5 Rekomendasi Strategis Pengembangan Energi Panas Bumi di Indonesia

Pengembangan potensi energi panas bumi di Indonesia, foto: Pertamina
  1. Indonesia memiliki potensi teknis panas bumi hingga 2.160 GW, berpeluang memenuhi kebutuhan listrik, panas industri, dan pendinginan terpusat secara andal dan rendah emisi.
  2. Modernisasi regulasi dan perluasan pemanfaatan panas bumi ke sistem generasi terbaru menjadi kunci percepatan transisi energi dan penguatan daya saing industri nasional.
  3. Laporan Project InnerSpace merekomendasikan lima langkah strategis untuk mempercepat pengembangan panas bumi, dari reformasi perizinan hingga penguatan SDM dan manfaat bagi masyarakat.

Sobat EBT Heroes! Indonesia menyimpan potensi energi panas bumi (geothermal) yang luar biasa, namun hingga kini pemanfaatannya masih jauh dari optimal. Laporan terbaru The Future of Geothermal in Indonesia yang dirilis Project InnerSpace pada Selasa (2/12/2025) menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya unggul dalam panas bumi konvensional, tetapi juga memiliki peluang besar untuk memimpin pengembangan panas bumi generasi terbaru, panas industri, hingga pendinginan terpusat (district cooling).

Dengan kombinasi sumber daya panas bumi yang melimpah dan keahlian domestik yang kuat, pengembangan panas bumi dinilai mampu menyediakan listrik andal, energi berbiaya kompetitif bagi industri dan pusat data, memperbaiki kualitas udara, serta menciptakan ratusan ribu lapangan kerja berstandar global. Jika dimanfaatkan secara optimal, panas bumi dapat menjadi pilar penting dalam transisi energi dan ketahanan energi nasional.

Potensi Panas Bumi Indonesia yang Sangat Besar

Potensi besar energi panas bumi di Indonesia, foto: ESDM

Energi panas bumi berasal dari panas alami di kerak bumi dan tersebar luas di berbagai wilayah. Kemajuan teknologi pengeboran dan eksplorasi bawah permukaan kini membuat panas bumi semakin terjangkau dan dapat dikembangkan bahkan di lokasi yang sebelumnya dianggap tidak ideal.

Bagi Indonesia, kemajuan ini sangat krusial. Terletak di sepanjang Cincin Api Pasifik, Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia. Laporan Project InnerSpace memperkirakan potensi teknis panas bumi Indonesia mencapai 2.160 gigawatt (GW)—angka yang jauh melampaui estimasi potensi hidrotermal konvensional saat ini.

Pemanfaatan penuh potensi tersebut diproyeksikan mampu:

  • Memenuhi hingga 90% kebutuhan panas proses industri di sektor manufaktur utama,
  • Mengurangi ketergantungan pada PLTU batu bara dan bahan bakar impor,
  • Menciptakan lebih dari 650.000 lapangan pekerjaan di berbagai sektor.

“Indonesia sudah menjadi pemimpin dunia dalam panas bumi hidrotermal. Warisan panjang di sektor minyak dan gas memberi Indonesia keterampilan teknis, kapasitas pengeboran, dan keahlian operasional untuk memimpin fase berikutnya panas bumi,” ujar Jackson Grimes, Direktur Keterlibatan Global Project InnerSpace.

Ia menambahkan, dengan modernisasi regulasi dan perluasan fokus pemanfaatan panas bumi di luar kelistrikan, Indonesia dapat membuka ribuan megawatt energi rendah emisi yang andal, sekaligus memperkuat daya saing industri dan penerimaan sosial.

Senada, Fabby Tumiwa, CEO IESR, menekankan bahwa panas bumi generasi terbaru tidak lagi bergantung pada reservoir alami, sehingga dapat dikembangkan lebih fleksibel dan meminimalkan potensi konflik sosial maupun lingkungan yang kerap muncul pada proyek panas bumi konvensional.

Baca Juga:



5 Rekomendasi Strategis Pengembangan Energi Panas Bumi

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, laporan The Future of Geothermal in Indonesia merumuskan lima rekomendasi utama berikut:

1. Memperbarui Definisi dan Kerangka Perizinan Panas Bumi

Regulasi panas bumi perlu diperluas agar mencakup sistem panas bumi generasi terbaru, pemanfaatan panas langsung untuk industri, serta district cooling. Pembaruan ini penting agar inovasi teknologi tidak terhambat oleh definisi dan aturan yang sudah usang.

2. Menetapkan Target Nasional dan Peta Jalan Panas Bumi

Pemerintah perlu menetapkan target nasional untuk listrik dan panas industri berbasis panas bumi, lengkap dengan peta jalan implementasi. Target yang jelas akan memberikan kepastian bagi investor sekaligus menjadi acuan koordinasi lintas sektor.

3. Membentuk “Jalur Cepat Panas Bumi”

Proses perizinan yang panjang dan tumpang tindih antar kementerian kerap menjadi hambatan utama. Pembentukan jalur cepat panas bumi dinilai penting untuk mempercepat perizinan, meningkatkan koordinasi, dan menurunkan risiko proyek.

4. Mereformasi Skema Royalti agar Manfaat Dirasakan Masyarakat

Skema royalti panas bumi perlu direformasi agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di sekitar proyek. Pendekatan ini diharapkan memperkuat penerimaan sosial dan mengurangi potensi konflik di tingkat lokal.

5. Memperluas Program Pelatihan dan Sertifikasi Teknis

Indonesia telah memiliki banyak geosaintis dan teknisi pengeboran berpengalaman dari sektor minyak dan gas. Dengan memperluas program pelatihan dan sertifikasi, keahlian tersebut dapat dialihkan untuk mempercepat pengembangan panas bumi nasional.

Dengan pembaruan kebijakan dan investasi yang tepat, Indonesia berpeluang besar mengubah cadangan panas bawah permukaan bumi menjadi sumber kemakmuran, kemandirian, dan ketahanan energi jangka panjang. Sebagai tindak lanjut, Project InnerSpace juga akan mendanai studi kelayakan proyek pendinginan kampus berbasis panas bumi di Universitas Gadjah Mada, yang berpotensi menjadi model replikasi nasional melalui program GeoFund.

#ZonaEBT #EBTHeroes #PanasBumi #Energi

Sumber:

[1] The Future of Geothermal in Indonesia