
- Indonesia memiliki potensi besar energi terbarukan yang layak dikembangkan secara ekonomi: Kajian menunjukkan bahwa hingga 333 GW kapasitas energi terbarukan dari tenaga surya, angin, dan hidro dapat dibangun secara finansial menguntungkan di berbagai wilayah Indonesia.
- Potensi ini mencakup berbagai jenis teknologi EBT: Rinciannya mencakup kapasitas besar untuk PLTS daratan, PLTB onshore, dan sejumlah kecil PLTM, sehingga kombinasi teknologi ini dapat menjadi tulang punggung transisi energi nasional.
- Pengembangan potensi EBT ini membuka peluang investasi dan percepatan transisi: Dengan kondisi finansial yang layak di banyak lokasi, potensi tersebut dapat menarik investasi, mempercepat pemanfaatan energi bersih, serta membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada pembangkit fosil dan menurunkan emisi sektor energi.
Sobat EBT Heroes! Indonesia tengah berdiri di persimpangan penting dalam perjalanan transisi energinya. Di satu sisi, ketergantungan pada energi fosil masih cukup tinggi. Di sisi lain, potensi energi baru dan terbarukan (EBT) yang dimiliki negeri ini sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Institute for Essential Services Reform (IESR) melihat peluang tersebut sebagai kunci masa depan energi Indonesia yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan.
Melalui laporan Unlocking Indonesia’s Renewables Future: the Economic Case of 333 GW of Solar, Wind and Hydro Projects, IESR menyoroti peluang unik Indonesia untuk memanfaatkan sumber daya matahari, angin, dan air yang melimpah. Studi ini tidak hanya memetakan potensi teknis EBT, tetapi juga menilai kelayakan ekonominya secara komprehensif.
Pengembangan EBT menjadi semakin krusial mengingat cadangan energi fosil yang kian menipis dan dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Emisi karbon, pencemaran udara, hingga perubahan iklim global menjadi alasan kuat mengapa Indonesia perlu mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Baca Juga:
- 10 Negara Tercepat Lakukan Dekarbonisasi Listrik, Bagaimana Strategi Mereka?
- Banyak PLTS Desa Mangkrak, SINAR Dorong Penguatan Teknisi Lokal Sebagai Solusi
3 EBT Utama: Surya, Angin, dan Air
Saat ini terdapat berbagai jenis EBT yang dapat dikembangkan di Indonesia. Namun, laporan IESR menegaskan bahwa energi surya, angin, dan air merupakan tiga sumber utama dengan potensi terbesar. Secara total, Indonesia memiliki potensi teknis sebesar 584 Gigawatt (GW) dari ketiga sumber tersebut. Dari jumlah itu, sekitar 333 GW dinilai layak secara ekonomi dan realistis untuk dikembangkan dalam jangka menengah hingga panjang.
1. Energi Surya
Energi surya menjadi primadona dalam peta EBT Indonesia. Secara teknis, potensi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) mencapai 336,5 GW, menjadi yang terbesar dibandingkan sumber EBT lainnya. Dari angka tersebut, setidaknya 165,9 GW dinilai layak secara ekonomi berdasarkan perhitungan biaya investasi, harga listrik, dan potensi pengembalian modal.
IESR mencatat terdapat 781 lokasi potensial untuk pembangunan PLTS di berbagai wilayah Indonesia. Namun, tidak semua lokasi tersebut memenuhi kriteria kelayakan ekonomi. Hanya sekitar 290 lokasi yang dinilai ekonomis untuk dikembangkan. Faktor seperti akses jaringan listrik, biaya lahan, serta infrastruktur pendukung menjadi penentu utama.
Besarnya potensi ini menunjukkan bahwa PLTS, baik skala utilitas maupun atap, dapat menjadi tulang punggung transisi energi Indonesia, terutama di wilayah dengan intensitas radiasi matahari tinggi dan kebutuhan listrik yang terus meningkat.
2. Energi Angin
Di urutan kedua terdapat energi angin atau bayu. Potensi teknis pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di Indonesia mencapai 246,2 GW. Menariknya, sebagian besar potensi tersebut juga dinilai layak secara ekonomi, yakni sekitar 167 GW.
IESR mengidentifikasi 314 lokasi yang layak secara teknis untuk pembangunan PLTB, dengan 204 lokasi di antaranya memenuhi kriteria kelayakan ekonomi. Wilayah pesisir dan dataran tinggi dengan kecepatan angin yang stabil menjadi kandidat utama pengembangan PLTB.
Energi angin memiliki keunggulan sebagai sumber listrik bersih dengan emisi hampir nol selama masa operasi. Jika dikembangkan secara konsisten, PLTB dapat berperan penting dalam diversifikasi bauran energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbasis batu bara.
3. Energi Air
Energi air, khususnya pembangkit listrik tenaga air (PLTA) skala mini dan mikro, memiliki potensi yang lebih kecil dibandingkan surya dan angin. Berdasarkan perhitungan teknis, potensi tenaga air tercatat sebesar 1,7 GW. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 0,7 GW yang dinilai layak secara ekonomi.
Sebanyak 458 lokasi dikategorikan layak secara teknis, namun hanya 139 lokasi yang memenuhi perhitungan ekonomi. Tantangan utama pengembangan PLTA mini dan mikro terletak pada biaya pembangunan awal, akses lokasi yang sering kali terpencil, serta kebutuhan infrastruktur pendukung.
Meski demikian, PLTA skala kecil tetap memiliki peran strategis, terutama untuk penyediaan listrik di daerah terpencil dan belum terjangkau jaringan listrik utama.
Bagaimana Kelayakan Dinilai?
IESR menjelaskan bahwa kelayakan teknis dinilai berdasarkan aspek spasial, potensi produksi energi, serta kapasitas energi tahunan. Sementara itu, kelayakan ekonomi dianalisis melalui berbagai variabel, seperti model pendanaan, struktur proyek, asumsi finansial, biaya lahan, infrastruktur, hingga asuransi. Pendekatan ini memastikan bahwa proyek EBT yang direkomendasikan tidak hanya memungkinkan secara teknis, tetapi juga berkelanjutan secara finansial.
Momentum EBT Indonesia Tinggal Menunggu Aksi
Sobat EBT Heroes!, laporan IESR ini menegaskan satu hal penting: Indonesia tidak kekurangan potensi energi terbarukan, yang dibutuhkan adalah keberanian kebijakan dan konsistensi implementasi. Dengan potensi 336,5 GW dari surya serta ratusan gigawatt dari angin dan air, Indonesia memiliki modal kuat untuk mempercepat transisi energi.
Pemanfaatan 333 GW EBT yang layak secara ekonomi bukan sekadar soal memenuhi target bauran energi, tetapi juga peluang menciptakan lapangan kerja hijau, menekan biaya listrik jangka panjang, dan memperkuat ketahanan energi nasional. Jika momentum ini dimanfaatkan dengan tepat, Indonesia bukan hanya menjadi pengguna EBT, tetapi juga pemain penting dalam peta energi bersih global.
#zonaebt #EBTHeroes #Sebarterbarukan
Sumber: