Proyek Karbon Berbasis Pengelolaan Limbah Organik melalui Biokonversi

Limbah organik sisa makanan rumah tangga, foto: freepik

Sobat EBT Heroes! Perubahan iklim masih menjadi PR besar di dunia, termasuk di Indonesia. Dampaknya kian nyata, mulai dari cuaca ekstrem, ancaman krisis pangan, hingga meningkatnya risiko bencana lingkungan. Perubahan iklim sejatinya dapat terjadi karena berbagai penyebab. Namun di mata masyarakat Indonesia sendiri, faktor aktivitas manusia masih dianggap sebagai pemicu utama.

Hal ini tercermin dalam laporan Climate Change and Energy in the Indonesian Mind yang dirilis oleh Yale Program on Climate Change Communication. Survei tersebut melibatkan 2.000 responden berusia 18 tahun ke atas yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dengan pengambilan data pada 15 Juni–17 Juli 2025.

Persepsi Masyarakat Indonesia terhadap Perubahan Iklim

Hasil survei Yale menunjukkan bahwa 65% responden di Indonesia meyakini perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia. Sementara itu, 31% responden menilai perubahan iklim terjadi karena faktor alami, dan 1% menyebutkan faktor lainnya. Hanya 1% responden yang menyatakan perubahan iklim tidak terjadi, serta 2% lainnya mengaku tidak mengetahui.

Meski sebagian besar masyarakat mengakui keberadaan perubahan iklim, tingkat pemahaman masih tergolong rendah. Tercatat, hanya 2% responden yang mengaku sangat memahami perubahan iklim, dan 20% memiliki pemahaman pada tingkat sedang. Fakta ini menunjukkan masih adanya kesenjangan besar antara kesadaran dan pemahaman publik.

Dalam laporannya, Yale menegaskan bahwa kesadaran dan pemahaman dasar menjadi kunci penting dalam pengambilan keputusan, baik bagi individu, pembuat kebijakan, maupun masyarakat luas dalam merespons ancaman perubahan iklim secara tepat.

Baca Juga:



Limbah Organik dan Emisi Gas Rumah Kaca

Limbah organik di tempat pembuangan akhir menjadi penyumbang besar GRK, Foto: Pemprov Jateng

Salah satu bentuk nyata aktivitas manusia yang berkontribusi terhadap perubahan iklim adalah produksi limbah organik, terutama dari sampah rumah tangga seperti sisa makanan. Dalam jumlah besar, limbah organik yang tidak dikelola dengan baik dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK), terutama metana, yang memiliki potensi pemanasan global jauh lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida.

Jika dibiarkan menumpuk di tempat pembuangan akhir, limbah organik tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga memperparah krisis iklim. Oleh karena itu, upaya menekan dampak emisi GRK dari limbah organik menjadi langkah penting dalam mitigasi perubahan iklim, khususnya di sektor pengelolaan sampah.

Biokonversi sebagai Solusi Iklim Berbasis Limbah

Perombakan limbah organik melalui pemanfaatan maggot, foto: jttc

Salah satu pendekatan yang kini semakin relevan adalah biokonversi, yakni proses perombakan limbah organik melalui fermentasi dengan melibatkan mikroorganisme. Biokonversi memungkinkan limbah organik diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat, sekaligus menekan emisi GRK yang dihasilkan.

Pendekatan biokonversi yang sedang berkembang saat ini salah satunya adalah pemanfaatan maggot. Metode ini dinilai ramah lingkungan, terukur, dan berpotensi untuk dimonetisasi, sehingga tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Dalam konteks proyek karbon, biokonversi limbah organik melalui maggot dapat menjadi bagian dari solusi iklim yang berkelanjutan, karena mampu mengurangi emisi sekaligus menciptakan nilai tambah.

ZE Talk: Proyek Karbon Berbasis Pengelolaan Limbah Organik melalui Biokonversi

ZE Talk: Proyek Karbon Berbasis Pengelolaan Limbah Organik melalui Biokonversi, ZonaEBT

Melihat urgensi isu ini, ZonaEBT berkolaborasi dengan PT. Maggot Indonesia Lestari akan  mengupas lebih dalam peran biokonversi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Pembahasan ini akan dikemas dalam ZE Talk, yang akan membahas secara komprehensif mulai dari proses biokonversi, regulasi terkait, hingga dampak sosial dan lingkungan dari proyek karbon berbasis biokonversi.

ZE Talk ini akan menghadirkan CEO PT. Maggot Indonesia Lestari, Markus Susanto, dan diselenggarakan pada Jumat, 23 Januari 2026 melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan dapat diikuti secara gratis. Informasi pendaftaran dan detail acara dapat dilihat melalui unggahan Instagram resmi ZonaEBT.

Menuju Pengelolaan Limbah yang Lebih Berkelanjutan

Rendahnya tingkat pemahaman masyarakat tentang perubahan iklim, sebagaimana tercermin dalam survei Yale, menjadi pengingat penting bahwa edukasi dan diskusi publik harus terus diperkuat. Pengelolaan limbah organik melalui biokonversi merupakan contoh konkret bagaimana aktivitas manusia yang sebelumnya menjadi sumber masalah, dapat diubah menjadi bagian dari solusi iklim.

Melalui forum seperti ZE Talk, diharapkan semakin banyak pihak yang memahami bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar isu kebersihan, melainkan juga strategi penting dalam menekan emisi GRK dan mendukung aksi iklim di Indonesia.

#zonaebt #EBTHeroes #Sebarterbarukan

Sumber:

[1] Aktivitas Manusia Dinilai sebagai Penyebab Utama Perubahan Iklim