
- Target energi surya 100 GW bisa dipercepat lewat PLTS atap dan power wheeling
- Rumah tangga berpotensi menambah hingga 5,8 GW kapasitas energi surya
- Perubahan strategi dan regulasi jadi kunci percepatan energi terbarukan
Sobat EBT Heroes! Indonesia punya target besar di sektor energi yaitu mencapai kapasitas energi surya hingga 100 gigawatt (GW). Angka ini memang tinggi, apalagi jika dibandingkan dengan kondisi saat ini. Tapi sebenarnya, yang jadi masalah bukan pada targetnya melainkan pada cara mencapainya.
Selama ini, pengembangan energi surya masih bertumpu pada proyek-proyek besar yang dikerjakan pemerintah atau PLN. Pendekatan ini memang penting, tapi tidak cukup cepat untuk mengejar target dalam waktu singkat. Karena itu, dibutuhkan strategi tambahan yang bisa mempercepat pertumbuhan secara signifikan.
Artikel ini akan membahas mengenai strategi atau cara efektif mencapai target 100 GW, merujuk pada pendapat Lead Researcher Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (Sustain) Adilla Isfandiari, mengutip Bisnis, Senin (13/4/2026).
PLTS Atap dan Power Wheeling Jadi Solusi Nyata

Ada dua pendekatan yang mulai banyak dibicarakan, yaitu PLTS atap dan power wheeling.
PLTS atap memungkinkan rumah tangga, gedung, hingga pelaku usaha memasang panel surya sendiri. Dengan begitu, listrik bisa diproduksi langsung di tempat digunakan. Selain menghemat biaya listrik, cara ini juga membuka peluang bagi masyarakat untuk ikut berkontribusi dalam penggunaan energi bersih.
Sementara itu, power wheeling memberi ruang bagi pihak swasta untuk memproduksi listrik sendiri dan menyalurkannya melalui jaringan PLN. Jadi, listrik dari pembangkit swasta tetap bisa digunakan tanpa harus membangun jaringan baru. PLN pun tetap mendapat pemasukan dari biaya penggunaan jaringan tersebut.
Dengan dua skema ini, pengembangan energi surya tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pemerintah.
Baca Juga:
- Manfaat PLTS Atap Industri: Tekan Biaya Operasional Sekaligus Dukung Dekarbonisasi
- Kuota PLTS Atap 2024 Sampai dengan 2028
Jarak Target dan Realisasi Masih Jauh

Jika melihat data saat ini, kapasitas energi terbarukan Indonesia baru sekitar 15.630 MW. Sementara target energi surya saja mencapai 100.000 MW.
Artinya, masih ada selisih yang sangat besar. Apalagi selama ini penambahan kapasitas EBT hanya sekitar 1.000 MW per tahun. Dengan laju seperti itu, target 100 GW akan sulit tercapai dalam waktu cepat.
Di sinilah pentingnya perubahan pendekatan. Tanpa strategi baru, pertumbuhan akan tetap lambat.
Rumah Tangga Bisa Jadi “Game Changer”
Salah satu peluang yang cukup realistis justru datang dari rumah tangga. Saat ini ada sekitar 2,88 juta pelanggan listrik non-subsidi.
Jika sebagian dari mereka memasang PLTS atap, tambahan kapasitas bisa mencapai 2,9 hingga 5,8 GW. Ini angka yang besar, apalagi tidak membutuhkan dana dari APBN.
Selain menambah kapasitas, langkah ini juga membantu mempercepat adopsi energi bersih secara luas. Jadi, bukan hanya industri besar yang berperan, tapi masyarakat juga ikut terlibat langsung.
Kunci Utama Ada di Kebijakan
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan potensi energi surya. Sinar matahari tersedia melimpah sepanjang tahun. Yang menjadi tantangan justru bagaimana membuka akses agar potensi ini bisa dimanfaatkan secara maksimal.
Jika hanya mengandalkan proyek besar, pertumbuhan akan tetap terbatas. Tapi jika regulasi mendukung partisipasi masyarakat dan swasta, maka pengembangan bisa berjalan jauh lebih cepat.
Dengan strategi yang lebih terbuka dan kolaboratif, target 100 GW bukan hal yang mustahil. Justru bisa menjadi langkah besar menuju ketahanan energi dan pengurangan emisi karbon di masa depan.
#ZONAEBT #EBTHeroes #Sebarterbarukan #Panelsurya
Sumber:
[1] Target Energi Surya 100 GW Bisa Dipercepat lewat Skema Atap dan Power Wheeling