Star energy bintang harapan panas bumi Indonesia

Bisnis kelistrikan di Indonesia memang menggiurkan. Banyak pemodal kelas kakap tergiur. Ini dibuktikan oleh taipan sekelas Prajogo Pangestu yang pada tahun 2018. Melalui perusahaan PT Barito Pacific TBK (BRPT) resmi mengakuisisi sebuah perusahaan Singapura. Bernama Star Energy Group Holdings Pte Ltd dengan menggenggam sebanyak 66,67% jumlah saham, otomatis menjadikan Prajogo Pangestu dan PT Barito Pacific TBK menjadi pengendali penuh.

Star Energy Perusahaan merupakan produsen energi panas bumi terkemuka di Indonesia

Prajogo dan Grup Barito merogoh kocek sebesar US$ 755 juta untuk nilai akuisisi tersebut. Selain memiliki anak usaha di bidang energi melalui Star Energy. Group Barito juga tercatat memiliki anak perusahaan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA). lini bisnis di bidang petrokimia.

Kini, Barito memiliki dua lini bisnis utama, petrokimia dan energi. Wakil Direktur Utama Barito Pacific Rudy Suparman, mengibaratkan, Barito kini punya dua kaki. “Kinerja Barito bakal lebih stabil sehingga bisa berlari semakin kencang,” ujar Rudy beberapa waktu lalu.

Baca juga:



Sejarah

Star Energy yang pada mulanya didirikan pada tahun 2003 oleh Supramo Santosa kini tercatat sebagai produsen energi panas bumi terbesar di Indonesia mengalahkan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). Bahkan, produksi panas bumi Star Energy termasuk salah satu yang terbesar di dunia.

Portofolio pembangkit Star Energy

Saat ini, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) milik Star Energy memiliki kapasitas sebesar 875 megawatt (MW). Kapasitas tersebut berasal dari tiga aset panas bumi yang telah dimiliki Star Energy, yakni lapangan panas bumi Wayang Windu, lapangan panas bumi Salak, dan lapangan panas bumi Darajat. Hingga 2028, Star Energy menargetkan menjadi operator panas bumi dengan kapasitas sebesar 1.200 MW.

• PLTP Wayang Windu sebesar 227 MW

• PLTP Salak sebesar 377 MW

• PLTP Darajat sebesar 271 MW

Selain itu Star Energy juga mempunyai hak untuk mengelola energi panas bumi Hamiding di Halmahera Barat, Maluku Selatan, dan panas bumi Sekincau di Sumatera selatan.

Dalam rencana penambahan kapasitas ini, sambungnya, perusahaan akan membangun pembangkit listrik panas bumi di Sekincau dengan potensi kapasitas sebesar 500 MW, sementara di Maluku Selatan sebanyak 200 MW hingga 300 MW.

Baca juga:



Potensi Panas Bumi Indonesia

Menurut catatan terbaru Badan Geologi, potensi panas bumi di Indonesia sebesar 23,9 Gigawatt (GW) hingga Desember 2019. Berdasar data Direktorat Panas Bumi, potensi ini baru dimanfaatkan sebesar 8,9% atau 2.130,6 MW, masih banyak yang belum dimanfaatkan. perihal ini Pemerintah menargetkan peningkatan pemanfaatan panas bumi menjadi 7.241,5 MW atau 16,8% di 2025.

Potensi cadangan yang besar dimiliki oleh Indonesia. Dilansir dari Dunia-energi.com. “Saat ini, Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Amerika Serikat sebagai produsen energi panas bumi terbesar. Dengan demikian hal ini bisa dijadikan momentum dimana panas bumi di Indonesia dapat ikut berperan sebagai agenda pembangunan ekonomi berkelanjutan serta membantu meningkatkan perekonomian dalam negeri serta membantu menurunkan emisi gas rumah kaca,” ujar Prijandaru dalam acara pembukaan DIIGC 2020, Selasa(8/9).

Angka potensi panas bumi di Indonesia diatas kertas yang besar. Akan sia-sia belaka, jika tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Perlu dukungan serta komitmen lintas kementerian dan daerah. Terkait perizinan dan investasi pembangunan. Apalagi kita tau, bahwa sebagian besar titik energi panas bumi berada di kawasan hutan lindung.

.

#listrik #ebt #energi #power #terbarukan #starenergy #swasta #pln #esdm #panasbumi #geothermal #TBK #PLTP #salak #wayangwindu #derajat #barito #BRPT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 Comment