
- Rendahnya Pemahaman Publik tentang Perubahan Iklim: Mayoritas masyarakat Indonesia masih belum memahami definisi perubahan iklim secara tepat, meskipun isu ini semakin sering dibahas dan berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.
- Kesenjangan antara Dampak Nyata dan Persepsi Masyarakat: Perubahan iklim telah memicu berbagai fenomena cuaca ekstrem, namun belum seluruhnya dipahami sebagai akibat dari aktivitas manusia dan perubahan sistem iklim global.
- Urgensi Penguatan Literasi dan Edukasi Iklim: Temuan ini menegaskan perlunya edukasi yang lebih masif dan berkelanjutan agar masyarakat memiliki pemahaman yang lebih baik serta mampu berperan aktif dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Sobat EBT Heroes, cuaca belakangan ini terasa semakin sulit ditebak. Musim hujan datang lebih lama, panas terasa lebih menyengat, banjir muncul di wilayah yang dulu relatif aman, sementara di daerah lain kekeringan justru berkepanjangan. Banyak orang mengeluh, tetapi tidak sedikit pula yang belum mengaitkan perubahan-perubahan ini dengan satu istilah besar: perubahan iklim.
Ironisnya, meski dampaknya kian terasa dalam kehidupan sehari-hari, pemahaman masyarakat Indonesia tentang perubahan iklim ternyata masih sangat terbatas. Laporan Climate Change and Energy in the Indonesian Mind dari Yale Program on Climate Change Communication menunjukkan bahwa 73% responden di Indonesia mengaku memiliki pengetahuan yang minim tentang perubahan iklim. Rinciannya, 53% hanya mengetahui sedikit, 21% belum pernah mendengarnya sama sekali, dan hanya 2% yang merasa benar-benar memahami isu ini.
Data tersebut memperlihatkan adanya jarak yang cukup lebar antara realitas dampak perubahan iklim dan tingkat kesadaran publik.
Apa Itu Perubahan Iklim?

Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang pada pola cuaca rata-rata di Bumi, baik dalam skala lokal, regional, maupun global. Perubahan ini mencakup suhu udara, curah hujan, arah angin, serta durasi musim, dan berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun.
Sejak pertengahan abad ke-20, laju perubahan iklim meningkat secara signifikan. Para ilmuwan sepakat bahwa percepatan ini terutama dipicu oleh aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, pertanian intensif, dan kegiatan industri. Aktivitas tersebut meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, yang berfungsi seperti selimut penahan panas dan mendorong kenaikan suhu rata-rata Bumi.
Meski faktor alami seperti El Niño, La Niña, aktivitas vulkanik, dan variasi energi Matahari turut memengaruhi iklim, berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut tidak cukup menjelaskan lonjakan suhu global yang terjadi saat ini tanpa campur tangan manusia.
Baca Juga
- Masa Depan yang Dipertaruhkan: Mengenal Perubahan Iklim yang Mengancam Bumi
- Inovasi Konversi Batu Bara Menjadi Bahan Baku Baterai EV
Penyebab Perubahan Iklim
Perubahan iklim yang terjadi saat ini tidak lepas dari meningkatnya aktivitas manusia sejak revolusi industri. Salah satu penyebab utamanya adalah pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas alam untuk kebutuhan energi, transportasi, dan industri. Aktivitas ini melepaskan karbon dioksida (CO₂) dalam jumlah besar ke atmosfer.
Selain itu, deforestasi dan alih fungsi lahan turut memperparah kondisi. Hutan yang seharusnya berperan sebagai penyerap karbon justru berkurang, sehingga gas rumah kaca semakin menumpuk di atmosfer. Sektor pertanian dan peternakan juga menyumbang emisi, terutama melalui gas metana (CH₄) dari limbah dan aktivitas ternak, serta dinitrogen oksida (N₂O) dari penggunaan pupuk kimia.
Gas-gas rumah kaca tersebut membentuk lapisan di atmosfer yang bekerja seperti selimut, menahan panas agar tidak lepas ke luar angkasa. Akibatnya, suhu rata-rata Bumi terus meningkat. Meski sistem iklim Bumi juga dipengaruhi oleh faktor alami seperti El Niño, La Niña, aktivitas vulkanik, dan variasi energi Matahari, para ilmuwan menegaskan bahwa faktor-faktor alami saja tidak cukup menjelaskan percepatan pemanasan global yang terjadi saat ini. Aktivitas manusia menjadi penyebab dominan perubahan iklim dalam beberapa dekade terakhir.
Dampak Perubahan Iklim di Indonesia

Bagi Indonesia, perubahan iklim bukan sekadar isu global yang jauh. Sebagai negara kepulauan tropis dengan garis pantai yang panjang, Indonesia termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Perubahan pola musim mengganggu kalender tanam petani dan meningkatkan risiko gagal panen, yang pada akhirnya memengaruhi ketahanan pangan nasional. Di wilayah pesisir, banjir rob semakin sering terjadi, sementara kenaikan suhu laut mengancam terumbu karang dan ekosistem pesisir yang menjadi sumber penghidupan jutaan nelayan.
Sejumlah kota pesisir seperti Jakarta, Demak, dan Semarang juga menghadapi ancaman serius akibat kenaikan muka air laut yang diperparah oleh penurunan muka tanah. Tanpa penanganan yang tepat, risiko tenggelamnya wilayah pesisir bukan lagi sekadar prediksi jangka panjang, melainkan ancaman nyata.
Solusi Menghadapi Perubahan Iklim
Menghadapi perubahan iklim, solusi tidak bisa bertumpu pada satu pihak saja. Diperlukan upaya bersama yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan antara lain mempercepat transisi ke energi terbarukan, mendorong efisiensi dan konservasi energi, melindungi serta memulihkan hutan dan ekosistem pesisir, serta memperbaiki pengelolaan limbah dan sektor pertanian agar lebih berkelanjutan. Di sisi lain, penguatan edukasi dan komunikasi publik menjadi kunci untuk meningkatkan literasi iklim masyarakat.
Di tingkat individu, langkah-langkah sederhana seperti menghemat listrik, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, dan menerapkan gaya hidup rendah karbon juga berkontribusi dalam upaya kolektif menekan dampak perubahan iklim.
Data bahwa 73% masyarakat Indonesia masih minim pengetahuan tentang perubahan iklim seharusnya menjadi alarm bersama. Di tengah dampak yang semakin nyata, perubahan iklim tidak lagi bisa dipandang sebagai isu abstrak. Dengan pemahaman yang lebih baik, perubahan iklim dapat dilihat bukan hanya sebagai ancaman, tetapi juga sebagai panggilan untuk beradaptasi dan bergerak menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
#ZonaEBT #Sebarterbarukan #EBTHeroes
Sumber:
[1] Perubahan Iklim