
- PSEL Regional Legok Nangka memiliki kapasitas pengolahan sampah mencapai 2.131 ton per hari.
- Proyek PSEL Legok Nangka diproyeksikan menghasilkan listrik 40,79 MW dan menyerap 1.565 tenaga kerja selama masa konstruksi.
- PSEL Legok Nangka bernilai investasi sekitar USD400 juta dan berpotensi mengurangi emisi hingga 311.874 ton CO₂ ekuivalen.
Sobat EBT Heroes! Permasalahan sampah menjadi salah satu tantangan lingkungan yang terus dihadapi Indonesia. Di sisi lain, timbulan sampah juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi melalui teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Salah satu proyek yang dikembangkan adalah PSEL Regional Legok Nangka di Jawa Barat. Proyek ini dirancang tidak hanya untuk membantu mengatasi persoalan pengelolaan sampah, tetapi juga menghasilkan energi listrik serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Mengutip data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), PSEL Regional Legok Nangka memiliki kapasitas pengolahan mencapai 2.131 ton sampah per hari. Dari pengolahan tersebut, fasilitas ini diproyeksikan mampu menghasilkan listrik sebesar 40,79 megawatt (MW).
PSEL Regional Legok Nangka Jadi Proyek Strategis Nasional

PSEL Regional Legok Nangka merupakan bagian dari upaya pemerintah membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi. Fasilitas ini berada di kawasan Legok Nangka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dan dirancang untuk melayani kebutuhan pengelolaan sampah di wilayah Bandung Raya.
Berdasarkan informasi Badan Geologi KESDM, TPPAS Legok Nangka direncanakan melayani enam wilayah, yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Garut. Pemerintah sebelumnya merancang fasilitas tersebut dengan konsep waste to energy untuk mengurangi beban sampah sekaligus menghasilkan listrik.
Pengembangan PSEL juga menjadi bagian dari perhatian pemerintah terhadap pemanfaatan sampah sebagai sumber energi. KESDM menyebut pengolahan sampah menjadi energi listrik dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi persoalan sampah sekaligus menghasilkan energi dan membuka lapangan kerja.
Baca Juga:
- Alur Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) dan Skema Off-taker di Indonesia
- Sebaran 4 Lokasi PLTSa di Wilayah Jakarta
Kapasitas Pengolahan Sampah Capai 2.131 Ton per Hari
Salah satu angka penting dalam proyek PSEL Regional Legok Nangka adalah kapasitas pengolahan sampahnya. Mengutip data KESDM, fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas 2.131 ton sampah per hari.
Jumlah tersebut menunjukkan skala pengolahan yang cukup besar. Sampah yang sebelumnya berakhir di tempat pemrosesan akhir dapat diolah melalui fasilitas PSEL sehingga memiliki nilai guna sebagai sumber energi.
Konsep ini sejalan dengan pendekatan waste to energy, yakni mengolah sampah dengan teknologi tertentu untuk menghasilkan energi. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada pembuangan, tetapi juga pemanfaatan kembali sumber daya yang terkandung di dalamnya.
Hasilkan Listrik hingga 40,79 MW
Selain mengurangi beban pengelolaan sampah, PSEL Regional Legok Nangka juga diproyeksikan menghasilkan energi listrik.
Berdasarkan data KESDM, fasilitas ini memiliki potensi menghasilkan listrik sebesar 40,79 MW. Energi tersebut menunjukkan bagaimana sampah dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif melalui teknologi pengolahan yang terintegrasi.
Pemanfaatan sampah menjadi energi juga dapat menjadi bagian dari upaya diversifikasi sumber energi. Pemerintah sebelumnya telah mendorong pengembangan PSEL di sejumlah wilayah Indonesia sebagai salah satu pendekatan untuk mengatasi persoalan sampah sekaligus menghasilkan energi.
Investasi PSEL Legok Nangka Capai USD400 Juta
Pengembangan infrastruktur PSEL membutuhkan investasi yang besar karena melibatkan pembangunan fasilitas pengolahan, teknologi pembangkitan energi, serta infrastruktur pendukung lainnya.
Mengutip data KESDM, nilai investasi PSEL Regional Legok Nangka diperkirakan mencapai USD400 juta atau sekitar Rp7,2 triliun.
Besarnya nilai investasi tersebut menunjukkan bahwa proyek pengolahan sampah menjadi energi membutuhkan dukungan pembiayaan dan kerja sama berbagai pihak. Di sisi lain, investasi tersebut berpotensi memberikan dampak ekonomi melalui aktivitas konstruksi, operasional fasilitas, hingga tumbuhnya kegiatan ekonomi di sekitar proyek.
Serap 1.565 Tenaga Kerja
Pembangunan PSEL Regional Legok Nangka juga berpotensi memberikan manfaat terhadap sektor ketenagakerjaan.
Data KESDM memperkirakan proyek ini dapat menyerap 1.565 tenaga kerja selama masa konstruksi. Penyerapan tenaga kerja tersebut menjadi salah satu dampak ekonomi yang dapat muncul dari pembangunan infrastruktur energi dan pengelolaan sampah.
Kehadiran proyek berskala besar juga dapat menciptakan kebutuhan terhadap berbagai jenis tenaga kerja, mulai dari pekerjaan konstruksi hingga tenaga teknis dan operasional fasilitas.
Berpotensi Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Selain menghasilkan energi dan memberikan manfaat ekonomi, PSEL Regional Legok Nangka juga dirancang untuk memberikan manfaat terhadap lingkungan.
Mengutip data KESDM, proyek ini diperkirakan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 311.874 ton CO2 ekuivalen (tCO2e).
Pengurangan emisi menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan pengolahan sampah menjadi energi. Sebab, pengelolaan sampah yang tidak optimal dapat menimbulkan berbagai dampak lingkungan. Dengan mengolah sampah melalui fasilitas yang terintegrasi, sebagian sampah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi sekaligus mengurangi beban pengelolaan di tempat pemrosesan akhir.
#ZONAEBT #EBTHeroes #Sebarterbarukan
Sumber:
[1] https://www.instagram.com/p/Dba629Ij5Uw/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==