Hasilkan Banyak Emisi Karbon, Shell Dikecam Penggiat Iklim

Pabrik Shell. zonaebt.com
Pabrik Shell perusahaan yang dikecam karena emisi karbon. Sumber: Bloomberg
  • Kepala eksekutif Shell beranggapan bahwa pengurangan produksi bahan bakar fosil, berpotensi memperburuk krisis biaya hidup.
  • Hal tersebut mengundang kecaman penggiat iklim.
  • Shell mengusahakan hal lain untuk membantu mengurangi emisi karbon di dunia.

Shell, industri minyak dan gas alam yang beroperasi lebih dari 90 negara, tengah menghadapi kritik yang signifikan dari kelompok aktivis iklim akibat tingginya tingkat emisi karbon yang dihasilkan oleh operasional perusahaan. Para pelaku perubahan iklim dengan tegas mengecam pernyataan CEO Shell Wael Sawan yang dianggap “sinis” karena memandang pengurangan produksi minyak dan gas di seluruh dunia akan membawa dampak berbahaya dan tidak bertanggung jawab.

Dalam wawancara, Sawan menyatakan bahwa pengurangan produksi bahan bakar fosil, yang dianggap krusial dalam membatasi kenaikan suhu global, berpotensi memperburuk krisis biaya hidup dengan menghambat pasokan energi global dan meningkatkan biaya tagihan energi. Pernyataan tersebut juga menekankan pandangan Sawan bahwa negara-negara miskin dapat mengalami kesulitan dalam memperoleh pasokan gas jika mereka tidak dapat bersaing di pasar global.

Demonstrasi the Fossil Free London di luar tempat pertemuan pemegang saham tahunan Shell di pusat ExCeL, London. Sumber: Reuters.com

Menurutnya, “Yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab adalah pengurangan produksi minyak dan gas sehingga biaya hidup, seperti yang kita lihat tahun lalu, kembali meningkat”. Pernyataan kontroversial tersebut menyoroti perubahan pendekatan Shell di bawah kepemimpinannya, yang lebih memprioritaskan bahan bakar fosil dan meningkatkan dividen kepada pemegang saham. Bulan lalu, Shell mengumumkan pembatalan rencana untuk mengurangi ekstraksi minyak setiap tahun selama sisa dekade ini. Langkah ini pada akhirnya yang menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk aktivis iklim.

Jamie Peters, Kepala Iklim di Friends of the Earth, menanggapi pernyataan CEO Shell dengan menyatakan bahwa sangat ironis jika perusahaan tersebut menyebut sesuatu yang ‘berbahaya dan tidak bertanggung jawab’. Peters menegaskan bahwa Shell, sebagai pelaku dalam krisis iklim dan peningkatan biaya energi, seakan mengambil keuntungan dari penderitaan masyarakat sambil secara simultan merusak planet ini. Menurut Peters, alasan sinis yang dikemukakan oleh Shell untuk terus bergantung pada pasar bahan bakar fosil adalah akar penyebab dari krisis energi.

Baca juga



Pernyataan ini disampaikan seiring berita tentang bulan Juni yang mencatatkan suhu tertinggi yang pernah tercatat dan gelombang panas yang melanda, menjadikan komentar Shell semakin terlihat tidak sejalan dengan urgensi investasi dalam energi terbarukan yang bersih, murah, dan efisien. Meskipun Shell mengumumkan niatnya untuk menjaga produksi minyak dan gas stabil hingga 2030, langkah Sawan untuk mundur dari komitmen sederhana perusahaan dalam mengatasi perubahan iklim menunjukkan kecenderungan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga bahan bakar fosil yang dipicu oleh perang di Ukraina.

Lonjakan harga energi global setelah invasi Rusia ke Ukraina pada awal tahun lalu memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan laba tahunan Shell yang mencapai dua kali lipat menjadi $40 miliar (617986000000000,0 dibandingkan dengan $19 miliar pada 2021, sehingga mengundang kritik lebih lanjut terhadap perusahaan tersebut.

Alice Harrison, pemimpin kampanye di Global Witness, menilai bahwa setelah mencetak rekor keuntungan sebesar £33 miliar dalam satu tahun, satu-satunya ‘bahaya’ yang akan dihadapi Shell jika mengurangi produksi adalah potensi penurunan laba yang sangat besar. Harrison menilai bahwa keputusan Shell untuk mengakhiri ketergantungan pada bahan bakar fosil dan beralih ke energi ramah lingkungan akan memberikan manfaat bagi planet ini dan memberikan keamanan energi bagi semua orang. Namun, menurutnya, Shell kembali menunjukkan loyalitasnya pada keuntungan yang melampaui kepentingan manusia dan planet bumi.

Illustrasi demonstrasi terhadap Shell. Sumber: rumahberkelanjutan

Meskipun demikian, Shell tidak dapat diabaikan atas upaya signifikan yang telah diambilnya untuk mengurangi dampaknya pada lingkungan melalui peralihan ke sumber energi bersih, terutama melalui investasi besar dalam energi terbarukan. Shell menetapkan target ambisius untuk mencapai bisnis energi net-zero emisi pada tahun 2050, sejalan dengan komitmen global dalam Perjanjian Paris PBB untuk membatasi peningkatan suhu global.

Upaya pengurangan emisi oleh Shell mencakup berbagai aspek, mulai dari mengurangi emisi operasional dan produk energi hingga melakukan penangkapan dan penyimpanan emisi yang tersisa. Selain itu, perusahaan ini berusaha menyediakan lebih banyak sumber energi rendah karbon, termasuk fasilitas pengisian untuk kendaraan listrik, serta mendukung penggunaan teknologi terbarukan. Dalam kolaborasinya dengan pelanggan, terutama dalam sektor-sektor sulit didekarbonisasi, Shell menunjukkan komitmen untuk merespons tantangan perubahan iklim.

Baca juga



Shell merespon dengan menandatangani kredit karbon dan mendorong konsep penyeimbangan sebagai elemen strategis dalam upayanya mencapai net-zero emisi. Kerjasama dengan perusahaan lain dalam bursa karbon menjadi bagian integral dari langkah-langkah ini, termasuk pengembangan teknologi yang lebih ramah lingkungan, penghijauan, reboisasi, konservasi, dan inovasi teknologi berkelanjutan.

Rencana dekarbonisasi Shell menetapkan target yang ambisius, termasuk pengurangan produksi minyak dan gas, serta diversifikasi melalui segmen bisnis baru seperti carbon offset. Investasi sebesar $100 juta per tahun diharapkan dapat menghasilkan sekitar 120 juta kredit karbon per tahun. Meskipun tetap memprioritaskan stabilitas keuangan dan pertumbuhan, Shell juga meningkatkan alokasi dana untuk mengatasi dampak polusi, sejalan dengan fokusnya pada pengurangan jejak karbon.

Dalam menghadapi kritik terhadap tingginya emisi karbon, Shell perlu merefleksikan komitmen nyata terhadap net-zero emisi dan beralih ke energi bersih. Meskipun upaya dekarbonisasi telah dilakukan, kebijakan perusahaan perlu lebih progresif dan sejalan dengan target global. Keselarasan antara pertumbuhan ekonomi dan tanggung jawab lingkungan harus menjadi fokus utama Shell maupun perusahaan lain untuk mencapai masa depan energi yang berkelanjutan.

#zonaebt #sebarterbarukan #ebtheroes

Editor: Tika Sari Safitri

Referensi

[1] Shell boss under fire for saying cutting fossil fuel production is ‘dangerous’

[2] Kadar Emisi Karbon Tinggi, Shell Digugat & Kalah di Pengadilan

[3] Shell Dituntut Kurangi Emisi Karbon hingga 45%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 Comment