Norwegia, Tuan Rumah Nobel Prize dan Ambisi Low-Emission Society

Ilustrasi Negara Norwegia. Sumber: dailyscandinavian.com
  • Norwegia dengan segala keindahan wisata di samping stabilitas sosial dan keamanannya, ternyata juga menyimpan segudang potensi sumber daya alam!
  • Low-emission society menjadi sebuah target jangka panjang yang ditetapkan oleh negara dengan pemandangan aurora-nya yang terkenal ini.
  • Pencegahan serta penanggulangan terhadap berbagai potensi bencana alam serta krisis di masa mendatang, melalui ragam kegiatan riset hingga sosialisasi di seluruh lapisan masyarakat, menjadi salah satu fokus terbesar Norwegia dalam komitmen terhadap Nationally Determined Contributions

Norwegia merupakan sebuah negara dengan sistem parlementer yang terletak di Semenanjung Skandinavia. Norwegia dikenal sebagai negara yang memperoleh pencapaian internasional untuk kategori negara teraman berdasarkan penilaian Global Peace Index sekaligus tuan rumah bagi agenda penyelenggaraan Nobel Prize khusus kategori perdamaian sejak era 1901. Selain itu, negara ini juga diketahui sebagai salah satu penghasil kekayaan sumber daya alam strategis berupa minyak bumi, gas alam, nikel, tembaga, dan timah.

Baca Juga



Norwegia dan Sustainable Energy

Meski tidak termasuk dalam kelompok 10 teratas negara-negara di dunia dengan tingkat konsumsi sustainable energy terbesar, Norwegia juga tampak menunjukkan komitmennya dalam mendukung misi pembangunan berkelanjutan serta eskalasi proteksionisme lingkungan secara khusus melalui target low-emission society in 2050. Terlepas dari segala potensi kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya.

Secara historis, Norwegia pernah menjadi salah satu negara dengan pendapatan rendah di Eropa, terutama bila disandingkan dengan sesama anggota Skandinavia lainnya, yaitu Denmark dan Swedia.

Hal ini berlangsung sejak tahun 1950-an hingga kemudian Norwegia yang sebelumnya lebih banyak mengandalkan sektor agrikultur dan hasil perikanan sebagai sumber pendapatan negara, mulai dapat meningkatkan perekonomiannya secara signifikan melalui kombinasi pemanfaatan teknologi, manufaktur, hydropower (pembangkit listrik tenaga air yang juga mengoptimalkan sumber daya air terjun dari kawasan-kawasan di negara tersebut), komoditas minyak dan gas alam.

Bahkan di permulaan abad ke-21, Norwegia berhasil menciptakan reputasi internasional sebagai negara yang memiliki keunggulan kompetensi dalam menghasilkan produk-produk intensif seperti pupuk buatan, serta berbagai olahan dari aluminium dan seng.

Perkembangan ini tentunya bergerak secara berdampingan dengan kemajuan pesat pada ranah ekspor di Norwegia yang diperkirakan sebanyak 1/3 dari keseluruhan sumber pendapatan nasionalnya, didominasi oleh komoditas minyak sejak periode 1980-an. Dan sebanyak 3 juta barel minyak bumi telah diproduksi setiap harinya di tahun 1990 hingga menjadikan negara ini sebagai salah satu pengekspor minyak bumi terbesar dunia pada kurun waktu tersebut.

Angka produksi minyak di Norwegia sempat mengalami penurunan dalam satu dekade berikutnya, namun perihal tersebut juga “disubstitusi” oleh adanya kenaikan pesat dalam sektor produksi gas alam.

Transformasi yang luar biasa ini, utamanya jika berefleksi kembali pada situasi ekonomi dalam negeri di era 1909 dengan hampir setengah dari perusahaan manufaktur dan pertambangan Norwegia dikuasai oleh entitas asing melalui kepemilikan saham, nyatanya tidak serta merta mengeliminasi kesadaran negara ini terhadap langkah upaya atas perlindungan pada ekosistem lingkungan alih-alih peluang makro di balik transaksi komoditas tak terbarukan.

Dibuktikan dengan penetapan anggaran fiskal di tahun 2013 yang secara utuh dilandasi oleh rumusan visi Norwegia sebagai pemimpin dunia dalam spektrum adaptasi energi yang ramah lingkungan. Sebelumnya di tahun 2010, dalam perhelatan World Expo di Shanghai, Norwegia juga hadir dengan pencetusan slogannya yang berbunyi “Powered by Nature” guna mempertegas standing position negara tersebut terkait dengan eskalasi isu mengenai industri, sains, dan ekonomi yang memang menjadi topik utama pada agenda.

Paris Agreement di balik Low-Emission Society

Perwujudan komitmen dalam aspek penerapan regulasi energi terbarukan Norwegia, dapat ditelusuri melalui keikutsertaan negara tersebut dalam rangkaian Paris Agreement dan pertanggungjawaban di samping
Logo Paris Agreement. Sumber: br.usembassy.gov

Paris Agreement merupakan sebuah bentuk perjanjian internasional yang berfokus dalam pembahasan isu seputar perubahan iklim (climate change) dengan melibatkan sebanyak 196 negara dalam proses penyelenggaraan konferensinya (the UN Climate Change Conference atau COP21) di tanggal 12 Desember 2015. Hasil perjanjian ini bersifat mengikat dan berlaku secara resmi sejak tanggal 4 November 2016 (United Nations Climate Change).

Pelaksanaan COP21 menjadi agenda komprehensif bagi para perwakilan dunia untuk terlibat langsung dalam tahap diskusi dan analisis terhadap persoalan-persoalan lingkungan yang dirasa sudah sangat mengkhawatirkan.

Terutama dengan berbasis pada fenomena peningkatan drastis dalam angka polusi melalui penilaian terhadap indeks pencemaran udara di berbagai belahan wilayah dan negara, kematian beragam jenis spesies, sampai dengan ancaman krisis air bersih dan pangan untuk seluruh penduduk global di masa mendatang.

Negara-negara partisipan yang terlibat dalam konferensi ini, menyepakati secara bersama untuk dapat menekan laju peningkatan suhu bumi, terutama dari masing-masing kegiatan industrial yang dijalankan oleh negaranya, agar tidak mengalami kenaikan di atas 1.5 derajat celcius.

Cara kerja dari konsensus Paris Agreement ini yaitu dengan melibatkan proses evaluasi secara berkala, yang mana nantinya dalam 5 tahun sekali, setiap negara yang tergabung dalam perjanjian internasional tersebut melalui perwakilannya, diharuskan mengirim sebuah dokumen berisi gambaran aksi serta formulasi rancangan terkait perlindungan iklim nasional dari tiap-tiap negara asal yang dipimpin. Dokumen ini dikenal dengan nama Nationally Determined Contributions (NDCs).

Penyepakatan terhadap Paris Agreement ini, bisa dikatakan sebagai salah satu inspirasi bagi Norwegia untuk terus berkomitmen dalam aspek kontribusi terhadap perlindungan iklim serta realisasi pembangunan secara berkelanjutan.

Baca Juga



Khususnya sebagai salah satu negara penghasil komoditas sumber daya terbesar yang kerap diidentikkan dengan pola “unsustainable”, “ hanya berorientasi pada profitabilitas ekonomi semata”, dan “tidak ramah lingkungan”.

Melalui ambisi low-emission society in 2050, Norwegia menetapkan target atas penurunan emisi hingga setidaknya sampai dengan 50% di tahun 2030 yang juga bertepatan dengan agenda document report setiap 5 tahun, dan diharapkan akan terus meningkat secara konsisten terutama saat mencapai periode 2050.

Contoh Penerapan Regulasi Energi Terbarukan Norwegia

Ilustrasi Produk Berbasis Prinsip Regulasi Energi Terbarukan di Norwegia. Sumber: uib.no

Dalam mewujudkan cita-cita low-emission society, terdapat berbagai upaya kebijakan yang telah diterapkan oleh Norwegia. Beberapa diantaranya adalah dengan meningkatkan kesadaran terhadap publik dan terutama bagi kalangan pemangku kepentingan di berbagai sektor, baik untuk ranah lokal, regional, dan nasional, perihal persoalan mengenai potensi ancaman krisis dan strategi manajaemen kualitas sumber daya air.

Serta pemfasilitasan terhadap segala bentuk pembiayaan maupun riset pada aspek ketahanan berbagai varietas tanaman dalam jaringan ekosistem lingkungan, pemetaan terhadap kondisi struktur lahan terkini hingga mitigasi risiko atas beragam probabilitas seperti erosi, banjir, dan sebagainya yang turut melibatkan tingkat ketahanan tanah.

#ZonaEBT #SebarTerbarukan #EBTHeroes

Editor: Kania Puspita Dewi

REFERENSI

[1] RENEWABLE ENERGY POLICIES: A CASE STUDY OF INDONESIA AND NORWAY IN SUSTAINABLE ENERGY RESOURCE MANAGEMENT

[2] Norway

[3] LTS1_Norway_Oct2020.pdf

[4] The Paris Agreement

[5] New renewable energy and the Norwegian policy triangle

[6] oecd water policies country note norway

[7] Can Norway Be a Role Model for Natural Resource Abundant Countries?

[8] OECD: Norway

[9] Norway – The World Factbook

[10] 10 Negara dengan Konsumsi Energi Terbarukan Terbesar

[11] 25 Fascinating Facts About Norway

[12] Bahan Bakar Nabati (Biofuel): Pengertian dan Kelebihan dan Contohnya – Hyundai Motorstudio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

33 Comment

  1. Definitely believe that which you stated. Your favorite justification appeared to be on the internet the easiest thing to be aware of.
    I say to you, I definitely get annoyed while people consider worries that
    they plainly don’t know about. You managed to hit the nail upon the top and defined out the whole thing without having side
    effect , people can take a signal. Will probably be
    back to get more. Thanks