Transportasi dan Industri: Sumber Emisi Penyebab Polusi di DKI

  • Kualitas udara di DKI Jakarta semakin memburuk selama Juli-Agustus 2023
  • Sektor transportasi dan industri berkontribusi besar pada beban emisi CO di Jakarta yang mengancam kesehatan manusia
  • Jejak emisi CO perlu diatasi bersama dengan penggunaan transportasi publik dan kendaraan listrik, regulasi ketat, penghijauan, serta pengelolaan sampah

Sobat EBT Heroes, tahukah kamu bahwa kualitas udara di langit Jakarta dan sekitarnya semakin memburuk, terutama selama periode Juli-Agustus 2023. Indeks Kualitas Udara (AQI) rata-rata di Jakarta mencapai skor 120 hingga 170, yang berarti tergolong dalam kategori tidak sehat. Meskipun, masalah polusi udara bukanlah hal baru bagi ibu kota Indonesia ini, akan tetapi tingkat pencemaran yang semakin meningkat perlu menjadi perhatian serius.

Laporan Hasil Inventarisasi Emisi Polusi Udara Jakarta tahun 2020 mencatat, udara ibu kota menanggung beban pencemaran dari berbagai jenis polutan dengan volume yang sangat signifikan. Berikut data jenis polutan yang mencemari udara Jakarta.

Berbagai polutan ini umumnya berasal dari beberapa sektor yang mengelilingi Ibu Kota Jakarta. Sektor-sektor pengguna bahan bakar di DKI Jakarta yang menyumbang polutan tersebut, yaitu sektor transportasi, industri energi, industri manufaktur, sektor perumahan, dan komersial.

Khusus karbon monoksida (CO), tingkatan kontribusi emisi polutan udara masing-masing sektor tersebut dapat dilihat melalui data dibawah ini.

Kontribusi Sektor Transportasi Terhadap Emisi Karbon Monoksida di DKI Jakarta

Sektor transportasi di DKI Jakarta memiliki peran sentral dalam peningkatan tingkat polusi udara. Salah satu sumber utama polusi tersebut adalah asap kendaraan bermotor yang menghasilkan gas berbahaya, seperti karbon monoksida (CO) yang memiliki dampak serius terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Tingginya emisi CO dapat menyebabkan gejala seperti kelelahan, sakit kepala, hingga masalah pernapasan.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan, bahwa jumlah kendaraan bermotor di wilayah ibu kota berada di angka yang sangat tinggi, yaitu melebihi 26 juta kendaraan. Angka ini mencakup berbagai jenis kendaraan, mulai dari mobil penumpang, bus, truk, hingga sepeda motor. Jumlah kendaraan yang begitu besar ini menunjukkan betapa padatnya lalu lintas di Jakarta, yang berdampak signifikan pada tingkat beban emisi karbon monoksida (CO) ke atmosfer.

Baca juga



Dalam Laporan Hasil Inventarisasi Emisi Polusi Udara Jakarta pada tahun 2018, bila dilihat berdasarkan jenis transportasi yang beroperasi di sekitar wilayah DKI Jakarta, sektor transportasi darat menyumbang beban emisi CO tertinggi ke atmosfer.

Kontribusi Sektor Industri Terhadap Emisi Karbon Monoksida di DKI Jakarta

Ilustrasi Emisi Sektor Industri. Sumber: unsplash.com

Sobat EBT Heroes, selain sektor transportasi, industri juga memiliki peran penting dalam meningkatkan tingkat polusi udara di Jakarta. Data hasil laporan inventarisasi emisi polusi udara Jakarta tahun 2020 menunjukkan, bahwa sektor industri energi berkontribusi sebesar 1,76%, sementara industri pengolahan mencapai 1,25% dari emisi CO di kota ini. Meskipun, kontribusinya lebih kecil dibandingkan dengan sektor transportasi, namun sektor industri juga menjadi penyumbang signifikan dari emisi karbon monoksida di langit ibu kota.

Di sektor manufaktur, penggunaan batu bara memiliki dampak signifikan pada beban emisi Karbon Monoksida. Meskipun penggunaan bahan bakar ini hanya sekitar 4%, namun ia berkontribusi sebesar 46,90% atau sekitar 1.753 ton/tahun dari total emisi CO. Sebaliknya, bahan bakar minyak menghasilkan emisi sekitar 1.301 ton/tahun atau sekitar 34,8%, meskipun digunakan dalam jumlah yang lebih besar, yakni sekitar 44%. Bahan bakar dengan tingkat emisi paling rendah adalah gas, meskipun digunakan dalam jumlah besar sekitar 52%, hanya menghasilkan 18% dari total beban emisi CO.

Sementara, dalam sektor industri energi, sebagian besar emisi CO berasal dari pembakaran bahan bakar gas, yaitu sekitar 5.191 ton/tahun. Hal ini terjadi karena penggunaan bahan bakar gas di sektor ini jauh lebih tinggi, mencapai 97%. Meskipun demikian, rasio emisi CO di sektor energi hanya 1,4 kali lipat dari sektor manufaktur, meskipun total penggunaan bahan bakar di sektor energi tiga kali lipat lebih banyak daripada di sektor manufaktur.

Baca juga



Solusi untuk Mengatasi Polusi Udara di DKI Jakarta

Ilustrasi Penggunaan Sumber Daya Terbarukan yang Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan. Sumber: thepennyhoarder.com

Meningkatkan kualitas udara di Jakarta merupakan upaya yang memerlukan keterlibatan pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama. Berikut beberapa langkah yang dapat diambil:

  1. Mendorong Penggunaan Transportasi Publik: Pemerintah perlu mendorong penggunaan transportasi publik sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. Hal ini dapat membantu mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang berkontribusi pada polusi udara.
  2. Peningkatan Kendaraan Listrik: Mengganti kendaraan berbahan bakar fosil dengan kendaraan listrik adalah langkah penting untuk mengurangi emisi CO dan polutan lainnya. Inisiatif ini dapat diwujudkan melalui insentif dan program penjualan kendaraan listrik.
  3. Pengawasan Emisi: Melakukan uji emisi berkala dan memperketat penggunaan kendaraan berusia lebih dari 10 tahun dapat membantu mengurangi emisi dari sektor transportasi. Hal ini perlu ditegakkan secara ketat dan teratur.
  4. Peraturan Lingkungan yang Ketat: Perlu memperketat regulasi industri untuk mengurangi emisi dari sektor industri. Memantau dan menegakkan kepatuhan terhadap peraturan ini adalah langkah penting.
  5. Kampanye Penghijauan: Menghidupkan gerakan penghijauan dan penanaman pohon dapat membantu membersihkan udara. Program penanaman pohon di seluruh kota dapat melibatkan masyarakat dalam upaya ini.
  6. Pengelolaan Sampah: Mengatur pembakaran sampah dan menggantinya dengan metode yang ramah lingkungan, seperti daur ulang dan pengelolaan sampah yang lebih efisien, dapat mengurangi polusi udara dari sumber-sumber ini.

Dengan mengimplementasikan langkah-langkah ini, Jakarta dapat bergerak menuju udara yang lebih bersih dan sehat bagi penduduknya. Peningkatan kualitas udara adalah tantangan bersama yang memerlukan keterlibatan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, agar dengan makin tahu Indonesia sehingga dapat mencapai hasil yang lebih baik.

#zonaebt #sebarterbarukan #ebtheroes

Editor: Nur Wasilatus Sholeha

Referensi:

[1] Memahami Darurat Polusi Udara Jakarta dan Sekitarnya

[2] Jurus Jitu Tangani Tingkat Polusi Udara di Jakarta

[3] Transportasi dan Industri Pengolahan Menjadi Kontributor Terbesar Polusi Udara di Jakarta

[4] PLN Dorong Penggunaan Kendaraan Listrik Guna Kurangi Polusi Udara

[5] Bukan PLTU, Ternyata Ini Biang Kerok Polusi Udara di Jakarta

[6] Laporan Inventarisasi Emisi Polusi Udara DKI Jakarta 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *