CESS: Pembangkit Panas Bumi Kunci Percepatan Transisi EBT Indonesia

Pembangkit Listrik Energi Pana Bumi sebagai kunci percepatan transisi EBT di Indonesia, foto: PLN
  1. Panas bumi dinilai CESS sebagai kunci percepatan transisi energi karena sifatnya yang stabil dan rendah emisi.
  2. Target RUPTL 2025–2034 menetapkan 5,2 GW kapasitas panas bumi dari total 42,1 GW EBT.
  3. Pemanfaatan panas bumi kini meluas ke sektor non-listrik melalui program Beyond Electricity seperti green hydrogen dan data center.

Sobat EBT Heroes! Di tengah upaya Indonesia mempercepat transisi energi, panas bumi mulai semakin dilirik sebagai salah satu solusi utama. Bukan tanpa alasan, sumber energi ini dinilai mampu menjadi tulang punggung sistem energi bersih karena sifatnya yang stabil dan rendah emisi.

Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS), Ali Ahmudi Achyak, bahkan menyebut bahwa panas bumi berpotensi menjadi game changer dalam transisi energi nasional.

 “Panas bumi bisa menjadi game changer, terutama karena Indonesia memiliki salah satu cadangan terbesar di dunia,” ujarnya mengutip Antara, Jumat (27/3/2026).

Panas Bumi dan Perannya dalam Transisi Energi

Peran panas bumi dalam transisi energi Indonesia, foto: Dunia Energi

Pemerintah sendiri telah memasukkan panas bumi sebagai bagian penting dalam rencana pengembangan energi nasional. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN periode 2025–2034, target penambahan kapasitas pembangkit EBT mencapai 42,1 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, sekitar 5,2 GW berasal dari panas bumi.

Angka ini menunjukkan bahwa panas bumi tidak hanya dipandang sebagai pelengkap, tetapi sebagai salah satu kontributor utama dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan sekaligus menekan emisi karbon.

Hal ini tidak lepas dari karakteristik panas bumi yang bersifat base load, yaitu mampu menghasilkan listrik secara stabil selama 24 jam. Berbeda dengan energi surya atau angin yang bergantung pada kondisi alam, panas bumi dapat menjadi fondasi sistem energi bersih yang andal.

Baca Juga:



Tren Positif Pengembangan Panas Bumi

Perkembangan industri panas bumi di Indonesia juga mulai menunjukkan tren yang cukup positif. Salah satu contohnya datang dari PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO).

Kapasitas terpasang perusahaan ini tercatat meningkat menjadi 727 megawatt (MW), dari sebelumnya 672 MW. Selain itu, pada 2025 PGEO juga mencatat produksi listrik hijau tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, yakni mencapai 5.095 gigawatt hour (GWh), naik 5,55% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan PGEO juga mengalami peningkatan menjadi 432,72 juta dolar AS pada 2025, dibandingkan 407,12 juta dolar AS pada tahun sebelumnya.

Menurut Ali, tren ini menjadi sinyal positif bagi masa depan energi panas bumi di Indonesia. “Jika kinerja seperti ini terus dijaga dan diperluas, bukan tidak mungkin transisi energi akan berjalan lebih agresif,” jelasnya.

Lebih dari Sekadar Listrik: Potensi Beyond Electricity

Proyek Green Hydrogen PGEO di Ulubelu, Lampung, foto: Pertamina

Menariknya, potensi panas bumi sebenarnya tidak berhenti pada sektor ketenagalistrikan. Pemanfaatannya kini mulai diperluas ke sektor non-listrik melalui berbagai inovasi teknologi.

Salah satu inisiatif yang menonjol datang dari PGEO melalui program Beyond Electricity. Program ini bertujuan untuk menciptakan nilai tambah dari aset panas bumi yang sudah ada tanpa harus membuka sumur baru, sehingga lebih efisien dan berkelanjutan.

1. Green Hydrogen

Pengembangan hidrogen hijau dilakukan di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Ulubelu, Lampung. Proyek ini masih dalam tahap pilot dan berfokus pada pengujian teknologi serta kelayakan ekonomi.

Ke depan, hidrogen hijau berpotensi menjadi bahan bakar bersih untuk sektor industri dan transportasi.

2. Green Ammonia

Selain hidrogen, PGEO juga mengembangkan green ammonia bersama PT Pertamina Gas. Produk ini memiliki potensi besar sebagai bahan baku pupuk, bahan bakar kapal, hingga komoditas ekspor energi bersih.

Saat ini, proyek masih dalam tahap studi kelayakan, namun dinilai sangat strategis untuk masa depan energi global.

3. Green Data Center

Inovasi lainnya adalah pengembangan pusat data berbasis energi panas bumi di WKP Kamojang, Jawa Barat. Dengan pasokan listrik yang stabil, panas bumi dinilai sangat cocok untuk mendukung operasional data center yang membutuhkan energi tanpa henti.

Sobat EBT Heroes, dari potensi yang besar hingga pemanfaatan yang semakin luas, panas bumi memang memiliki posisi strategis dalam transisi energi Indonesia. Tidak hanya sebagai sumber listrik bersih, tetapi juga sebagai fondasi untuk pengembangan energi masa depan seperti hidrogen, amonia, hingga infrastruktur digital.

Dengan dukungan kebijakan, investasi, dan inovasi teknologi, bukan tidak mungkin panas bumi benar-benar menjadi kunci utama dalam mewujudkan kemandirian energi dan dekarbonisasi Indonesia.

#ZONAEBT #EBTHeroes #Panasbumi #Geothermal

Sumber:

[1] Pengamat nilai panas bumi berpotensi percepat laju transisi energi

[2] Langkah Nyata Menuju Beyond Electricity, PGE Luncurkan Pilot Project Green Hydrogen Berbasis Panas Bumi

Bot
ZEBot Asisten Digital ZonaEBT
Hai Kak!
Aku ZEBot, asisten digital ZonaEBT. Ada yang bisa kubantu hari ini?