
- Tren penggunaan panel surya atau PLTS diproyeksikan meningkat seiring kenaikan harga energi fosil di Indonesia
- Harga instalasi PLTS relatif stabil, membuatnya semakin kompetitif untuk industri dan rumah tangga
- Dukungan regulasi dan target 100 GW memperkuat prospek energi surya nasional
Sobat EBT Heroes! Di tengah kenaikan harga energi fosil seperti minyak, gas, dan batu bara, pemanfaatan energi surya di Indonesia justru menunjukkan tren yang semakin positif. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa transisi energi tidak hanya didorong oleh isu lingkungan, tetapi juga oleh pertimbangan ekonomi yang semakin relevan bagi masyarakat dan industri.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mulai dilirik sebagai solusi energi yang lebih stabil dan efisien, terutama ketika biaya energi konvensional terus meningkat. Lalu, apa yang sebenarnya mendorong tren ini, dan bagaimana prospeknya ke depan?
Harga Energi Fosil Mahal, PLTS Jadi Alternatif Menarik

Kenaikan harga energi fosil menjadi faktor utama yang mendorong peralihan ke energi surya. Ketika harga diesel, gas, dan batu bara meningkat, biaya operasional pembangkit berbasis fosil ikut terdongkrak. Hal ini membuat banyak pelaku industri mulai mencari alternatif yang lebih hemat dalam jangka panjang.
Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai bahwa kondisi ini justru menjadi momentum bagi pengembangan PLTS. Minat pelaku bisnis terhadap listrik bersih meningkat karena mereka mulai mempertimbangkan efisiensi biaya sekaligus keberlanjutan usaha.
Fenomena ini juga terlihat pada pengguna pembangkit diesel (PLTD), yang kini mulai beralih ke PLTS karena biaya bahan bakar yang semakin tinggi. Artinya, transisi energi kini tidak hanya didorong oleh regulasi, tetapi juga oleh kebutuhan nyata di lapangan.
Baca Juga:
- Tren Penjualan REC 2021–2025 Terus Tumbuh, Industri Jadi Motor Utama Energi Hijau
- Manfaat PLTS Atap Industri: Tekan Biaya Operasional Sekaligus Dukung Dekarbonisasi
Harga Panel Surya Relatif Stabil, Pasokan Global Aman

Di sisi lain, harga instalasi panel surya relatif stabil dan cenderung tidak mengalami lonjakan signifikan. Saat ini, biaya pemasangan PLTS atap berada di kisaran Rp12–15 juta per kilowatt (kW), dengan kapasitas minimum sekitar 2 kW untuk penggunaan rumah tangga atau skala kecil.
Stabilnya harga ini didukung oleh kapasitas produksi global yang melimpah, terutama dari negara produsen seperti China. Meskipun terdapat tekanan dari sisi logistik, pasokan panel surya tetap terjaga sehingga tidak terjadi kelangkaan di pasar.
Untuk proyek skala besar (utility scale), biaya pembangunan PLTS bahkan lebih kompetitif, berada di kisaran US$500–700 per kilowatt. Ini menunjukkan bahwa energi surya semakin ekonomis, baik untuk skala individu maupun industri.
Dukungan Regulasi dan Target Besar Pemerintah
Pemerintah Indonesia juga terus mendorong pengembangan energi surya melalui berbagai kebijakan. Salah satunya adalah regulasi PLTS atap yang memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan masyarakat untuk berinvestasi di sektor ini.
Selain itu, komitmen besar pemerintah untuk mengembangkan kapasitas energi surya hingga 100 gigawatt menjadi sinyal kuat bahwa PLTS akan menjadi salah satu tulang punggung transisi energi nasional.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, hingga pertengahan 2025 kapasitas terpasang PLTS di Indonesia telah mencapai sekitar 1.142,69 megawatt (MW). Angka ini masih relatif kecil dibandingkan potensinya, namun menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten.
Prospek PLTS: Dari Alternatif Menjadi Kebutuhan
Melihat tren yang ada, energi surya tidak lagi sekadar alternatif, tetapi mulai menjadi kebutuhan, terutama bagi sektor industri yang ingin menjaga efisiensi biaya sekaligus memenuhi target keberlanjutan.
Dengan kombinasi antara harga energi fosil yang tinggi, biaya teknologi yang semakin kompetitif, serta dukungan kebijakan pemerintah, PLTS diproyeksikan akan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan.
Jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, energi surya berpotensi menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan ketahanan energi dan target net zero emission Indonesia di masa depan.
#ZONAEBT #EBTHeroes #Sebarterbarukan #PLTS
Sumber:
[1] Harga Energi Fosil Mahal, Minat Pemanfaatan Panel Surya Diproyeksi Meningkat