Problematika PLTSa : Solusi atau Polusi?

  • PLTSa dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi volume sampah. Namun, masih dibutuhkan sistem dan standardisasi operasi agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan sehingga dapat bekerja dengan baik dan efisien.
  • pembakaran sampah dalam Perpres No. 35 Tahun 2018, bukanlah pembakaran terbuka seperti jaman dahulu membakar sampah di halaman.
  • Jika dibandingkan dengan pembangkit listrik dari sumber energi terbarukan lainnya, sumbangan listrik yang diberikan PLTSa tidaklah terlalu besar.

 

Pembangkit listrik tenaga sampah merupakan pembangkit listrik yang memanfaatkan sampah sebagai bahan bakar. Sampah ini nantinya akan digunakan untuk memanaskan air dalam boiler. Uap panas yang dihasikan boiler ini dimasukkan ke turbin uap yang akan memutar generator sehingga menghasilkan energi listrik.

PLTSa dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi volume sampah. Namun, masih dibutuhkan sistem dan standardisasi operasi agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan sehingga dapat bekerja dengan baik dan efisien. Ada tiga proses konversi sampah menjadi energi: melalui thermo chemical, physicochemical, atau biochemical. Teknologi yang menggunakan proses konversi thermochemical antara lain: Torrefaction (torefaksi)¸ Plasma treatment, Gasification (gasifikasi), Pyrolysis (pemanasan), dan Liquefaction (pelarutan) yang akan menghasilkan bahan bakar dalam bentuk padat atau cair.

Perlu dimengerti terlebih dahulu bahwa yang dimaksud pembakaran sampah dalam Perpres No. 35 Tahun 2018, bukanlah pembakaran terbuka seperti jaman dahulu membakar sampah di halaman atau pembakaran tertutup dengan tungku seperti di rumah sakit atau crematorium yang kapasitasnya kecil dan masih dilakukan feeding (sampah masuk) secara manual. Pembakaran kapasitas kecil semacam ini justru tidak lagi direkomendasikan untuk sampah kota dan terbukti banyak menemui kegagalan.

Pembakaran yang dimaksud dalam Perpres adalah teknologi tinggi yang harus aman, baik prosesnya maupun abu dan emisi gas buang nya. Pembakaran sampah yang dimaksud dilakukan juga di banyak negara termasuk negara tetangga Singapura yang terkenal sangat bersih, dan sedikitnya berfungsi ganda yaitu  mengurangi volume sampah hingga tinggal abunya, dan menghasilkan tenaga listrik. 


Baca Juga :


Jika dibandingkan dengan pembangkit listrik dari sumber energi terbarukan lainnya, sumbangan listrik yang diberikan PLTSa tidaklah terlalu besar. Bahkan, penambahan kapasitasnya cenderung tidak ada peningkatan. Sumbangan PLTSa untuk listrik nasional pun kecil sehingga PLTSa bisa dikatakan sulit jika diharapkan untuk membantu pencapaian target 23% bauran pembangkitan dari energi terbarukan pada tahun 2025. PLTSa dengan teknologi termal telah terbukti dapat mengurangi timbulan sampah dan tidak berdampak terhadap lingkungan. Bahkan, teknologi insinerasi mampu mereduksi sampah hingga 1.300 ton per hari, jauh lebih tinggi jika dibanding teknologi termal lainnya. Teknologi pirolisis kapasitas sampah yang tereduksi hanya 70–270 ton per hari dan gasifikasi 900 ton per hari.

Teknologi incinerator yang digunakan dalam system pembangkit listrik tenaga sampah kota (PLTSa), dapat menimbulkan banyak permasalahan, seperti senyawa kimia sangat beracun terbentuk pada proses pembakaran sampah yang tidak terkontrol, terlebih lagi sampah heterogen. Hasil emisi yang paling berbahaya pada pembakaran sampah heterogen ialah terbentuknya senyawa dioksin dan furan, senyawa ini sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia. Senyawa ini terbentuk pada pembakaran yang menggunakan incinerator pada temperatur 400 ± 6000C. Apabila proses pembakaran sampah berlangsung sempurna maka tidak akan menghasilkan dioksin.

Terdapat lima prinsip dasar dalam pengoperasian PLTSa, diantaranya adalah :

1) Sampah dari TPS diangkut oleh truk-truk pengangkut sampah ke PLTSa. Truk yang tiba akan ditimbang terlebih dahulu sebelum membuang sampah ke dalam bungker sampah. Truk kosong yang keluar dari PLTSa juga ditimbang agar diketahui berat bersih sampah yang dibuang ke dalam bungker berdinding beton. Ruang bongkar sampah ini merupakan ruangan tertutup, dan udara dalam ruangan diisap oleh kipas udara sehingga bau sampah tidak menyebar keluar ruangan tetapi terisap kipas udara dan selanjutnya disalurkan ke tungkupembakaran.

Hal ini akan membuat udara disekitar lokasi pemusnah sampah tidak berbau. Dimensi bungker harus dapat menampung kebutuhan sampah lima sampai 10 hari. Sampah di dalam bungker yang masih basah, dibiarkan (ditiriskan) selama tiga sampai lima hari untuk mengurangi kadar air permukaan, air lindi di salurkan ke IPAL supaya tidak mencemari lingkungan sekitar. Selama didiamkan sampah secara rutin di pindah-pindahkan untuk mengurangi kadar airnya. Sampah yang sudah didiamkan beberapa hari ini mempunyai nilai kalor antara 800 sampai dengan 1400 kkal/kg dan kadar air 50±60 persen.

 2) Sampah yang sudah mengering ini kemudian diangkut ke tungku pembakaran dengan grabber yang terpasang pada overhead traveling crane, dan dikendalikan dari jarak jauh dari ruang kendali. Sampah dari grabber dijatuhkan sedikit demi sedikit ke dalam hopper tungku, sampah kemudian memasuki tungku pembakaran sedikit demi sedikit melalui mekanisme pemasukan sampah pada tungku.

Tungku pembakaran dirancang khusus agar sampah dapat terbakar pada temperatur tinggi (antara 850oC±900oC) dalam waktu yang cukup lama sehingga seluruh sampah dapat terbakar sesempurna mungkin dan dapat menghilangkan gas-gas beracun yang terbentuk seperti dioksin dan furan. Untuk mencapai suhu pembakaran yang tinggi tersebut, pada saat awal (start) diperlukan bahan bakar pembantu seperti minyak bakar, gas atau batu bara. Setelah dicapai suhu yang diinginkan, sampah diharapkan dapat terbakar dengan sendirinya. Sisa pembakaran berupa abu bawah (Bottom Ash) dikeluarkan secara otomatik dan dikumpulkan sebelum diangkut untuk dimanfaatkan lebih lanjut, Debu yang dihasilkan lima persen dari volume atau 20 persen dari berat sampah awal.

3) Gas panas hasil pembakaran kemudian dimanfaatkan untuk menguapkan air yang berada dalam pipa-pipa ketel (boiler). Saluran gas panas dari tungku diatur sedemikian rupa sehingga temperatur gas panas ketika mengenai boiler tidak terlalu tinggi.Demikian juga tekanan dan temperatur uap di dalam pipa diatur sedemikian rupa sehingga perbedaan temperatur antara gas panas dan uap air tidak menyebabkan pengembunan gas di pipa-pipa boiler yang dapat menyebabkan korosi.Untuk menghilangkan kerak biasanya pipa-pipa boiler ini dilengkapi dengan penyemprot gas asitilen.

4) Uap bertemperatur dan bertekanan tinggi yang dihasilkan digunakan untuk memutar turbin yang terhubung dengan generator pembangkit listrik. Jumlah air yang diperlukan untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik ini bergantung kepada karakteristik turbin yang digunakan.Namun demikian, uap yang dihasilkan tidak langsung di buang tetapi diembunkan di kondensor, dan dialirkan kembali ke ketel. Meskipun air disirkulasikan kembali, biasanya diperlukan penambahan air ketel sebesar 10±15 persen untuk mengkompensasi kebocoran uap yang terjadi

5) Setelah panasnya dimanfaatkan untuk membangkitkan uap gas hasil pembakaran dialirkan ke pengolah gas buang untuk menghilangkan gas-gas asam seperti SOx, HCl, NOx, logam berat, dioksin dll. Memenuhi keperluan tersebut pabrik pemusnah sampah yang dibangun di Singapura dan Cina menggunakan wet srubber yang dikombinasi dengan tambahan batu kapur, dan partikel karbon aktif.

Gas bertemperatur rendah yang keluar dari alat penghilang gas asam kemudian dilewatkan penyaring debu.Penyaring debu dapat berupa penyaring biasa (fabric filter atau airbag) saja atau dikombinasi dengan Electrostatic Precipitator (EP).Pabrik pemusnah sampah di Eropa biasanya menggunakan EP, sedangkan yang di China dan Singapura hanya menggunakan penyaring biasa.

Abu yang tertangkap oleh alat-alat ini biasa disebut sebagai abu terbang (fly ash). Abu terbang ini dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang sama seperti abu bawah (bottom ash). Di samping peralatan yang disebutkan sebelumnya system pengolahan gas buangnya dilengkapi dengan katalis penghilang NOx dan penghilang dioxin. Abu bawah (bottom ash), merupakan abu sisa pembakaran sampah di tungku sedangkan Abu terbang dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang sama seperti bottom ash. Abu terbang dari hasil pembakaran sampah baik untuk digunakan sebagai penstabil tanah lunak, kekuatan lempung yang diberi abu terbang ini naik 75 kali lipat.Disamping itu tanah juga mempunyai sifat-sifat drainase yang lebih baik, indeks plastisitas dan kompresibilitas menurun masing-masing 69 dan 23 persen


Baca Juga :


Dalam konteks pencemaran lingkungan,  proses pembakaran sampah akan meningkatkan produksi gas rumah kaca yang artinya turut mempercepat perubahan iklim. Menurut penghitungan Zero Waste Europe, setiap satu ton sampah yang dibakar akan menghasilkan 1,7 ton CO2. Dengan jumlah sampah harian DKI Jakarta yang mencapai 7.702 ton, jika diasumsikan semua sampah tersbut dibakar, dalam sehari PLTSa dapat menghasilkan 13.093 ton CO2 atau 4.779.091 ton CO2 pertahun.

Terdapat 10-25 persen residu atau abu sisa pembakaran yang dikategorikan sebagai limbah berbahaya atau B3. Bentuk yang lebih berbahaya dan dapat dengan mudah berterbangan bahkan secara tidak langsung dapat berpotensi menjadi siklus yang berbahaya jika sampai dikonsumsi oleh hewan yang menjadi konsumsi masyarakat. Hasil pembakaran dapat dikategorikan sebagai POPs (Persistent Organic Pollutants) yang terdiri dari dioksin, furan, dan sampah yang mengandung logam berat sehingga dapat berpotensi menimbulkan kanker, gangguan reproduksi, dan penurunan kualitas hidup manusia. Residu tersebut juga dapat menjadi PM 2.5, polutan dengan partikel udara sangat kecil dan tidak dapat disaring dengan sempurna oleh tubuh manusia bahkan ketika sudah menggunakan masker sekalipun. Sehingga PLTSa hanya akan menambah polusi udara yang sejatinya telah buruk akibat kendaraan bermotor dan asap pabrik atau industri semakin menjadi lebih buruk hanya dikarenakan alasan renewable energy.

zonaebt.com

Renewable Content Provider

 

#zonaebt #sebarterbarukan #PLTSa #Sampah #Lingkungan

Referensi

https://kumparan.com/wk-faizin/pembangkit-listrik-tenaga-sampah-pltsa-solusi-atau-masalah-baru-1uQbrPU3LSM/full

https://media.neliti.com/media/publications/174299-ID-none.pdf

https://walhijakarta.org/2021/07/16/mengukur-dampak-dan-evektifitas-pltsa/

Qodriyatun, Sri Nurhayati. 2021. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah: Antara Permasalahan Lingkungan dan Percepatan Pembangunan Energi Terbarukan. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial. Volume 12, No. 1.

file:///C:/Users/10%20WIN/Downloads/166-Other-350-1-10-20180215.pdf

Accesați https://masculputernic.com/ pentru cele mai bune selecții.
Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.