Green Beauty : Transformasi Industri Sampo Menjadi Eco-Friendly

Ilustrasi Green Beauty. Sumber : biotech.sherocosmetics.com
  • Green Beauty, mengacu pada produk-produk kecantikan yang bersumber, diproduksi, dan dikemas secara berkelanjutan.
  • Inovasi Produk green beauty terutama sampo dengan menggunakan bahan alami, kemasan biodegradable.
  • Secara aktif produk dari LBP dan Sensatia Botanicals dapat membantu mengurangi jejak emisi karbon serta dapat membuka peluang kerja dan berkolaborasi aktif dengan UMKM lokal.
  • Tantangan dari adanya green beauty pada biaya produksi dan kemasan yang tinggi serta edukasi masyarakat.

Halo Sobat EBT Heroes!

Dulu, produk kecantikan lebih fokus pada manfaat seperti menjadikan rambut lebih halus, mengurangi kerontokan, atau mengatasi ketombe. Namun, saat ini konsumen semakin sadar bahwa produk kecantikan yang mereka gunakan dapat berdampak negatif pada lingkungan. Sebuah survei yang dilakukan oleh Nielsen pada tahun 2023 mengungkapkan bahwa sekitar 68% masyarakat Indonesia kini memperhatikan faktor-faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam memilih produk yang mereka beli.

Melihat tren tersebut, muncul fenomena baru yang disebut green beauty. Istilah ini merujuk pada produk kecantikan yang diproduksi, dikemas, dan bersumber secara berkelanjutan, dengan fokus utama pada ramah lingkungan. Penggunaan bahan kimia, seperti sulfat dalam sampo atau kondisioner, yang dapat menguras air, merusak sumber daya alam, serta berkontribusi pada emisi gas rumah kaca, menjadi salah satu alasan penting mengapa green beauty semakin diminati.

Baca Juga



Transformasi Industri Kecantikan Khususnya Sampo

Ilustrasi Green Beauty : Shampoo. Sumber : analysis.netray.id  

Industri kecantikan telah mengalami transformasi besar seiring dengan perkembangan zaman. Produk kecantikan, termasuk sampo, dulunya lebih fokus pada manfaat instan seperti rambut yang lebih lurus, bervolume, atau berkilau. Namun, dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya keberlanjutan, inovasi produk kecantikan mulai bergeser untuk menciptakan solusi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dalam konsep green beauty, industri sampo mulai mengarah pada produk dengan bahan alami dan bebas bahan kimia. Pada beberapa tahun terakhir, muncul juga inovasi dalam kemasan, dengan mengurangi penggunaan botol plastik dan beralih ke sampo bar atau bentuk padat yang lebih ramah lingkungan.

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 281,6 juta jiwa pada Juni 2024 menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pasar potensial bagi industri kecantikan, terutama produk sampo, semakin besar. Hal ini membuka peluang bagi merek untuk memanfaatkan tren keberlanjutan yang tengah berkembang di kalangan konsumen.

Pengembangan Bisnis Berkelanjutan di Industri Sampo

Tren green beauty telah menjadi inovasi signifikan dalam industri sampo, berkembang pesat untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin peduli terhadap dampak lingkungan. Salah satu inovasi utama dalam produk sampo adalah penggunaan bahan alami atau organik, seperti tea tree, peppermint, ekstrak ginseng, jahe, dan lainnya. Hal ini bertujuan untuk menghindari penggunaan bahan kimia berbahaya, seperti paraben, silikon, dan SLS (Sodium Lauryl Sulfate), yang dapat menyebabkan iritasi kulit atau merusak lingkungan.

Selain komposisi bahan, inovasi juga terlihat pada kemasan produk. Sampo padat, misalnya, hadir sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai. Banyak merek kini beralih ke kemasan daur ulang, menggunakan bahan PCR (Post-Consumer Recycled Plastic), yang dihasilkan dari sampah plastik yang telah didaur ulang. Selain itu, beberapa tempat juga menyediakan opsi untuk membeli produk sampo tanpa kemasan baru, memungkinkan konsumen membawa botol mereka sendiri dari rumah untuk mengurangi limbah plastik sekali pakai.

Di sisi lain, konsumen kini berharap adanya transparansi dari merek yang mereka beli. Merek diharapkan untuk mencantumkan komposisi bahan dan informasi terkait dampak lingkungan, seperti klaim produk yang biodegradable atau kemasan ramah lingkungan. Sertifikasi seperti Certified B Corporation juga penting, karena dapat membantu membangun kepercayaan dan menunjukkan komitmen merek terhadap keberlanjutan di mata konsumen.

Baca Juga



Studi Kasus Brand Eco-Friendly

Ilustrasi Love Beauty and Planet. Sumber : beautynesia.id  

Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya keberlanjutan, semakin banyak merek eco-friendly yang mengadopsi pendekatan berkelanjutan. Beberapa merek telah menunjukkan inovasi positif yang mendukung keberlanjutan dan meningkatkan daya saing mereka di pasar global.

Salah satu contoh inovasi tersebut adalah Love Beauty and Planet (LBP), produk kecantikan yang diluncurkan Unilever pada tahun 2018. LBP menawarkan produk berkelanjutan dan ramah lingkungan dengan filosofi “Small Acts of Love for The Planet,” yang bertujuan memberikan perawatan berkualitas tanpa merusak lingkungan.

Produk LBP menggunakan bahan alami, seperti minyak kelapa, butter, lavender, dan lainnya, yang diproses secara berkelanjutan. Produk ini menghindari penggunaan bahan kimia berbahaya seperti paraben, silikon, dan pewarna buatan. Kemasan produk LBP juga terbuat dari bahan daur ulang, dan merek ini memperoleh sertifikasi Vegan dan Cruelty-Free dari PETA.

Selain itu, LBP berkomitmen untuk membantu mengurangi jejak emisi karbon, membuka peluang kerja, dan berkolaborasi dengan UMKM lokal, menjadikannya contoh yang baik dari bisnis yang mengutamakan keberlanjutan.

Ilustrasi Sensatia Botanicals Shampoo. Sumber : reviews.femaledaily.com

Selain LBP sebagai salah satu brand yang memiliki kontribusi ke lingkungan, ada juga brand lokal dari Bali yang berdiri pada tahun 2000 yaitu Sensatia Botanicals. Produk dari LBP tumbuh dengan produk natural yang dikenal secara internasional, dengan komitmen keberlanjutan dengan fokus pada transparansi, keadilan sosial, dan pelestarian alam.

Bahan-bahan yang diformulasikan dengan bahan alami seperti tea tree, peppermint, ekstrak buah tropis, dan bahan alami lainnya. Sama halnya dengan LBP yang bebas dengan bahan kimia seperti paraben, silicon, dan SLS serta bebas dari pewarna sintesis. Selain itu, kemasan dibuat dari bahan kaca dan produk plastik daur ulang sehingga brand ini memiliki sertifikasi halal, GMP, dan menjalani uji dematologi.

Brandini juga mendukung atas dampak positif lingkungan dengan mengolah limbah sendiri dan menggunakan energi ramah lingkungan untu proses produksinya. Dari sisi ekonomi, sama halnya LBP, brand ini memiliki kontribusi pada ekonomi lokal di Bali dan membuka peluang lapangan kerja bagi masyarakat setempat dan menjadikan bisnis berkelanjutan.

Tantangan Transformasi Green Beauty

Tantangan menuju green beauty pada industri sampo penting untuk kemajuan bisnis keberlanjutan. Salah satu tantangannya pada biaya produksi yang tinggi. Penggunaan bahan alami atau organik cenderung memiliki harga yang tinggi. Hal ini disebabkan, selama proses pertanian yang berkelanjutan serta jumlah pasokan yang terbatas. Selain itu, tingkat tingginya investasi teknologi untuk kemasan yang biodegradable yang merupakan bentuk tantangan yang harus dihadapi.

Sisi lain dari tantangan green beauty dengan mengedukasi konsumen. Banyak masyarakat yang belum benar-benar memahami makna “eco-friendly”. Pada dasarnya, sebagian oarang mengira bahwa produk dengan bahan organik akan selalu ramah lingkungan, namun kenyataannya masih ada jejak karbon dan kemasan yang juga memiliki peran yang penting sehingga perlu pemahaman yang baik.

Berdasarkan pemahaman ini, sebagai konsumen juga perlu berhati-hati dalam brandyang mengklaim secara berlebihan bahkan produk palsu yang disebut sebagai greenwashing. Untuk mengatasinya, sebagai perusahaan perlu memiliki dasar transparansi dan standar industri yang lebih ketat terhadap produk-produk yang diproduksinya sehingga menciptakan bisnis keberlanjutan yang jujur.

#zonaebt #sebarterbarukan #EBTheroes

Editor : Alfidah Dara Mukti

Referensi