PLN: Produksi Hidrogen Hijau Sebagai Upaya Mewujudkan Net Zero Emission

Salah Satu Green Hydrogen Plant Milik PLN yang Berlokasi di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sumber: kabarbumn.com
  • PLN memimpin Indonesia menuju era pemanfaatan hidrogen hijau dengan 21 unit Green Hydrogen Plants, yang mendukung pencapaian target Net Zero Emission tahun 2060
  • Pemerintah dan sektor bisnis perlu berkolaborasi dalam merumuskan regulasi dan strategi untuk menggerakkan pengembangan hidrogen hijau di Indonesia
  • Kerja sama dengan Sembcorp Utilities dan masuknya PLN dalam perdagangan karbon menunjukkan komitmen pada transisi energi bersih dan pencapaian target global nol emisi karbon

Sobat EBT Heroes, tahukah kamu bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mencapai target Net Zero Emission dalam 37 tahun ke depan. Sebagai respons, sektor bisnis secara proaktif perlu mengejar keberlanjutan tersebut dengan berinovasi di berbagai bidang. 

Salah satu sektor yang menjadi fokus dalam upaya tersebut adalah bidang energi, yang diharapkan dapat berkontribusi signifikan dalam menanggulangi krisis lingkungan.

Upaya tersebut melibatkan transisi dari bahan bakar fosil menuju sumber energi terbarukan, dengan hidrogen hijau sebagai sorotan utama. 

Green Hydrogen Plant (GHP) menjadi solusi inovatif, karena menggunakan energi terbarukan seperti tenaga surya, panas bumi, maupun angin untuk menghasilkan hidrogen hijau sebagai alternatif yang ramah lingkungan dalam pembangkit listrik.

Penggunaan hidrogen hijau memiliki potensi besar untuk menggantikan bahan bakar fosil di berbagai sektor, termasuk transportasi, industri, dan pembangkit listrik. 

Pentingnya menjaga jejak karbon selama seluruh proses produksi hidrogen tersebut, membuat sumber energi terbarukan seperti tenaga surya maupun bayu menjadi pilihan yang paling aman.

Bahan bakar hidrogen diantisipasi akan menjadi salah satu kunci di sektor industri dan transportasi. Permintaan hidrogen untuk transportasi bahkan diperkirakan akan melampaui permintaan dari sektor industri, yang mencapai puncaknya pada tahun 2060.

Menghadapi hal tersebut, pemerintah Indonesia diharapkan segera merumuskan peta jalan yang realistis untuk pengembangan hidrogen hijau, termasuk strategi nasional, regulasi, dan standar yang jelas. 

Dokumen-dokumen tersebut akan menjadi panduan bagi pelaku usaha yang hendak berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi hijau.

Rencana pemerintah untuk memanfaatkan green hydrogen hingga 80 persen di Ibu Kota Negara pada tahun 2045, memperlihatkan urgensi dalam pengembangan hidrogen hijau di Indonesia. 

Pemain di sektor industri dalam negeri diharapkan dapat berperan aktif dalam penguasaan teknologi elektroliser hidrogen dan sel bahan bakar, yang mendukung pencapaian tingkat komponen dalam negeri dengan persentase yang tinggi.

Dengan adanya 21 unit Green Hydrogen Plant yang diresmikan oleh PT PLN, Indonesia mampu memproduksi 199 ton hidrogen hijau per tahun. 

Prestasi tersebut menjadikan PLN sebagai pemimpin dalam rantai pasok hidrogen hijau di Asia Tenggara, sekaligus mendukung ambisi pemerintah untuk mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060.

Baca juga:



Potensi Green Hydrogen di Indonesia

Ilustrasi Green Hydrogen (H2) yang Dihasilkan dari Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan. Sumber: worldwildlife.org

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Yudo Dwinanda Priaadi, menyatakan bahwa hidrogen tengah menjadi fokus pengembangan dalam dunia global. Indonesia, dengan potensi hidrogen yang besar, diharapkan dapat menjadi salah satu pemasok hidrogen hijau bagi dunia.

Dengan potensi pembangkit listrik dari EBT sebesar 3.000 GW, yang saat ini baru dimanfaatkan sekitar 12,5 GW, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi perintis dalam pengembangan hidrogen hijau. 

Rencana pemerintah untuk meningkatkan produksi listrik dari sumber energi terbarukan hingga 21 GW, mendukung potensi besar pemanfaatan hidrogen hijau di Indonesia dengan potensi produksi mencapai 1,5 juta ton per tahun dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Disamping itu, permintaan hidrogen di Indonesia, khususnya dari sektor transportasi, diperkirakan mencapai 2,8 juta ton per tahun pada 2045, yang menandakan potensi pasar secara signifikan. 

Penggunaan teknologi hidrogen di sektor otomotif, seperti yang diungkapkan oleh Presiden Direktur PT Toyota Manufacturing Indonesia, Nandi Julyanto, menjadi langkah penting dalam mencapai target Net Zero Emission tahun 2060.

Di mana, untuk mendukung pengembangan tersebut, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak, yaitu antara pemerintah, akademisi, dan sektor industri menjadi sangat krusial, termasuk memberikan insentif kepada pemain dalam sektor industri yang mengembangkan teknologi hidrogen hijau di Indonesia.

Dalam lingkup global, Indonesia ditekan untuk memposisikan diri sebagai pemain utama di pasar hidrogen, mengingat sumber daya alam yang melimpah.

Pentingnya menjalin kemitraan internasional dalam pengembangan hidrogen hijau pun diingatkan oleh seorang peneliti BRIN, Eniya. Di mana, sertifikat energi terbarukan menjadi kunci untuk memudahkan integrasi dalam rantai pasok global.

Perbandingan dengan negara-negara tetangga seperti Australia, yang telah memposisikan diri sebagai eksportir hidrogen, menunjukkan bahwa Indonesia, melalui PLN, telah memproduksi hidrogen hijau dengan harga jual yang kompetitif di pasar internasional. 

Dengan harga yang relatif murah, Indonesia diharapkan dapat mengekspor hidrogen hijau ke negara-negara potensial dengan tingkat permintaan yang tinggi.

Meskipun rantai pasok dan ekosistem hidrogen hijau dalam negeri sudah terbangun di tahap awal, akan tetapi tantangan selanjutnya tetap perlu diperhatikan oleh Pemerintah. 

Melalui penerapan strategi yang terukur, Indonesia memiliki potensi untuk lebih cepat mencapai target emisi nol bersih pada tahun 2060 dan bahkan dapat menjadi hub hidrogen global.

21 Unit Green Hydrogen Plant PLN

Peresmian 21 Unit Green Hydrogen Plant Milik PLN pada tanggal 20 November 2023 di Jakarta. Sumber: wartabangka.id

Beroperasinya 21 unit Green Hydrogen Plant (GHP) di Indonesia, dengan kapasitas produksi hidrogen mencapai 199 ton per tahun, memberikan dorongan signifikan bagi pemanfaatan sumber energi hijau di bumi pertiwi. 

Terobosan tersebut dianggap sebagai langkah jitu yang akan mempermudah perhitungan pemerintah dalam menyediakan sumber energi ramah lingkungan, yang sejalan dengan pencapaian target Net Zero Emission pada tahun 2060 atau bahkan lebih cepat.

Pabrik hidrogen hijau pertama yang diresmikan oleh PLN pada bulan Oktober lalu, berlokasi di PLTGU Muara Karang, Jakarta, dengan kapasitas produksi 51 ton per tahun, telah membuka awal dari era pengembangan hidrogen hijau pertama dalam negeri. 

Green hydrogen, sebagai sumber energi bersih, diproduksi 100 persen dari EBT, sehingga tidak meninggalkan residu atau emisi karbon yang dapat meningkatkan efek gas rumah kaca.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menekankan bahwa GHP merupakan inovasi untuk menjawab tantangan transisi energi, dengan hidrogen yang dapat digunakan sebagai bahan bakar transportasi. 

Hal tersebut membuat penggunaan hidrogen di sektor transportasi, selain menggunakan listrik, menjadi fokus strategis PLN dalam menyediakan energi bersih bagi masyarakat.

GHP besutan PLN Nusantara Power menggunakan sumber energi dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di area PLTGU Muara Karang. 

Selain itu, hidrogen hijau juga berasal dari pembelian Renewable Energy Certificate (REC) dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang. 

Dari total produksi 51 ton per tahun, sebagian besar, yaitu 43 ton, dapat dimanfaatkan untuk mendukung perjalanan 147 mobil dengan jarak 100 km setiap hari.

Dengan beroperasinya 21 unit Green Hydrogen Plant (GHP) per tanggal 20 November lalu, PLN mampu meningkatkan produksi hidrogen dari 51 ton menjadi hampir 199 ton per tahun. 

Hasil produksi green hydrogen tersebut memiliki alokasi penggunaan yang strategis, di mana 75 ton per tahun digunakan untuk kebutuhan operasional pembangkit, terutama dalam pendinginan generator, sementara 124 ton lainnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk sebagai bahan bakar untuk kendaraan.

Dengan asumsi rata-rata konsumsi hidrogen kendaraan sebesar 0,8 kg per 100 kilometer, 124 ton green hydrogen yang dihasilkan mampu mendukung penggunaan 424 mobil per tahun yang masing-masing menempuh jarak 100 kilometer dalam sehari. 

Dengan konversi tersebut, diharapkan dapat terjadi penurunan emisi karbon mencapai 3,72 juta kg CO2 setiap tahun, sekaligus mengurangi impor BBM sebesar 1,55 juta liter per tahun, yang mengubah energi impor menjadi energi domestik.

21 unit GHP milik PLN tersebut tersebar di berbagai lokasi strategis di Indonesia, yang mencakup PLTU Pangkalan Susu, PLTGU Muara Karang, PLTU Suralaya 1-7, PLTU Suralaya 8, PLTGU Cilegon, PLTU Labuhan, PLTU Lontar, dan PLTGU Tanjung Priok.

Selain itu, terdapat pula di PLTU Pelabuhan Ratu, PLTGU Muara Tawar, PLTU Indramayu, PLTGU Tambak Lorok, PLTU Tanjung Jati B, PLTU Rembang, PLTU Tanjung Awar-awar, PLTGU Gresik, PLTG Pemaron, PLTU Paiton, PLTU Grati, PLTU Pacitan, dan PLTU Adipala.

Dengan lokasi yang tersebar ini, PLN menciptakan basis produksi green hydrogen yang berpotensi memberikan kontribusi positif tidak hanya pada skala nasional tetapi juga regional.

Pentingnya pemanfaatan hidrogen hijau tidak hanya terbatas bagi kendaraan, melainkan juga dapat diaplikasikan dalam sektor industri seperti pembuatan baja, produksi beton, dan pembuatan bahan kimia serta pupuk. 

Melalui inisiatif ini, PLN bukan hanya menciptakan GHP, tetapi juga berencana untuk membuat Hydrogen Refueling Station (HRS) atau stasiun pengisian hidrogen, serta mengoperasikan Fuel Cell Generator yang berbahan bakar green hydrogen

Dengan langkah-langkah ini, PLN berharap dapat membuka jalan bagi perkembangan lebih lanjut dalam rantai pasok green hydrogen di Indonesia, yang mendukung upaya percepatan transisi energi dan pencapaian target Net Zero Emission pada tahun 2060.

Baca juga:



Kolaborasi PLN dengan Sembcorp Utilities

PT PLN (Persero) Bekerja Sama dengan Perusahaan Asal Singapura, Sembcorp Utilities Pte. Ltd. untuk Pengembangan Produksi Hidrogen Hijau di Indonesia yang akan Diekspor untuk Memenuhi Kebutuhan Hidrogen Hijau Singapura. Sumber: katadata.co.id

Perusahaan Energi Singapura, Sembcorp Utilities, dan PT PLN (Persero) telah menandatangani perjanjian kerja sama untuk menyelidiki potensi produksi hidrogen ramah lingkungan di Indonesia. 

Proyek tersebut berpotensi menghasilkan hingga 100.000 ton hidrogen setiap tahun dari sumber daya energi terbarukan lokal Indonesia.

Penandatanganan perjanjian tersebut diumumkan pada Singapore International Energy Week 2023, yang dihadiri oleh pejabat berkaitan, termasuk Wong Kim Yin, Group President & CEO Sembcorp Industries, dan Darmawan Prasodjo, Direktur Utama PT PLN. 

Proyek tersebut pun merupakan langkah Indonesia dalam mengembangkan rantai pasok hidrogen berkarbon rendah di wilayah ASEAN, untuk kemudian mengekspor hidrogen ramah lingkungan ke Singapura.

Ekspor hidrogen hijau tersebut akan dilakukan melalui pipa bawah laut, dengan memanfaatkan sumber daya energi terbarukan yang melimpah di Indonesia. 

Eksplorasi ini memiliki tujuan utama untuk memproduksi hidrogen hijau melalui elektrolisis air, yang diharapkan dapat menjadi bahan bakar alternatif netral karbon, sehingga dapat memberikan solusi yang lebih berkelanjutan dibandingkan dengan bahan bakar tradisional.

Kerja sama antara Sembcorp Utilities dengan PT PLN, menunjukkan komitmen konkret keduanya terhadap masa depan berkelanjutan, yang menjadi contoh nyata dalam proyek energi ramah lingkungan. 

Langkah tersebut menandai sebuah upaya signifikan dalam diversifikasi sumber energi, yang memberikan kontribusi positif dalam menghadapi perubahan iklim, dan sejalan dengan upaya global menuju target nol emisi karbon pada tahun 2060. 

Sebab, kerja sama tersebut tidak hanya memberikan manfaat lokal melalui pemanfaatan sumber daya terbarukan di Indonesia, tetapi juga berkontribusi pada skala global untuk mengurangi dampak lingkungan.

Melalui kerja sama ini, Sembcorp Utilities dan PT PLN menunjukkan komitmen terhadap energi berkelanjutan, yang memberikan kesempatan terbukanya peluang bagi pasar baru untuk mengekspor hidrogen hijau.

Kontribusi PLN dalam Bursa Karbon Indonesia

Peluncuran Indonesia Carbon Exchange (IDX Carbon) atau Bursa Karbon Indonesia oleh Presiden Joko Widodo, pada Selasa (26/9), sebagai langkah untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) melalui perdagangan unit karbon. Sumber: progres.id

PT PLN akan melantai di Bursa Karbon Indonesia dengan mendaftarkan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Blok 3 Muara Karang pada 23 Oktober 2023. 

Wakil Presiden Pengembangan Teknologi PT PLN Indonesia Power, Mochamad Soleh, menyatakan bahwa PLN memiliki target menjadi pedagang karbon terbesar di Bursa Karbon Indonesia dengan potensi kredit karbon hampir 1 juta ton. 

Hal tersebut makin menunjukkan kecakapan dan kesadaran berbagai pihak, bahwa semakin tahu Indonesia dalam mengelola aspek lingkungan yang lebih berkelanjutan.

PLTGU Blok 3 Muara Karang telah meraih sertifikat pengurangan emisi gas rumah kaca dari Kementerian LHK dan berhasil menurunkan karbon dioksida setara hampir 1 juta ton pada tahun 2022. 

Pembangkit tersebut menggunakan 100 persen bahan bakar gas yang di regasifikasi dari LNG, yang disuplai melalui Floating Storage and Regasification Unit (FSRU), dengan teknologi gas turbin terbaru dan paling efisien menggunakan metode combine cycle.

PLN secara aktif berupaya menjadi pelaku utama dalam penurunan emisi melalui perdagangan karbon di Indonesia. Melalui langkah ini, diharapkan dapat memberikan dorongan pada program transisi energi nasional, yang semakin menunjukkan komitmen Indonesia terhadap upaya global melawan perubahan iklim. 

Darmawan, Direktur Utama PLN, menyatakan bahwa PLN telah melakukan beberapa proyek percobaan dan berkomitmen dalam memimpin perdagangan karbon di Indonesia. Pencapaian sertifikat penurunan emisi pertama di Indonesia melalui mekanisme internasional menjadi bukti kesungguhan PLN dalam mengambil peran ini.

#zonaebt #sebarterbarukan #ebtheroes

Editor: Nur Wasilatus Sholeha

Referensi:

[1] Indonesia Berpotensi Jadi Perintis Teknologi Hidrogen Hijau

[2] PLN Gaet Perusahaan Energi Singapura Eksplorasi Potensi Hidrogen di RI

[3] Angin Segar dari Hidrogen Hijau Sebagai Batu Loncatan NZE

[4] Gali Sumber Energi Hijau, 199 Ton Hidrogen Muluskan Target Pemerintah

[5] Berkat 21 GHP PLN, Indonesia Kini Mampu Hasilkan 199 Hidrogen Hijau Per Tahun

[6] Pertama di RI, PLN Pertama Kali Produksi Green Hydrogen 100 Persen dari EBT

[7] PLN Melantai di Bursa Karbon 23 Oktober, Andalkan PLTGU Muara Karang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 Comment

  1. Thanks on your marvelous posting! I certainly enjoyed reading
    it, you happen to be a great author. I will be sure to bookmark your blog and definitely
    will come back in the foreseeable future. I want to encourage you to ultimately continue your great writing,
    have a nice weekend!