
Jakarta, 6 Maret 2026 — ZONAEBT menyelenggarakan “Forum Outlook Pasar Karbon Indonesia 2026” pada Jumat (6/3). Forum diskusi daring ini mempertemukan para pemangku kepentingan dari sektor industri, pasar keuangan, hingga pengembang proyek karbon untuk membahas perkembangan terbaru pasar karbon di Indonesia serta peluang yang mulai terbuka dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Seiring meningkatnya perhatian terhadap perdagangan karbon sebagai salah satu instrumen mitigasi perubahan iklim, Indonesia mulai mengembangkan berbagai mekanisme pasar karbon baik di tingkat domestik maupun global. Perkembangan regulasi serta infrastruktur pasar karbon dinilai menjadi faktor penting untuk memastikan ekosistem perdagangan karbon yang kredibel, transparan, dan berdaya saing.
Melalui forum ini, ZONAEBT berharap dapat menghadirkan ruang diskusi yang mampu memberikan gambaran mengenai arah kebijakan pasar karbon Indonesia, potensi perdagangan karbon di dalam negeri, serta peran berbagai sektor dalam mendorong implementasi ekonomi rendah karbon.
CEO ZONAEBT, I Kadek Alamsta Suarjuniarta, menyampaikan bahwa forum ini menjadi ruang dialog untuk memahami dinamika pasar karbon yang terus berkembang di Indonesia.
“Pasar karbon Indonesia memiliki potensi besar untuk mendukung target penurunan emisi nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Melalui Forum Outlook Pasar Karbon Indonesia 2026 ini, kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang mempertemukan berbagai perspektif agar ekosistem pasar karbon di Indonesia dapat berkembang secara kredibel, transparan, dan berkelanjutan,” ujar Alamsta.
Membaca Arah Perkembangan Pasar Karbon Indonesia
Dalam forum ini, Regina Inderadi, Carbon and Sustainability Consultant sekaligus Vice Chair AXECI, memaparkan materi bertajuk From Carbon Compliance to Market Credibility. Ia membagikan perspektif praktisi gas rumah kaca (GHG) dalam ekosistem pasar karbon Indonesia pada 2026.

“Saya ingin memberikan perspektif dari para praktisi karbon dalam ekosistem pasar karbon Indonesia 2026. Jika ditarik benang merahnya, para praktisi GHG memiliki berbagai peran dalam pasar karbon, mulai dari regulator, project developer, validation and verification bodies, carbon professionals, hingga market participants,” jelas Regina.
Sementara itu, M. Taufik, Strategic Partnership and Marketing Manager Pertamina NRE, membahas perspektif pengembang proyek karbon dan energi transisi. Ia menjelaskan bagaimana sektor energi melihat potensi pasar karbon sebagai bagian dari strategi transisi energi sekaligus upaya dekarbonisasi industri.

“Di Indonesia saat ini pasar karbon masih didominasi oleh voluntary carbon market (VCM), di mana dorongan untuk membeli kredit karbon lebih banyak berasal dari kesadaran masing-masing pembeli, bukan dari mekanisme compliance carbon market yang sifatnya lebih mengikat,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa ke depan arah pasar karbon akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan regulasi.
“Perkembangan pasar karbon akan dipengaruhi oleh dua hal utama, yaitu peraturan dan peran pemerintah. Integrasi kredit karbon akan memengaruhi arah pergerakan pasar, begitu juga dengan aturan dari lembaga sertifikasi yang turut menentukan dinamika pasar,” tambahnya.
Dari sisi pasar, Puspita Pratiwi, Product Development Senior Analyst Indonesia Stock Exchange (IDX), menyoroti arah perkembangan perdagangan karbon dan peran bursa karbon di Indonesia.

“Indonesia telah menetapkan target net zero emission pada 2060. Untuk mencapainya, ada beberapa sektor prioritas yang menjadi fokus pengurangan emisi, seperti energi, limbah (waste), industrial processes and product use (IPPU), serta pertanian (agriculture),” ujarnya.
Sementara itu, dari perspektif startup iklim, Y. E. Putranta, Head of Carbon Crediting PT Recoilt Bumi Lestari, menekankan pentingnya inovasi sekaligus keberanian mengambil risiko dalam pengembangan proyek karbon.

“Ketika berbicara soal inovasi, kita tidak bisa memisahkannya dari risiko. Dalam pengembangan proyek karbon, ada risiko yang harus diambil oleh project developer untuk mencapai target, terutama dalam membangun dan mengembangkan pasar karbon,” tuturnya.
Melalui Forum Outlook Pasar Karbon Indonesia 2026, ZONAEBT berharap diskusi yang terbangun dapat memberikan wawasan yang lebih komprehensif mengenai arah perkembangan pasar karbon di Indonesia, sekaligus mendorong kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat implementasi ekonomi rendah karbon.
Forum ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube ZONAEBT, serta terbuka bagi pelaku industri, akademisi, investor, maupun masyarakat yang ingin memahami perkembangan pasar karbon dan peluangnya di Indonesia. Bagi yang terlewat, dapat menonton tayangan ulang melalui tautan berikut:
Tentang ZONAEBT
ZONAEBT adalah startup platform informasi dan edukasi energi terbarukan di Indonesia yang berdiri sejak April 2021. ZONAEBT secara aktif berperan dalam mendukung transisi energi yang berkeadilan dan inklusif, dengan memastikan tidak ada pihak yang tertinggal dalam proses perubahan tersebut. Dengan visi untuk memberdayakan individu dan organisasi dalam mewujudkan transisi menuju sistem energi yang adil dan berkelanjutan, ZONAEBT berkomitmen tumbuh dan berkembang bersama para pemangku kepentingan.