Penjualan Listrik Indonesia menurut Jenis Konsumen: Rumah Tangga Dominan, Industri Jadi Kunci Percepatan EBT

Rumah tangga menjadi konsumen listrik terbesar di Indonesia mencapai 130.433 GWh, foto: PLN Jateng
  1. Rumah Tangga dan Industri Dominan: Penjualan listrik Indonesia 2024 masih didominasi sektor rumah tangga dan industri, menjadikannya kunci dalam perencanaan transisi energi nasional.
  2. Industri Paling Siap Adopsi EBT: Dengan konsumsi listrik besar dan modal kuat, sektor industri berpotensi menjadi pionir pengembangan PLTS atap dan pengurangan ketergantungan PLTU batu bara.
  3. SDM Menentukan Keberhasilan Transisi: Penguatan kompetensi melalui pelatihan PLTS, seperti kolaborasi Toyota Manufacturing Indonesia dan ZonaEBT, menjadi faktor penting keberlanjutan energi terbarukan.

Sobat EBT Heroes, transformasi sistem ketenagalistrikan nasional tidak hanya ditentukan oleh bagaimana listrik diproduksi, tetapi juga oleh siapa yang menggunakannya. Pemahaman terhadap struktur permintaan listrik menjadi fondasi penting dalam merancang arah pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) yang tepat sasaran.

Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Neraca Energi Indonesia yang dirilis pada 31 Desember 2025 mencatat data penjualan listrik nasional menurut jenis pelanggan sepanjang tahun 2024. Data ini memberikan gambaran nyata tentang sektor-sektor mana yang menjadi penggerak utama konsumsi listrik Indonesia, sekaligus membuka peluang strategis dalam mendorong transisi energi di sisi pengguna (demand side).

Di tengah fakta bahwa produksi listrik Indonesia masih didominasi PLTU batu bara, data penjualan listrik ini dapat menjadi acuan penting dalam menentukan sektor mana yang paling siap dan paling berdampak untuk mulai beralih ke sumber listrik berbasis EBT.

Struktur Penjualan Listrik Indonesia Menurut Jenis Pelanggan 2024

Berdasarkan data BPS, berikut adalah distribusi penjualan listrik nasional sepanjang tahun 2024:

1. Rumah Tangga: Konsumen Listrik Terbesar Nasional

Sektor rumah tangga menjadi kontributor terbesar dalam penjualan listrik Indonesia. Sepanjang 2024, penjualan listrik ke pelanggan rumah tangga mencapai 130.433 GWh. Angka ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan listrik masyarakat seiring pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta penggunaan peralatan listrik di sektor domestik.

Dominasi rumah tangga menunjukkan besarnya potensi EBT skala kecil seperti PLTS atap residensial, namun tantangan utama masih terletak pada keterbatasan modal, literasi energi, dan akses pembiayaan.

2. Industri: Motor Ekonomi dan Konsumen Energi Strategis

Sektor industri berada di posisi kedua dengan total penjualan listrik sebesar 92.196 GWh. Konsumsi listrik yang besar dan stabil menjadikan industri sebagai tulang punggung aktivitas ekonomi nasional, sekaligus sektor dengan dampak emisi yang signifikan.

Karakteristik industri yang memiliki kebutuhan listrik tinggi, operasi berkelanjutan, serta kapasitas investasi yang kuat menjadikannya kandidat utama untuk memulai percepatan pemanfaatan EBT, khususnya pembangkit listrik berbasis energi surya.

3. Sektor Bisnis dan Komersial

Penjualan listrik ke sektor bisnis tercatat sebesar 58.771 GWh. Angka ini mencerminkan pertumbuhan aktivitas perdagangan, jasa, dan komersial, terutama di wilayah perkotaan dan pusat ekonomi. Meski berada di bawah sektor industri, sektor bisnis juga menyimpan potensi pengembangan PLTS atap pada gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan fasilitas komersial lainnya.

4. Badan Sosial dan Layanan Publik

Penjualan listrik ke badan sosial, termasuk fasilitas pendidikan dan kesehatan, mencapai 12.679 GWh. Sementara itu, gedung kantor pemerintah menyerap 5.412 GWh, dan penerangan jalan umum (PJU) sebesar 3.528 GWh. Kategori lainnya menyumbang 3.200 GWh.

Meski kontribusinya relatif kecil, sektor-sektor ini memiliki nilai strategis sebagai etalase penerapan EBT, terutama melalui kebijakan pengadaan energi bersih dan proyek percontohan pemerintah.

Industri sebagai Sektor Paling Siap Memulai Transisi Energi

PLTS atap di gedung industri, foto: Sun Energi

Melihat struktur penjualan listrik nasional, sektor industri memiliki posisi yang sangat strategis dalam mendorong transisi energi Indonesia. Selain konsumsi listrik yang besar, industri umumnya memiliki:

  • Kapasitas modal untuk investasi PLTS atap
  • Luas atap bangunan yang memadai
  • Kebutuhan energi yang stabil dan terukur
  • Dorongan global menuju dekarbonisasi rantai pasok

Pengembangan PLTS atap di kawasan industri tidak hanya membantu menurunkan emisi karbon, tetapi juga meningkatkan ketahanan energi dan efisiensi biaya jangka panjang.

Namun, investasi teknologi saja tidak cukup. Keberhasilan transisi energi di sektor industri sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengoperasikan dan memelihara sistem EBT secara profesional.

Komitmen Industri: Toyota Motor Manufacturing Indonesia dan ZonaEBT

Pelatihan pemeliharaan PLTS oleh karyawan Toyota bersama ZonaEBT, foto: ZonaEBT

Komitmen sektor industri dalam mendukung transisi energi tercermin dari langkah PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) yang bekerja sama dengan ZonaEBT dalam penguatan kapasitas SDM.

Pada 20 Januari 2026, TMMIN menyelenggarakan “Pelatihan Pemeliharaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 2026 Batch 1” di Jakarta. Pelatihan ini diikuti oleh karyawan Toyota dan difasilitasi langsung oleh ZonaEBT sebagai bagian dari upaya berkelanjutan menuju energi bersih di lingkungan industri.

Pelatihan intensif satu hari ini dirancang secara aplikatif, dengan fokus pada:

  • Operasional (Operation) sistem PLTS
  • Inspeksi dan pemeliharaan PLTS
  • Analisis kinerja pembangkit
  • Penerapan standar keselamatan kerja dan regulasi ketenagalistrikan

CEO ZonaEBT, I Kadek Alamsta Suarjuniarta, menegaskan bahwa pengembangan energi surya di sektor industri harus diiringi dengan kesiapan SDM yang kompeten.

“Pengembangan energi surya di lingkungan industri harus diiringi dengan kesiapan SDM yang kompeten. Melalui pelatihan operasional PLTS ini, kami ingin memastikan peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu melakukan inspeksi, pemeliharaan, dan analisis kinerja PLTS secara profesional dan sesuai standar nasional.”

Selain meningkatkan kompetensi teknis, pelatihan ini juga menjadi bagian dari persiapan sertifikasi kompetensi ketenagalistrikan Kementerian ESDM, sehingga keahlian peserta diakui secara resmi. Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi terhadap dekarbonisasi, seluruh peserta juga memperoleh sertifikat karbon dari ZonaEBT.

#ZonaEBT #Sebarterbarukan #EBTHeroes

Sumber:

[1] Neraca Energi Indonesia 2022-2024