3 Fakta PLTU Celukan Bawang, Penopang Energi Listrik Terbesar di Bali

PLTU Celukan Bawang di Gerokgak, Buleleng, Bali. (Foto: Cisilia Agustina Siahaan/kumparan)
  • PLTU Celukan Bawang memiliki kapasitas 380 MW dan menjadi pembangkit listrik berkapasitas terbesar dalam sistem kelistrikan Bali.
  • PLTU Celukan Bawang menggunakan batu bara dan tercatat memiliki periode operasi hingga 2045.
  • Keberadaan PLTU Celukan Bawang menjadi bagian dari tantangan transisi energi Bali menuju target Net Zero Emission (NZE) 2045.

Sobat EBT Heroes! Bali membutuhkan pasokan listrik yang stabil untuk menopang aktivitas masyarakat dan pariwisata yang berjalan hampir sepanjang hari. Di balik aktivitas tersebut, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang menjadi salah satu pembangkit dengan peran besar dalam sistem kelistrikan Pulau Dewata.

Berada di Kabupaten Buleleng, pembangkit berbahan bakar batu bara ini memiliki kapasitas terpasang 380 MW, terbesar di antara pembangkit yang tercatat dalam sistem kelistrikan Bali menurut data IESR.

PLTU Celukan Bawang terdiri atas tiga unit, yakni dua unit berkapasitas 125 MW dan satu unit 130 MW. Pembangkit ini mulai beroperasi pada 2015 dan dalam data PLN tercatat memiliki periode operasi hingga 2045.

Berikut 3 fakta terkait PLTU Celukan Bawang yang menjadi salah satu penopang utama kelistrikan di Provinsi Bali:

Baca Juga:



1. PLTU Celukan Bawang Jadi Pembangkit Terbesar di Bali

Kapasitas 380 MW membuat PLTU Celukan Bawang menjadi pembangkit dengan kapasitas terbesar dalam daftar pembangkit yang menopang sistem kelistrikan Bali. Sebagai pembangkit berbahan bakar batu bara, listrik dihasilkan melalui proses pembakaran batu bara untuk menghasilkan uap. Uap tersebut kemudian digunakan untuk memutar turbin yang terhubung dengan generator.

Pembangkit ini mulai masuk dalam sistem kelistrikan Bali pada 2015. Ketika itu, pemerintah juga menempatkan PLTU Celukan Bawang sebagai salah satu proyek penting untuk meningkatkan keandalan sekaligus menekan biaya pokok penyediaan listrik di Bali. Kementerian ESDM mencatat PLTU Celukan Bawang memiliki tiga unit dengan total kapasitas 380 MW.

Dalam data PLN yang dipublikasikan pada 2025, PLTU Celukan Bawang tercatat dimiliki PT General Energy Bali dengan kapasitas 380 MW dan faktor kapasitas 85 persen. Periode kontraknya tercatat 2015–2045.

2. Kelistrikan Bali Masih Bertumpu pada Energi Fosil

PLTU Celukan Bawang tidak berdiri sendiri. Sistem kelistrikan Bali masih ditopang sejumlah pembangkit berbahan bakar fosil, selain pembangkit energi terbarukan dan pasokan dari jaringan interkoneksi Jawa–Madura–Bali.

Data yang sebelumnya dihimpun ZonaEBT menunjukkan sistem kelistrikan Bali memiliki berbagai sumber pembangkit, mulai dari PLTU, Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), hingga Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Bali juga memperoleh pasokan melalui interkoneksi Jawa–Madura–Bali dengan kapasitas transfer yang tercatat mencapai 340 MW.

Di antara pembangkit lokal tersebut, PLTU Celukan Bawang memiliki kapasitas paling besar. Hal ini membuat pembangkit tersebut menjadi bagian penting dari sistem pasokan listrik Bali, meskipun pada saat yang sama menunjukkan masih besarnya ketergantungan sistem kelistrikan Bali terhadap energi fosil.

3. Beroperasi hingga 2045 di Tengah Target Bali NZE

Masa operasi PLTU Celukan Bawang yang tercatat hingga 2045 menjadi hal menarik jika dikaitkan dengan target Net Zero Emission (NZE) Bali 2045. Di satu sisi, Bali masih membutuhkan pembangkit yang mampu menjaga pasokan listrik. Di sisi lain, target emisi nol bersih membutuhkan perubahan bertahap pada sumber energi yang digunakan.

Institute for Essential Services Reform (IESR) sebelumnya menyoroti kebutuhan Bali untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan, terutama karena kebutuhan listrik diperkirakan terus bertambah seiring aktivitas ekonomi dan pariwisata. Salah satu pilihan yang didorong adalah pengembangan PLTS atap di rumah, hotel, vila, restoran, dan sektor usaha.

Pengembangan energi surya juga mulai terlihat dalam skala yang lebih dekat dengan masyarakat. Di Desa Adat Intaran, Sanur, misalnya, PLTS berkapasitas 5,5 kW telah dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pompa air dan penerangan Pasar Tradisional Intaran. Pemanfaatan tersebut dilaporkan mampu membantu menekan biaya listrik sekitar 30–35 persen ketika paparan matahari mencukupi.

Dengan kondisi tersebut, perjalanan kelistrikan Bali ke depan tidak hanya berbicara tentang mempertahankan pasokan dari pembangkit yang sudah ada. Penambahan energi terbarukan, penguatan jaringan, penyimpanan energi, serta pemanfaatan PLTS di tingkat masyarakat dan industri akan menjadi bagian dari perubahan sistem energi Bali.

PLTU Celukan Bawang masih memiliki masa operasi hingga 2045 berdasarkan data PLN, sementara pada tahun yang sama Bali menargetkan NZE. Kondisi ini menggambarkan persimpangan penting dalam perjalanan energi Pulau Dewata: menjaga keandalan listrik yang dibutuhkan saat ini sekaligus menyiapkan sistem yang semakin banyak menggunakan energi bersih.

#ZONAEBT #EBTHeroes #Sebarterbarukan

Sumber:

[1] https://iesr.or.id/mendorong-partisipasi-warga-dan-industri-untuk-capai-bali-nze-2045/

[2] https://www.instagram.com/p/DRRRzVbD_J3/

Bot
ZEBot Asisten Digital ZonaEBT
Hai Kak!
Aku ZEBot, asisten digital ZonaEBT. Ada yang bisa kubantu hari ini?