
Bali & NTB, 10 Oktober 2026 — Penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung transisi energi di Indonesia. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan energi bersih dan rencana pengembangan energi terbarukan di berbagai wilayah. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), lebih dari 117 mini-grid pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) telah dibangun untuk memperluas akses energi bagi masyarakat.
Meski infrastruktur energi terbarukan telah tersedia, keberlangsungan operasional pembangkit masih menjadi tantangan. Sejumlah sistem menghadapi kendala dalam pengoperasian dan pemeliharaan. Karena itu, penguatan keterampilan teknis serta tata kelola di tingkat lokal diperlukan agar fasilitas yang sudah dibangun dapat berfungsi secara optimal dan berkelanjutan.
Menjawab kebutuhan tersebut, Society of Renewable Energy (SRE) Indonesia berkolaborasi dengan Global Energy Alliance for People and Planet (GEAPP) melalui program Renewable Energy Access for the Last Mile (REAL). Program ini mendapat dukungan dari International Renewable Energy Agency (IRENA), Ministry of Foreign Affairs of Denmark, serta Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Nusa Tenggara Barat.
REAL mencakup sejumlah kegiatan, mulai dari pemetaan kondisi pembangkit dan identifikasi pemangku kepentingan, kajian model bisnis dan studi kelayakan, peningkatan kapasitas masyarakat lokal, hingga penyusunan rekomendasi rehabilitasi sistem energi terbarukan. Khusus di NTB, program tersebut menyasar sembilan sistem pembangkit, yakni lima PLTMH dan empat PLTS.
Salah satu upaya yang dilakukan melalui program REAL adalah Training of Trainers (ToT) atau pelatihan bagi calon pelatih. Kegiatan ini bertujuan membentuk jaringan pelatih dan pendamping lokal yang mampu membagikan pengetahuan serta membantu operator dan pengelola sistem energi terbarukan berbasis komunitas di NTB.
Dalam pelaksanaannya, SRE Indonesia menggandeng Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk meningkatkan kompetensi teknis peserta. Sementara itu, penguatan kemampuan organisasi dan pengelolaan komunitas dilakukan bersama Research and Development for Societal Impact (RDSI), Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Pelatihan tersebut diselenggarakan melalui tiga jalur yang saling mendukung. Pelatihan dan Sertifikasi Operasi dan Pemeliharaan PLTS berlangsung di Jimbaran, Bali, pada 28 September hingga 2 Oktober 2026. Adapun Pelatihan dan Sertifikasi Operasi dan Pemeliharaan PLTMH serta Community Organization & Management Training digelar di Mataram, NTB, pada 5–9 Oktober 2026.
Pada jalur PLTS dan PLTMH, peserta memperoleh penguatan kemampuan terkait pengoperasian pembangkit, pemeliharaan, keselamatan kerja, penanganan gangguan (troubleshooting), serta keterampilan teknis lain yang dibutuhkan untuk mempertahankan kinerja sistem. Sementara itu, pelatihan organisasi dan manajemen komunitas membekali peserta dengan kemampuan tata kelola, pengelolaan keuangan, koordinasi dengan pemangku kepentingan, serta fasilitasi masyarakat.

Kombinasi kedua aspek tersebut diharapkan dapat mendukung keberlanjutan pembangkit energi terbarukan di tingkat komunitas. Selain memastikan sistem tetap beroperasi, pengelola lokal juga membutuhkan kemampuan untuk menjalankan organisasi secara efektif, mempertahankan transfer pengetahuan, dan menyesuaikan pengelolaan energi dengan kebutuhan masyarakat.
“Perluasan akses energi terbarukan membutuhkan kapasitas lokal yang kuat agar sistem dapat terus beroperasi secara efektif dalam jangka panjang. Melalui program REAL, kami bekerja bersama para mitra untuk memperkuat kemampuan teknis maupun manajerial yang dibutuhkan di tingkat komunitas, sekaligus membangun jejaring pelatih yang dapat terus meneruskan pengetahuan tersebut secara lokal. Pendekatan ini membantu memastikan sistem energi terbarukan didukung oleh keterampilan, kelembagaan, dan kepemilikan lokal yang diperlukan untuk memberikan manfaat jangka panjang,” ujar Rizky Fauzianto, Country Director, Indonesia, Global Energy Alliance for People and Planet.
Rangkaian ToT REAL diikuti oleh 37 peserta, dengan rincian 12 peserta pada jalur PLTS, 11 peserta pada jalur PLTMH, dan 14 peserta pada jalur Community Organization & Management. Berdasarkan asal wilayah, sebanyak 22 peserta berasal dari Pulau Lombok dan 15 lainnya dari Pulau Sumbawa. Keterlibatan perempuan dalam rangkaian pelatihan ini mencapai sekitar 32% dari total peserta.
Peserta yang terlibat memiliki latar belakang beragam, termasuk guru sekolah menengah kejuruan (SMK), dosen dan akademisi, praktisi energi terbarukan, serta pendamping dan pengelola organisasi masyarakat. Keragaman tersebut diharapkan dapat memperluas penerapan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam pengelolaan energi terbarukan di tingkat lokal.
“Harapannya, keberadaan pelatih dan pendamping lokal yang telah dibekali kompetensi teknis, manajemen, dan kemasyarakatan secara terintegrasi dapat menjadi kunci bagi keberlanjutan sistem mini-grid di Nusa Tenggara Barat,” ujar Reiner Nathaniel, Chairperson, SRE Indonesia.
#ZONAEBT #EBTHeroes #Sebarterbarukan