
- Program Beyond Electricity PGEO mengembangkan pemanfaatan panas bumi non-listrik seperti green hydrogen, green ammonia, dan green data center.
- Proyek ini memaksimalkan aset panas bumi tanpa eksplorasi baru, sehingga lebih efisien dan berpotensi meningkatkan pendapatan.
- Panas bumi berpotensi mendukung industri hijau dan transisi energi melalui inovasi di luar sektor ketenagalistrikan.
Sobat EBT Heroes! Selama ini, energi panas bumi identik dengan pembangkit listrik. Padahal, potensi panas bumi di Indonesia bisa dimanfaatkan jauh lebih luas termasuk di luar sektor ketenagalistrikan.
Melihat peluang tersebut, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menghadirkan inovasi melalui program Beyond Electricity. Program ini tidak hanya berfokus pada produksi listrik, tetapi juga mengembangkan pemanfaatan panas bumi untuk sektor industri dan teknologi masa depan.
Menurut Julfi Hadi, Direktur Utama PGEO, inisiatif ini bertujuan menciptakan nilai tambah dari aset panas bumi yang sudah ada, tanpa harus melakukan eksplorasi baru. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus membuka sumber pendapatan baru.
Lalu, apa saja pemanfaatan panas bumi non-listrik yang sedang dikembangkan?
Baca Juga:
- Apa Itu Panas Bumi? Energi Terbarukan Tak Terbatas yang Bersemayam di Bawah Kaki Kita
- Project InnerSpace: Potensi Panas Bumi Indonesia 2.160 GW, Bisa Penuhi 90% Kebutuhan Panas Industri
1. Green Hydrogen di WKP Ulubelu

Pemanfaatan pertama adalah pengembangan green hydrogen atau hidrogen hijau di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Ulubelu, Lampung.
Dalam proyek ini, PGEO bekerja sama dengan Toyota Motor Manufacturing Indonesia sebagai calon offtaker. Fokus utama proyek ini adalah membangun ekosistem hidrogen hijau di Indonesia.
Menariknya, proyek ini masih dalam tahap pilot. Tujuannya bukan langsung untuk komersialisasi, melainkan untuk:
- Menguji efisiensi teknologi electrolyzer
- Menghitung biaya produksi
- Menilai kelayakan bisnis di masa depan
Jika berhasil, hidrogen hijau berpotensi menjadi bahan bakar bersih untuk berbagai sektor, termasuk transportasi dan industri.
2. Green Ammonia untuk Industri dan Energi

Selain hidrogen, PGEO juga mengembangkan green ammonia dengan menggandeng PT Pertamina Gas (Pertagas).
Green ammonia merupakan turunan dari hidrogen hijau yang memiliki potensi besar, baik sebagai:
- Bahan baku pupuk
- Bahan bakar kapal
- Komoditas ekspor energi bersih
Saat ini, proyek green ammonia masih berada dalam tahap studi kelayakan. Namun, jika terealisasi, produk ini dapat menjadi salah satu komoditas strategis Indonesia di pasar energi global.
3. Green Data Center Berbasis Panas Bumi

Inovasi ketiga adalah pengembangan green data center, yaitu pusat data yang menggunakan energi panas bumi sebagai sumber listrik utama.
Proyek ini dikembangkan di WKP Kamojang, Jawa Barat—salah satu wilayah dengan sumber panas bumi yang stabil dan infrastruktur yang sudah matang.
Keunggulan panas bumi sebagai sumber energi adalah sifatnya yang base load, artinya mampu menghasilkan listrik secara stabil selama 24 jam. Hal ini sangat penting untuk operasional data center yang membutuhkan pasokan listrik tanpa henti.
PGEO juga telah menandatangani kerja sama dengan mitra strategis untuk merealisasikan proyek ini.
Penutup
Sobat EBT Heroes, program Beyond Electricity menunjukkan bahwa panas bumi bukan hanya soal listrik. Dengan inovasi seperti green hydrogen, green ammonia, dan green data center, panas bumi dapat menjadi fondasi penting dalam pengembangan industri hijau di Indonesia.
Jika dikembangkan secara optimal, pemanfaatan non-listrik ini tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam transisi menuju energi bersih. 🌋⚡
#ZONAEBT #EBTHeroes #Panasbumi #Geothermal #PGEO
Sumber:
[1] Pertamina Geothermal (PGEO) Kendalikan 70% Panas Bumi Nasional, Fokus Proyek Hijau