Produksi Listrik Indonesia menurut Jenis Pembangkit : Fosil Masih Dominan, EBT Mulai Tumbuh

Melihat produksi listrik Indonesia menurut jenis pembangkit listrik, foto: UMSU
  1. Produksi listrik Indonesia terus meningkat sepanjang 2022–2024, dengan total output nasional naik dari 308.095 GWh menjadi 343.909 GWh.
  2. PLTU masih mendominasi produksi listrik nasional, diikuti oleh PLTGU, sementara pembangkit energi terbarukan seperti PLTA, PLTP, dan PLTS menunjukkan tren pertumbuhan yang beragam.
  3. Energi terbarukan mulai tumbuh namun belum signifikan, sehingga bauran listrik Indonesia masih sangat bergantung pada pembangkit berbasis fosil.

Sobat EBT Heroes! Perkembangan sektor ketenagalistrikan Indonesia terus menjadi sorotan seiring meningkatnya kebutuhan energi nasional dan dorongan menuju transisi energi yang lebih berkelanjutan. Data Neraca Energi Indonesia 2022–2024 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 31 Desember 2025 memberikan gambaran penting tentang bagaimana listrik di Indonesia diproduksi, serta jenis pembangkit apa saja yang masih mendominasi sistem ketenagalistrikan nasional.

Dalam kurun tiga tahun terakhir, produksi listrik Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten. Pada 2022, total produksi listrik nasional tercatat sebesar 308.095 GWh. Angka ini meningkat menjadi 323.321 GWh pada 2023 dan kembali naik menjadi 343.909 GWh pada 2024. Kenaikan tersebut mencerminkan pertumbuhan kebutuhan listrik dari berbagai sektor, mulai dari industri, rumah tangga, hingga transportasi dan layanan publik. Namun di balik kenaikan total produksi, komposisi jenis pembangkit listrik masih menunjukkan ketergantungan yang kuat pada sumber energi fosil.

Baca Juga:



Berbagai Jenis Pembangkit Listrik di Indonesia dan Dinamikanya

table visualization

1. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)

Pembangkit Listrik Tenaga Uap atau PLTU masih menjadi tulang punggung utama dalam sistem kelistrikan nasional. Sepanjang 2022–2024, produksi listrik dari PLTU menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Pada 2022, PLTU memproduksi 206.204 GWh listrik, kemudian naik menjadi 219.748 GWh pada 2023, dan kembali meningkat menjadi 232.250 GWh pada 2024. Dominasi ini menegaskan bahwa batu bara masih memegang peran sentral sebagai sumber energi primer, terutama untuk memenuhi kebutuhan listrik baseload yang stabil dan dalam skala besar.

2. Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU)

Di posisi berikutnya, Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) menunjukkan kinerja yang terus menguat. Produksi listrik PLTGU tercatat sebesar 38.475 GWh pada 2022 dan meningkat secara bertahap hingga mencapai 47.699 GWh pada 2024. Tren ini mencerminkan peran gas bumi sebagai sumber energi transisi yang lebih fleksibel dan relatif lebih rendah emisi dibandingkan batu bara, terutama untuk menopang sistem kelistrikan di wilayah dengan kebutuhan listrik yang fluktuatif.

3. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

Kontribusi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dalam bauran listrik nasional cenderung berfluktuasi. Pada 2022, produksi listrik PLTA mencapai 22.355 GWh, kemudian mengalami penurunan pada 2023 sebelum kembali meningkat pada 2024. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh faktor hidrologi, seperti curah hujan dan ketersediaan air di waduk. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun PLTA merupakan sumber energi terbarukan yang penting, tingkat keandalannya sangat dipengaruhi oleh faktor alam.

4. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP)

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) menunjukkan performa yang relatif stabil sepanjang periode 2022–2024. Produksi listrik dari PLTP berada di kisaran 16–17 ribu GWh per tahun. Stabilitas ini menegaskan peran panas bumi sebagai sumber energi terbarukan baseload yang andal, karena mampu beroperasi secara kontinu tanpa bergantung pada kondisi cuaca. Meski demikian, kontribusinya terhadap total produksi listrik nasional masih terbatas akibat laju pengembangan yang belum masif.

5. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dan Mesin Gas (PLTD/PLTMG)

Pembangkit berbasis minyak dan mesin gas seperti PLTD dan PLTMG memberikan kontribusi yang relatif kecil terhadap total produksi listrik nasional. Meski demikian, data menunjukkan adanya kenaikan moderat selama periode 2022–2024. Pembangkit jenis ini umumnya berperan sebagai penopang sistem di wilayah terpencil atau sebagai pembangkit cadangan, meskipun dari sisi biaya operasional dan emisi tergolong kurang efisien.

6. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi jenis pembangkit dengan pertumbuhan paling tinggi secara persentase. Produksi listrik dari PLTS meningkat dari 218 GWh pada 2022 menjadi 425 GWh pada 2024. Meskipun kontribusinya terhadap total produksi listrik nasional masih sangat kecil, tren ini mencerminkan meningkatnya pemanfaatan energi surya sebagai bagian dari upaya diversifikasi dan transisi energi di Indonesia.

Secara keseluruhan, data BPS 2022–2024 menunjukkan bahwa produksi listrik Indonesia terus meningkat, namun bauran energinya masih didominasi pembangkit fosil, khususnya PLTU batu bara. Energi terbarukan menunjukkan perkembangan positif, tetapi membutuhkan percepatan kebijakan dan investasi agar perannya semakin signifikan dalam mendukung sistem kelistrikan nasional yang berkelanjutan.

#ZonaEBT #Sebarterbarukan #EBTHeroes

Sumber:

[1] Neraca Energi Indonesia 2022-2024