ADEXCO 2026: Inovasi Perguruan Tinggi Indonesia Perkuat Ketangguhan Hadapi Bencana

Inovasi Portable Fire Pump dari Universitas Pasundan untuk tanggap bencana kebakaran, foto: BNPB.

JAKARTA, 12 September 2026 – Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan inovasi yang dapat menjawab berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk dalam menghadapi risiko bencana. Hal tersebut tercermin dalam Asia Disaster Management and Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) 2026, yang menjadi wadah bagi akademisi dan mahasiswa untuk memperkenalkan berbagai pengembangan teknologi di bidang kebencanaan.

Sejumlah inovasi yang ditampilkan mencakup sistem peringatan dini, rancangan bangunan tahan gempa, hingga peralatan untuk mendukung penanganan kondisi darurat. Beberapa di antaranya dikembangkan oleh perguruan tinggi Indonesia, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Pasundan (Unpas).

UGM Hadirkan Sistem Peringatan Dini Longsor dan Banjir

Inovasi Deteksi Dini Longsor yang dikembangkan oleh UGM, foto: BNPB.

UGM memperkenalkan dua sistem peringatan dini, yakni Deteksi Dini Longsor (DENILO) untuk mengantisipasi tanah longsor dan Deteksi Dini Banjir (DENIJI) untuk memberikan peringatan terhadap potensi banjir. DENILO dikembangkan sejak 2021, sedangkan DENIJI mulai dikembangkan pada 2023.

Kedua sistem tersebut dirancang untuk memberikan waktu yang lebih awal bagi masyarakat agar dapat mengambil langkah penyelamatan ketika potensi bencana terdeteksi.

DENILO dan DENIJI bekerja secara real-time dan terintegrasi. Ketika sistem mendeteksi pergerakan tanah, misalnya, peringatan dapat langsung mengaktifkan sirine dan mengirimkan data dalam hitungan detik ke dasbor, Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Pusdalops BPBD), maupun masyarakat.

Pusdalops juga dapat menyampaikan pengumuman secara langsung melalui sistem sehingga informasi yang diterima masyarakat tidak terbatas pada pesan rekaman yang telah disiapkan sebelumnya.

Untuk menjaga kelancaran distribusi informasi, sistem tersebut menggunakan dua jalur komunikasi, yaitu jaringan selular GSM dan internet. Apabila koneksi internet mengalami gangguan, SMS melalui jaringan GSM dapat digunakan sebagai alternatif. Data kejadian juga disimpan di server sehingga dapat dimanfaatkan untuk riset dan pembelajaran.

Aspek inklusivitas turut diperhatikan dalam pengembangan DENILO dan DENIJI. Selain sirine sebagai peringatan suara, DENILO dilengkapi lampu sorot sebagai penanda visual yang dapat membantu masyarakat dengan keterbatasan pendengaran. Informasi peringatan juga dapat disampaikan melalui WhatsApp sehingga masyarakat memiliki beberapa pilihan akses untuk memperoleh informasi.

Hingga saat ini, DENILO telah dipasang di sekitar 75 titik, sedangkan DENIJI berada di empat titik, terutama di wilayah Jawa Tengah. Sistem tersebut ditempatkan di sekitar permukiman warga dan kawasan yang telah dipetakan memiliki risiko longsor. Pemasangannya juga disertai edukasi agar masyarakat memahami indikator peringatan dan dapat mengambil tindakan yang sesuai.

Selain mengembangkan perangkat, UGM menjalankan program Sekolah Early Warning System (EWS) untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai sistem peringatan dini. Program yang berlangsung selama empat hari tersebut ditujukan, termasuk bagi masyarakat pemula di daerah, agar mampu memahami sekaligus menerapkan prinsip EWS.

Pembelajaran mencakup tahap understand yang membahas dasar kebencanaan, prinsip kerja EWS, pengolahan dan pembacaan data, serta pelaporan EWS. Peserta kemudian mempelajari tahap operate, maintain and adapt, yang meliputi pengenalan dan demonstrasi EWS, pemeliharaan perangkat, pemanfaatan kearifan lokal, serta kesiapsiagaan dan kontingensi berbasis EWS.

Tahap selanjutnya adalah experience melalui pengamatan langsung terhadap EWS di lapangan. Program ditutup dengan tahap build and prepare, berupa reviu pembelajaran, praktik pembuatan EWS sederhana, serta penerapan prinsip EWS.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membekali masyarakat agar tidak sekadar memahami sistem peringatan dini, tetapi juga mampu mengoperasikan, merawat, dan mengembangkannya sesuai kebutuhan serta karakteristik wilayah masing-masing.

UI Kembangkan Konsep Bangunan Tahan Gempa

Inovasi Bifurca Tower tahan gempa dari Universitas Indonesia, foto: BNPB.

Sementara itu, Universitas Indonesia membawa inovasi Bifurca Tower dalam ajang Earthquake Engineering Research Institute (EERI) Seismic Design Competition (SDC) 2026 yang berlangsung pada 13–17 Juli 2026 di Portland, Oregon, Amerika Serikat.

Kompetisi tersebut diikuti 47 tim universitas dari berbagai negara. Ajang ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan sekaligus menguji kemampuan dalam merancang bangunan yang mampu menghadapi ancaman gempa.

Tim UI menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia dan Asia Tenggara yang berhasil mencapai babak final. Dalam kompetisi tersebut, tim UI meraih peringkat keenam secara keseluruhan, peringkat keenam kategori komunikasi, peringkat keempat untuk proposal, peringkat kelima untuk presentasi, serta peringkat ketiga dalam T-Shirt Design Competition.

Tim UI beranggotakan enam mahasiswa Fakultas Teknik, yaitu Michael Fernando Theng dari Teknik Sipil 2024; Muhammad Thoriq Ramadhan, Ihksan Putra Jaya, dan M. Fadhil Al-Ghani dari Teknik Sipil 2023; serta Rasya Khairani Santoso dan Joey Paul Thobias Awuy dari Arsitektur Interior 2023.

Perjalanan tim diawali dengan seleksi dan penyusunan proposal desain selama beberapa bulan. Proposal tersebut berhasil masuk dalam Top 10 Proposal hingga akhirnya membawa tim UI menjadi finalis yang mewakili Universitas Indonesia sekaligus Indonesia di Portland.

Dalam pengembangannya, mahasiswa Teknik Sipil dan Arsitektur Interior menggabungkan keahlian masing-masing. Tim Teknik Sipil berfokus pada analisis struktur dan ketahanan bangunan terhadap beban gempa, sementara mahasiswa Arsitektur Interior mengembangkan konsep desain, tata ruang, serta aspek arsitektural.

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah Negative Stiffness Friction Damper, yaitu sistem yang membantu bangunan merespons guncangan secara lebih fleksibel sekaligus meredam energi gempa.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa ketahanan bangunan terhadap gempa tidak hanya berkaitan dengan seberapa kaku struktur dibuat, tetapi juga bagaimana struktur dapat merespons dan mengelola energi yang muncul akibat guncangan.

Sebagai negara yang berada di kawasan ring of fire, Indonesia memiliki kebutuhan besar terhadap pengembangan bangunan yang aman, efisien, dan fungsional. Pengalaman tim UI dalam kompetisi tersebut juga membuka peluang pengembangan konsep retrofit structure, yakni penguatan bangunan yang sudah ada untuk meningkatkan ketahanannya terhadap gempa.

Unpas Siapkan Teknologi untuk Kondisi Darurat

Inovasi Portable Fire Pump dari Universitas Pasundan untuk tanggap bencana kebakaran, foto: BNPB.

Universitas Pasundan turut menghadirkan inovasi yang ditujukan untuk mendukung respons terhadap kondisi darurat. Dua inovasi yang diperkenalkan adalah Portable Fire Pump (PFP) dan prototipe teknologi penjernih air.

PFP merupakan alat pemadam kebakaran portabel yang dikembangkan oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik Unpas. Perangkat tersebut ditujukan untuk membantu penanganan kebakaran di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan pemadam, seperti kawasan hutan dan permukiman padat.

Dengan bobot sekitar 13 kilogram, PFP dapat dibawa dengan cara digendong sehingga memudahkan mobilisasi menuju lokasi kejadian. Alat tersebut menggunakan mesin 2 tak berkapasitas 80 cc dengan bahan bakar satu liter dan mampu beroperasi sekitar satu hingga satu setengah jam.

PFP dapat menyemprotkan air hingga 80 liter per menit dengan jangkauan sekitar 25 meter secara horizontal dan hingga 15 meter secara vertikal. Selang sepanjang 30 meter memberikan fleksibilitas untuk menjangkau titik api, sedangkan sumber air dapat berasal dari kolam, sungai, danau, maupun tangki air.

Pengembangannya melibatkan mahasiswa Teknik Mesin dan Teknik Industri. Inovasi tersebut telah dipatenkan dan mulai diarahkan agar dapat digunakan secara lebih luas, termasuk oleh masyarakat dan BUMDes di wilayah yang membutuhkan perangkat pemadaman awal.

Selain PFP, Unpas mengembangkan prototipe teknologi penjernih air portabel. Teknologi ini ditujukan untuk membantu menyediakan akses air bersih dalam kondisi darurat, terutama ketika sumber air masyarakat mengalami pencemaran akibat bencana.

Perguruan Tinggi Dorong Ekosistem Ketangguhan Bencana

Berbagai inovasi yang diperkenalkan dalam ADEXCO 2026 menunjukkan kontribusi perguruan tinggi dalam membangun ekosistem ketangguhan bencana. Melalui riset, pengembangan teknologi, serta kolaborasi lintas disiplin, akademisi dan mahasiswa turut menghasilkan solusi yang dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan di lapangan.

Mulai dari sistem peringatan dini untuk memberikan waktu evakuasi, rancangan bangunan yang lebih tahan terhadap gempa, hingga perangkat untuk mendukung penanganan kebakaran dan penyediaan air bersih, berbagai inovasi tersebut memperlihatkan penerapan ilmu pengetahuan dalam kebutuhan masyarakat.

ADEXCO 2026 menjadi ruang pertemuan antara gagasan, hasil riset, dan teknologi dengan kebutuhan nyata dalam penanggulangan bencana. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, serta berbagai pihak lainnya menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan secara berkelanjutan, baik pada tahap sebelum bencana maupun selama proses pemulihan.

ADEXCO 2026 merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series 2026, yang turut menghadirkan Construction Indonesia, Concrete Show South-east Asia – Indonesia, Mining Indonesia, Oil & Gas Indonesia, Water Indonesia, serta GIFA & METEC Indonesia.

Bot
ZEBot Asisten Digital ZonaEBT
Hai Kak!
Aku ZEBot, asisten digital ZonaEBT. Ada yang bisa kubantu hari ini?