkan ke pabrik gula aren secara gratis.
  • Penggunaan uap panas bumi memperoleh banyak keuntungan. Kualitas gula meningkat, lebih ramah lingkungan, serta perekonomian petani lokal meningkat.

Menjadi negara yang dilalui cincin api pasifik dan dikepung oleh aktivitas gunung berapi tidak selalu berarti malapetaka. Kekayaan energi panas bumi dapat menjadi sumber listrik, dan sisa-sisanya dapat dimanfaatkan untuk mendukung perekonomian masyarakat. Selama lebih dari dua dekade, Indonesia telah mengembangkan potensi energi panas bumi untuk memproduksi listrik. 

Pemanfaatan panas bumi dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu pemanfaatan tidak langsung dan pemanfaatan langsung. Pemanfaatan tidak langsung mencakup penggunaan energi panas bumi untuk pembangkit listrik, dikenal sebagai Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTPB), sementara pemanfaatan langsung meliputi penggunaan air panas bumi untuk keperluan seperti pemandian atau kegiatan pariwisata.

Namun, pemanfaatan langsung panas bumi tidak hanya terbatas pada penggunaan air panas alam, seiring dengan perkembangannya, saat ini energi panas bumi tidak hanya digunakan untuk pembangkit listrik, tetapi juga untuk keperluan pengolahan dalam industri makanan. Contohnya, di daerah Lahendong, uap sisa panas bumi digunakan sebagai sumber energi dalam proses pengolahan gula aren di Pabrik Gula Aren Masarang, yang terletak di Kota Tomohon, Sulawesi Utara.

Seperti yang telah diketahui, Lahendong memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) yang dioperasikan oleh PT. Pertamina Geothermal Energy (PGE), sebuah anak perusahaan dari PT. Pertamina (Persero). Produksi listrik dari Lapangan Panasbumi Lahendong telah dimulai sejak tahun 2001. Di sisi lain, di kawasan Lahendong pun tumbuh subur pohon aren yang dimanfaatkan warga setempat untuk memproduksi gula. Usaha ini merupakan usaha turun temurun warga Lahendong. 

Pabrik pengolahan gula aren Masarang mulai dibangun pada tahun 2004. Menurut Ketua Yayasan Masarang, Willie Smith, panas bumi digunakan untuk semua tahapan dalam proses pengolahan gula aren. Uap yang dihasilkan dari energi panas bumi diperoleh secara gratis dari PT Pertamina Geothermal Energy.

Baca Juga



Efisiensi Waktu Meningkat

Proses memasak nira secara tradisional. Sumber: antaranews.com

Direktur Gunung Hijau Masarang Aulia Reinazha Akbar mengatakan perbedaan produksi secara tradisional dan menggunakan panas bumi ada pada waktu proses produksinya. Dilansir dari laman idx channel, Aulia mengatakan Kalau secara tradisional harus mencari kayu bakarnya dulu, waktu yang diperlukan untuk memasak dengan kayu bakar sekitar 1-2 jam. Sementara jika menggunakan panas bumi, waktu yang diperlukan untuk memanaskan nira hanya 1 jam, cukup hanya sampai pasturisasi. 

Proses pemasakkan nira di pabrik Masarang. Sumber: financedetik.com

Kualitas Meningkat

Asap yang dihasilkan dari memasak menggunakan kayu bakar juga sangat berbahaya bagi kesehatan. Namun, saat memasak dengan energi panas bumi, produksi asapnya jauh lebih sedikit dan tidak menganggu alam sekitar.  Di samping itu, metode tradisional pengolahan nira aren juga memiliki beberapa kekurangan. Proses tersebut tidak diatur oleh standar kebersihan yang konsisten, menggunakan bahan tambahan dengan kadar yang bervariasi, dan kurang memiliki standar kualitas dan kemasan yang jelas.

Aulia juga memastikan gula semut berwarna cokelat yang sudah jadi dikeringkan lagi di dalam dryer sampai kadar air di bawah 2%. Hal tersebut agar saat diekspor kelembabannya masih terjaga. Saat ini, hasil gula aren telah sukses diekspor ke negara Hongkong, Singapura, Jepang, dan AS.

Baca Juga



Meningkat Perkonomian Petani Lokal

Saat ini, pabrik gula ini mampu memproduksi sekitar 25.000 liter nira per hari, dengan jumlah tenaga pekerja 35 orang. Volume gula aren yang dihasilkan dari nira tersebut mencapai sekitar tiga ton per hari. Para petani lokal mengirimkan nira ke pabrik melalui koordinator kelompok tani, dan perusahaan membeli nira tersebut dengan harga Rp 1.500 per liter.

Koordinator petani aren Desa Gayawung, Tomohon, Roli Muningka, menyatakan bahwa rata-rata setiap petani dapat menghasilkan antara 50 hingga 300 liter nira per hari. Dengan menjual nira melalui pabrik, pendapatan mereka jauh lebih besar daripada jika mereka harus memasak nira sendiri. Pasalnya, harga nira di pasar tradisional sangat murah, hanya sekitar Rp 5.000 per kilogram. Kalau dimasak sendiri, pendapatannya hanya separuh dari kalau dijual di pabrik.

”Saya lebih memilih menjual air nira langsung ke pabrik karena tidak perlu memasak seharian sehingga bisa melakukan pekerjaan lain. Saya juga tidak perlu membeli kayu,” kata salah satu petani nira, Armi.

Karena antusiasme petani yang tinggi, Smith merencanakan untuk mengganti pipa pemasok gas panas bumi dengan pipa berdiameter 10 inci (25,4 sentimeter) agar dapat meningkatkan produksi menjadi 9 ton gula aren per hari. Dia menyatakan harapannya untuk dapat menyerap 100.000 liter nira per hari di masa mendatang. Smits juga merancang untuk mendirikan industri aren berbasis koperasi desa. Setiap desa diharapkan membentuk koperasi untuk mengelola pabrik mini di wilayahnya sendiri. ”Sudah ada beberapa investor yang tertarik membangun pabrik mini ini,” katanya.

Smits menyatakan bahwa pabrik gula aren Masarang yang menggunakan panas bumi adalah yang pertama di dunia. Ini merupakan langkah untuk mengoptimalkan potensi panas bumi yang melimpah di Indonesia.

#zonaEBT #sebarterbarukan #EBTHeroes

Editor: Bellinda Putri Hidayat

Referensi:

[1] Pabrik Gula Aren di Sulut Berhasil Maksimalkan Produksi Berkat Panas Bumi

[2] Mengolah Gula Aren dengan Bantuan Panas Bumi

[3] Di Lahendong, Panasbumi Digunakan untuk Memproduksi Gula

[4] Memanen Gula Aren dari Panas Bumi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 Comment

  1. This entrance is unbelievable. The splendid substance displays the creator’s dedication. I’m overwhelmed and anticipate more such astonishing posts.

  2. Greetings, I do believe your site could be having web browser compatibility problems.

    Whenever I look at your blog in Safari, it looks fine however when opening in IE, it has some overlapping issues.
    I just wanted to give you a quick heads up! Besides that,
    great website!

  3. I’m not sure where you’re getting your info, but good topic.
    I needs to spend some time learning more or understanding more.

    Thanks for magnificent information I was looking for this
    information for my mission.

    Here is my web-site vpn code 2024

  4. Hi, i think that i saw you visited my website thus i came to “return the favor”.I am trying to find things to enhance my website!I suppose its
    ok to use some of your ideas!!

    Feel free to surf to my web page – vpn code 2024

  5. Do you have a spam problem on this website; I also am a
    blogger, and I was wanting to know your situation; many of us have developed some nice
    practices and we are looking to exchange solutions with other folks,
    why not shoot me an email if interested.