Krisis Iklim Terjadi karena Apa? Simak Penyebab hingga Upaya yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Krisis Iklim Berikut Ini

Krisis Iklim Terjadi karena Apa? Simak Penyebab hingga Upaya yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Krisis Iklim Berikut Ini zonaebt.com
  • Penyebab utama terjadinya krisis iklim berasal dari gas-gas rumah kaca.
  • Penyumbang kedua terjadinya krisis iklim terdapat pada emisi pembakaran batu bara, gas, dan minyak bumi.
  • Menurut laporan terbaru Badan PBB tentang Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim (UNFCCC), suhu bumi akan meningkat 2,1 hingga 2,9 derajat celcius pada akhir abad ini.

Krisis iklim adalah istilah yang menggambarkan pemanasan global dan perubahan iklim, beserta akibatnya. Istilah ini telah digunakan untuk menggambarkan ancaman pemanasan global terhadap Bumi dan untuk mendesak mitigasi perubahan iklim yang agresif. Misalnya, dalam jurnal Bio Science yang didukung lebih dari 11.000 ilmuwan di seluruh dunia, menyatakan bahwa krisis iklim telah tiba dan peningkatan skala besar dalam upaya melestarikan biosfer dilihat dari peningkatan berkelanjutan dalam populasi ternak, produksi daging, hilangnya tutupan pepohonan, meningkatnya konsumsi bahan bakar fosil, transportasi udara, dan emisi karbon dioksida bersama dengan tren peningkatan dampak iklim seperti kenaikan suhu, pencarian es global, dan cuaca ekstrem.

Sebagaimana telah disampaikan pada artikel Alam yang diterbitkan pada bulan November 2019 menyimpulkan bahwa bukti dari titik krisis iklim menunjukkan bahwa kita berada dalam keadaan darurat planet. Hal tersebut mendefinisikan kondisi darurat sebagai produk risiko dan urgensi, dengan kedua faktor tersebut dinilai sebagai kondisi akut. Artikel Alam merujuk pada Laporan Khusus IPCC terbaru (tahun 2018 dan 2019), menyarankan titik kritis individu dapat dilampaui dengan pemanasan rata-rata global sedikitnya 1-2 °C. Sedangkan pemanasan saat ini adalah 1 °C dengan kaskade global titik kritis dimungkinkan dengan pemanasan yang lebih besar.

Krisis Iklim Terjadi karena Apa? Simak Penyebab hingga Upaya yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Krisis Iklim Berikut Ini zonaebt.com
Ilustrasi Krisis Iklim. Sumber : unsplash.com

Baca Juga



Pemanasan global merupakan permasalahan yang dihadapi dunia saat ini. Permasalahan tersebut memicu berbagai aksi dalam meminimalisir emisi serta penghematan energi di beberapa negara. Untuk melaksanakan upaya tersebut, beberapa negara menerapkan regulasi terkait strategi untuk memfasilitasi listrik berbasis energi baru dan terbarukan (EBT). Pengembangan implementasi EBT dapat direalisasikan dengan berbagai macam cara. Salah satunya adalah dengan membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Beberapa faktor yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim adalah sebagai berikut.

Gas Rumah Kaca

Mengutip dari situs European Union Official, bahwa penyebab terjadinya krisis iklim yang pertama adalah berasal dari gas-gas rumah kaca. Beberapa gas yang ada di atmosfer bumi bertindak seperti kaca di rumah kaca, yaitu dengan memerangkap panas yang dihasilkan matahari dan menghentikannya supaya tidak bocor dan kembali ke angkasa. Banyak dari tindakan gas-gas tersebut terjadi secara alami dan bisa menyebabkan terjadinya perubahan iklim global. Hal ini terjadi karena aktivitas manusia yang dapat meningkatkan konsentrasi, khususnya karbon dioksida (CO2), metana, dinitrogen oksida, dan gas berfluorinasi.

Karbon dioksida adalah gas rumah kaca yang biasanya diproduksi oleh aktivitas manusia dan bertanggung jawab atas 64% pemanasan global atau menjadi penyebab dari perubahan iklim secara global. Konsentrasinya di atmosfer saat ini adalah 40% lebih tinggi dari pada saat industrialisasi pertama kali dimulai. Gas rumah kaca lainnya yang bisa menjadi penyebab terjadinya perubahan iklim dipancarkan pada jumlah yang kecil, tetapi mereka memerangkap panas yang jauh lebih efektif daripada CO2. Bahkan, di beberapa kasus, ribuan kali lebih besar kekuatannya. Metana bertanggung jawab atas 17% dari terjadinya pemanasan global buatan manusia itu sendiri, sedangkan nitro oksida sebesar 6%.

Peningkatan Emisi dan Perubahan Orbit Bumi

Krisis Iklim Terjadi karena Apa? Simak Penyebab hingga Upaya yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Krisis Iklim Berikut Ini zonaebt.com
Ilustrasi Pembakaran Penyebab Perubahan Iklim. Sumber: unsplash.com

Penyebab terjadinya perubahan iklim yang kedua berasal dari adanya peningkatan pada emisi yang dilakukan oleh manusia, diantaranya adalah pembakaran batu bara, gas, dan minyak yang bisa menghasilkan dioksida dan nitrogen dioksida. Penebangan hutan, pupuk yang mengandung nitrogen juga bisa menjadi penyebab perubahan iklim. Di samping itu, perubahan orbit bumi menjadi penyebab selanjutnya dalam perubahan iklim. Selama 800.000 tahun terakhir, ada siklus alami dalam iklim bumi yaitu antara zaman es dan periode interglasial yang hangat. Setelah zaman es berakhir pada 20.000 tahun yang lalu, suhu global mengalami kenaikan sekitar 30-80C, selama 10.000 tahun terakhir.

Penebangan Hutan dan Penyuplaian Energi untuk Bangunan

Krisis Iklim Terjadi karena Apa? Simak Penyebab hingga Upaya yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Krisis Iklim Berikut Ini zonaebt.com
Penebangan Hutan. Sumber: unsplash.com

Penebangan hutan untuk membuat lahan pertanian atau peternakan, atau pun untuk alasan lainnya akan menghasilkan emisi. Hal tersebut terjadi karena pohon yang ditebang akan melepaskan karbon yang tersimpan di dalamnya. Sekitar 12 juta hektar hutan dihancurkan setiap tahunnya. Karena hutan menyerap karbon dioksida, penghancurannya juga akan membatasi kemampuan alam dalam mengurangi emisi di atmosfer. Penggundulan hutan dan pertanian, serta perubahan fungsi lahan lainnya, merupakan penyumbang sekitar seperempat dari emisi gas rumah kaca global.

Bangunan tempat tinggal dan komersial memakai lebih dari setengah energi listrik global. Seiring dengan berlanjutnya penggunaan batu bara, minyak, dan gas alam untuk sistem penghangat dan pendingin, bangunan tempat tinggal dan komersial menghasilkan jumlah emisi gas rumah kaca yang tinggi. Naiknya permintaan energi untuk sistem penghangat dan pendingin dengan bertambahnya jumlah orang yang memiliki AC, serta meningkatnya pemakaian energi listrik untuk penerangan, peralatan, dan perangkat terhubung, telah berkontribusi pada peningkatan emisi karbon dioksida terkait energi dari bangunan dalam beberapa tahun terakhir.

Penggunaan Transportasi serta Penggunaan CFC untuk Kulkas dan Aerosol

Krisis Iklim Terjadi karena Apa? Simak Penyebab hingga Upaya yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Krisis Iklim Berikut Ini zonaebt.com
Ilustrasi Padatnya Pengguna Kendaraan Bermotor. Sumber: unsplash.com

Sebagian besar mobil, truk, kapal, dan pesawat beroperasi menggunakan bahan bakar fosil. Hal ini menjadikan sektor transportasi sebagai kontributor utama gas rumah kaca, terutama emisi karbon dioksida. Kendaraan darat menghasilkan emisi paling banyak karena adanya pembakaran produk berbahan dasar minyak bumi, seperti bensin, dalam mesin pembakaran internalnya. Namun, emisi dari kapal dan pesawat juga terus meningkat. Transportasi menyumbang hampir seperempat dari emisi karbon dioksida global terkait energi. Selain itu, tren menunjukkan bahwa akan terjadi peningkatan signifikan dalam penggunaan energi untuk transportasi pada tahun-tahun mendatang.

Selain kendaraan ada juga CFC. CFC tidak terbentuk secara alami. Manusia menggunakannya untuk keseluruhan proses industri, padahal ini mampu menjadi penyebab terjadinya perubahan iklim global. CFC ini digunakan sebagai pendingin di dalam lemari es serta bahan pembakar pada aerosol Perubahan iklim memang semakin terlihat sangat jelas. Selama 100 tahun terakhir, suhu bumi meningkat dengan sangat cepat. Gletser yang membeku selama puluhan ribu tahun menjadi mencair sehingga membuat permukaan air laut menjadi meningkat dan negara-negara kepulauan menjadi semakin terkikis daratannya. Banyak juga hewan yang terancam punah dan bisa menyebabkan kehidupan manusia juga ikut terancam.

Baca Juga



Lalu Bagaimana Cara Mengatasi Krisis Iklim yang Terjadi?

Menurut laporan terbaru UNFCCC, energi surya menjadi energi alternatif yang dipilih banyak negara untuk mengurangi risiko perubahan iklim.

Menurut laporan terbaru Badan PBB tentang Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim (UNFCCC), suhu bumi akan meningkat 2,1 hingga 2,9 derajat celcius pada akhir abad ini. Oleh sebab itu, sebanyak 166 negara telah memperbarui komitmen Nationally Determined Contributions (NDCs) hingga September 2022. NDC merupakan dokumen yang memuat komitmen dan aksi iklim sebuah negara yang dikomunikasikan kepada dunia melalui UNFCCC.

Dari 166 negara tersebut, sebagian besar atau 49% di antaranya menyatakan berkomitmen untuk menggunakan energi surya sebagai energi alternatif demi mengurangi risiko perubahan iklim. Sebanyak 35% negara menyatakan untuk beralih ke energi angin sebagai energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Kemudian, sebanyak 13% negara akan mengurangi emisi metana yang berasal dari minyak dan gas. Selanjutnya, 7% negara memilih menggunakan energi panas bumi. Sebanyak 5% negara menyatakan akan beralih ke energi nuklir. Sementara, 3% negara menyatakan akan mengurangi emisi metana dari batu bara.

Sebagai informasi, pemerintah Indonesia juga berkomitmen untuk melakukan penghentian penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan penggunaan diesel mulai tahun 2031. Pembangkit energi surya, hidro, dan panas bumi akan mendominasi 57% energi terbarukan pada 2035.

#zonaebt #sebarterbarukan #ebtheroes

Editor: Rewinur Alifianda Hera Umarul

Referensi:

[1] Krisis iklim

[2] Penyebab Dan Dampak Perubahan Iklim

[3] Mayoritas Negara Pilih Energi Surya untuk Mitigasi Krisis Iklim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 Comment