12 Pembangkit Listrik Penopang Kelistrikan Bali, PLTU Masih Mendominasi

PLTU Celukan Bawang, Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, foto: Yayasan Auriga Nusantara.
  • Bali masih mengandalkan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dan gas sebagai penopang utama sistem kelistrikan.
  • Sistem kelistrikan Bali didukung 12 sumber pasokan listrik, termasuk PLTS, PLTMH, PLTU, PLTG, PLTD, dan interkoneksi Jawa–Madura–Bali.
  • Pengembangan pembangkit EBT dalam RUPTL PLN 2025–2034 diharapkan mempercepat terwujudnya Bali Mandiri Energi.

Sobat EBT Heroes! Pulau Bali dikenal sebagai destinasi wisata dunia yang hampir tidak pernah berhenti beraktivitas. Di balik tingginya mobilitas masyarakat dan sektor pariwisata, terdapat sistem kelistrikan yang harus bekerja selama 24 jam tanpa henti untuk memastikan pasokan listrik tetap andal.

Saat ini, sistem kelistrikan Bali ditopang oleh berbagai jenis pembangkit listrik, mulai dari energi terbarukan seperti tenaga surya dan mikrohidro hingga pembangkit berbahan bakar fosil seperti batubara, gas, dan diesel. Selain itu, Bali juga masih memperoleh pasokan listrik dari Pulau Jawa melalui jaringan interkoneksi Jawa–Madura–Bali.

Berdasarkan data Institute for Essential Services Reform (IESR), berikut daftar pembangkit yang menjadi tulang punggung sistem kelistrikan Pulau Bali.

1. PLTS Kubu

PLTS Kubu merupakan salah satu pembangkit listrik tenaga surya pertama di Bali dengan kapasitas 1 MW. Pembangkit yang mulai beroperasi pada 2013 ini menjadi bagian dari upaya awal pemanfaatan energi surya di Indonesia dan direncanakan beroperasi hingga 2040.

2. PLTS Kayubihi

Selain PLTS Kubu, Bali juga memiliki PLTS Kayubihi yang sama-sama memiliki kapasitas 1 MW dan mulai beroperasi pada 2013. Kehadiran dua PLTS ini menjadi fondasi awal pengembangan energi surya di Pulau Dewata meski kontribusinya terhadap total sistem kelistrikan masih relatif kecil.

3. PLTMH Muara Panji

Pemanfaatan energi air di Bali dilakukan melalui PLTMH Muara Panji dengan kapasitas 1 MW. Pembangkit listrik tenaga mikrohidro ini mulai beroperasi sejak 2016 dan diproyeksikan tetap beroperasi hingga 2066, menjadikannya salah satu aset energi terbarukan dengan umur operasi paling panjang.

4. PLTU Celukan Bawang

PLTU Celukan Bawang merupakan pembangkit dengan kapasitas terbesar di Bali, yakni 380 MW. Beroperasi sejak 2015, pembangkit berbahan bakar batubara ini masih menjadi salah satu penopang utama pasokan listrik di Pulau Bali dan direncanakan beroperasi hingga 2045.

5. PLTDG Pesanggaran

PLTDG Pesanggaran menggunakan bahan bakar gas dengan kapasitas 182 MW. Pembangkit ini mulai beroperasi pada 2015 dan menjadi salah satu sumber listrik penting yang membantu menjaga keandalan sistem kelistrikan Bali.

6. PLTG Pesanggaran 1–2

PLTG Pesanggaran Unit 1–2 memiliki kapasitas 15 MW dan mulai beroperasi sejak 1985. Berdasarkan data IESR, masa operasi pembangkit ini tercatat berakhir pada 2010, sehingga kini telah digantikan oleh unit pembangkit yang lebih baru.

7. PLTG Pesanggaran 3–4

Unit berikutnya adalah PLTG Pesanggaran 3–4 dengan kapasitas 76 MW. Pembangkit ini mulai beroperasi pada 1994 dan memiliki masa operasi hingga 2019, sebelum kemudian dilakukan pengembangan pembangkit baru di kawasan Pesanggaran.

8. PLTG Pesanggaran 5–6 (Ex-Grati)

Untuk meningkatkan keandalan sistem, PLN mengoperasikan PLTG Pesanggaran 5–6 (Ex-Grati) yang memiliki kapasitas 205 MW. Pembangkit berbahan bakar gas ini mulai beroperasi pada 2022 dan direncanakan beroperasi hingga 2035.

9. PLTD BOT Pesanggaran

Selain pembangkit gas, kawasan Pesanggaran juga memiliki PLTD BOT Pesanggaran dengan kapasitas 50 MW. Pembangkit berbahan bakar diesel ini mulai beroperasi pada 2012 dan diproyeksikan beroperasi hingga 2030 sebagai pembangkit pendukung.

10. PLTG Gilimanuk

Di wilayah Bali bagian barat terdapat PLTG Gilimanuk dengan kapasitas 130 MW. Pembangkit ini mulai beroperasi pada 1997 dan masa operasinya tercatat hingga 2022.

11. PLTG Pemaron

PLTG Pemaron yang berada di Kabupaten Buleleng memiliki kapasitas 80 MW. Pembangkit ini mulai beroperasi pada 2004 dan dijadwalkan beroperasi hingga 2029, sehingga masih menjadi bagian dari sistem kelistrikan Bali saat ini.

12. Interkoneksi Jawa–Madura–Bali

Selain mengandalkan pembangkit lokal, Bali juga memperoleh pasokan listrik melalui Interkoneksi Jawa–Madura–Bali dengan kapasitas transfer mencapai 340 MW. Jalur interkoneksi yang mulai beroperasi sejak 2014 ini menjadi salah satu komponen penting dalam menjaga keandalan pasokan listrik, terutama ketika terjadi lonjakan beban atau gangguan pada pembangkit di Bali.

Baca Juga:



Kelistrikan Bali Masih Didominasi Pembangkit Fosil

Data tersebut menunjukkan bahwa sistem kelistrikan Bali hingga kini masih didominasi oleh pembangkit berbahan bakar batubara dan gas, sementara kapasitas pembangkit energi terbarukan seperti PLTS dan PLTMH masih relatif kecil.

Melalui RUPTL PLN 2025–2034, pemerintah berencana menambah kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT), sistem penyimpanan energi (energy storage), serta memperkuat jaringan transmisi agar Bali dapat mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan pasokan listrik dari luar pulau. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan Bali Mandiri Energi dengan sistem kelistrikan yang lebih bersih, tangguh, dan berkelanjutan.

#ZONAEBT #EBTHeroes #Sebarterbarukan #Bali

Sumber:

[1] https://www.instagram.com/p/DRRRzVbD_J3/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=NTc4MTIwNjQ2YQ==

Bot
ZEBot Asisten Digital ZonaEBT
Hai Kak!
Aku ZEBot, asisten digital ZonaEBT. Ada yang bisa kubantu hari ini?