
- PLTS garam di China mampu menghasilkan listrik 24 jam berkat teknologi Concentrated Solar Power (CSP) dan penyimpanan energi panas berbasis molten salt.
- Garam cair menyimpan panas hingga ratusan derajat Celsius, sehingga listrik tetap bisa diproduksi saat malam hari maupun cuaca mendung.
- Berbeda dari panel surya biasa, sistem ini menyimpan energi dalam bentuk panas, bukan listrik, sehingga lebih stabil untuk skala pembangkit besar.
Sobat EBT Heroes! Belakangan ini viral video yang diunggah akun Instagram @energiterkinicom yang memperlihatkan PLTS berbasis garam cair berkapasitas 100 MW di China. Pembangkit ini disebut mampu memproduksi listrik hingga 24 jam penuh, bahkan saat malam hari maupun cuaca mendung.
Kok bisa? Bukankah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) biasanya hanya menghasilkan listrik saat ada matahari?
Ternyata, teknologi yang digunakan bukan panel surya biasa (PV), melainkan sistem Concentrated Solar Power (CSP) dengan penyimpanan energi termal (thermal energy storage) berbasis garam cair.
Apa Itu PLTS Garam?
PLTS yang viral ini menggunakan teknologi CSP (Concentrated Solar Power) atau tenaga surya terkonsentrasi. Berbeda dengan panel surya fotovoltaik yang langsung mengubah cahaya menjadi listrik, sistem CSP:
- Menggunakan ribuan cermin (heliostat)
- Memfokuskan sinar matahari ke satu titik di puncak menara
- Menghasilkan panas bersuhu sangat tinggi
- Menyimpan panas tersebut dalam bentuk garam cair (molten salt)
Jadi, yang disimpan bukan listriknya, melainkan energi panasnya.
Bagaimana Cara Kerja PLTS Garam?

Berikut alur sederhananya:
1. Garam Dipanaskan di Menara Surya
Garam yang digunakan bukan air garam, melainkan campuran garam murni (biasanya nitrat) yang dilelehkan pada suhu tinggi.
Garam cair ini dipompa ke atas menara dan dipanaskan oleh sinar matahari terkonsentrasi hingga sekitar 500–565°C.
2. Disimpan dalam Tangki Isolasi
Setelah dipanaskan, garam cair dialirkan ke tangki penyimpanan panas yang sangat terisolasi.
Karena titik leleh dan titik didihnya tinggi, garam ini mampu menyimpan panas dalam waktu lama dengan kehilangan energi yang sangat kecil.
Inilah kunci kenapa listrik bisa tetap diproduksi meski malam hari.
3. Panas Digunakan untuk Menghasilkan Listrik
Saat listrik dibutuhkan (malam atau mendung), garam panas dialirkan ke penukar panas (heat exchanger) untuk:
- Memanaskan air
- Menghasilkan uap
- Menggerakkan turbin
- Memutar generator listrik
Setelah panasnya digunakan, garam yang sudah “lebih dingin” dikembalikan untuk dipanaskan lagi ke menara.
Sistem ini bekerja seperti pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), tetapi sumber panasnya berasal dari matahari.
Baca Juga:
- 5 Cara Pengolahan Sampah Menjadi Energi, Solusi Waste to Energy untuk Kota Berkelanjutan
- Banyak PLTS Desa Mangkrak, SINAR Dorong Penguatan Teknisi Lokal Sebagai Solusi
Kenapa PLTS Garam Bisa Produksi Listrik 24 Jam?
Karena yang disimpan adalah panasnya, bukan listriknya.
Selama siang hari energi matahari “ditabung” dalam bentuk garam cair panas, lalu digunakan saat malam hari.
Sistem ini membuat pembangkit tenaga surya menjadi lebih stabil dan tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca secara langsung.
Kesimpulan
PLTS garam yang viral di China bekerja dengan mengumpulkan panas matahari, menyimpannya dalam bentuk garam cair bersuhu tinggi, lalu menggunakan panas tersebut untuk menghasilkan listrik kapan saja dibutuhkan.
Teknologi ini menjadi salah satu solusi agar energi surya tidak lagi identik dengan listrik yang hanya tersedia di siang hari, tetapi bisa beroperasi lebih fleksibel dan andal untuk sistem kelistrikan.
#PLTS #Listrik #ZONAEBT #EBTHeroes
Sumber:
[1] How solar thermal energy storage works with concentrated solar energy