Hutan Bakau, ‘Benteng Hijau’ Pesisir Pejuang Perubahan Iklim

bakau. zonaebt.com
Ilustrasi hutan bakau. Sumber: Pexels
  • Hutan bakau atau mangrove menjadi “benteng hijau” terhadap perubahan iklim.
  • Hutan bakau adalah ekosistem pesisir yang kaya akan keanekaragaman hayati.
  • Hutan bakau memiliki produktivitas tinggi sebagai ekosistem karbon biru terbesar di dunia.

Apakah Sobat EBT Heroes tahu kalau hutan bakau merupakan ekosistem penting di wilayah pesisir? Mereka berperan dalam mengurangi erosi pantai dan menstabilkan iklim mikro, lho. Sebagai “benteng hijau” terhadap perubahan iklim, hutan bakau mempunyai kemampuan menyerap karbon dioksida dari udara dengan sangat baik. Selain itu, hutan bakau juga melindungi wilayah pesisir dari dampak bencana alam seperti badai dan tsunami. Merujuk data Badan Pusat Statistik per Desember 2021, luas ekosistem mangrove atau bakau di Indonesia mencapai 3,63 juta hektare (Ha) atau 20,37 persen dari total dunia. Karena itu, dengan melestarikan ekosistem ini, Sobat EBT Heroes dapat mendukung upaya global untuk memerangi perubahan iklim dan menjaga keseimbangan lingkungan global.

Baca juga



Menggali Kekayaan Hutan Bakau

Ilustrasi Pemanfaatan Keragaman Hayati Hutan Bakau. Sumber: Pexels

Hutan bakau merupakan ekosistem pesisir yang kaya akan keanekaragaman hayati. Keanekaragaman ini meliputi berbagai jenis flora dan fauna yang telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang unik, di mana pasang surut air laut memengaruhi siklus kehidupan secara keseluruhan. Karenanya, hutan mangrove menjadi habitat bagi berbagai jenis satwa liar, termasuk primata, reptil, dan burung.

Tanaman hutan bakau seperti Rhizophora, Avicennia, dan Nypa fruticans mendominasi vegetasi di sini. Mereka memiliki sistem akar yang kuat yang memungkinkan pertumbuhan di lingkungan dengan kadar garam tinggi. Tak hanya itu, terdapat fauna akuatik seperti ikan, udang, kepiting, dan moluska yang hidup di antara akar-akar pohon bakau dan saluran air. Mereka menggunakan hutan bakau sebagai tempat perlindungan dan mencari makanan.

Satwa liar, seperti burung camar, pelikan, dan camar udang, seringkali terlihat di hutan bakau saat mencari makan atau membuat sarang, sementara reptil seperti buaya muara juga bisa dijumpai. Keanekaragaman mikroorganisme, termasuk bakteri dan alga mikroskopis, hidup di dalam tanah lumpur dan berperan dalam proses dekomposisi dan siklus nutrisi.

Di samping itu, beragam jenis siput, kerang, dan hewan laut kecil lainnya juga dapat ditemukan di hutan bakau. Keanekaragaman hayati ini mencerminkan kompleksitas dan pentingnya ekosistem hutan bakau dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir serta memberikan berbagai manfaat bagi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.

Produktivitas Hutan Bakau Sebagai EKB

Ilustrasi Hutan Bakau. Sumber: Pexels

Meskipun luasannya hanya mencakup sekitar 0,7% dari total area hutan global, hutan bakau dianggap sebagai ekosistem karbon biru terbesar di dunia, dengan sekitar 50% dari cadangan karbon di hutan tropis disimpan dan terkunci oleh mereka. Oleh karena itu, meskipun terbatas secara geografis pada wilayah pesisir, hutan bakau memiliki dampak besar dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuannya untuk menangkap dan menyimpan karbon dari atmosfer.

Hutan bakau sebagai ekosistem karbon biru , memegang peran penting dalam siklus karbon global. Produktivitas ekosistem ini terletak pada kemampuannya untuk menangkap dan menyimpan karbon dioksida dari atmosfer. Proses ini terjadi melalui beberapa mekanisme, di antaranya: Pertama, pohon bakau di dalam hutan ini melakukan fotosintesis secara efisien, menangkap karbon dioksida dari udara, dan mengubahnya menjadi karbohidrat, yang kemudian disimpan dalam jaringan tanaman. Selain itu, air di sekitar hutan bakau juga mengandung karbon dioksida terlarut.

Proses biokimia yang terjadi di dalam hutan bakau mampu mengurangi kadar karbon dioksida dalam air, kemudian mengubahnya menjadi karbon organik yang tertimbun di sedimen. Lapisan tanah lumpur di sekitar akar-akar bakau juga berperan dalam mengumpulkan karbon organik dari sisa-sisa tanaman dan organisme lain yang telah mati, sehingga membantu dalam mengunci karbon di dalam tanah hutan bakau.

Kondisi anaerobik di dalam tanah hutan bakau menghambat proses dekomposisi bahan organik, menyebabkan karbon yang terperangkap dalam tanaman dan sedimen tidak terurai dengan cepat, sehingga berdampak pada penyimpanan karbon dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Inilah yang menjadikan hutan bakau sebagai ekosistem karbon biru yang menyumbang secara signifikan dalam upaya global untuk memitigasi perubahan iklim. Produktivitasnya dalam menyimpan karbon adalah contoh konkret dari pentingnya menjaga kelestarian hutan bakau dalam melindungi lingkungan dan mendukung penanggulangan krisis iklim.

Baca juga



Perlindungan dan Konservasi Hutan Bakau

Di Indonesia, upaya konservasi hutan bakau telah menjadi fokus utama dalam rangka melindungi keanekaragaman hayati serta mitigasi dampak perubahan iklim. Pemerintah telah membentuk kawasan konservasi seperti taman nasional, taman wisata alam, dan cagar alam yang mencakup hutan bakau, seperti Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah yang sekaligus menjadi tempat perlindungan bagi orang utan.

Selain itu, pengawasan yang ketat dan patroli rutin dilakukan untuk mencegah aktivitas ilegal seperti penebangan liar, perburuan, dan penangkapan ikan yang dapat merusak ekosistem hutan bakau. Program edukasi dan sosialisasi juga dijalankan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian hutan bakau.

Selanjutnya, beberapa organisasi bekerja sama dengan pemerintah dalam upaya rehabilitasi dan restorasi hutan bakau yang telah rusak akibat aktivitas manusia atau bencana alam. Namun, upaya konservasi ini juga menghadapi berbagai ancaman, seperti penebangan liar, konversi lahan untuk kepentingan ekonomi, pencemaran air laut, perubahan iklim, eksploitasi sumber daya, dan kurangnya kesadaran masyarakat.

Oleh karena itu, tindakan-tindakan kecil yang dilakukan oleh Sobat EBT Heroes dapat memberikan kontribusi dalam menjaga keberlanjutan ekosistem karbon biru. Kesadaran dan partisipasi aktif dari individu, masyarakat, dan pemerintah merupakan kunci utama dalam upaya ini. Mari Sobat EBT Heroes bersama-sama menjaganya! Dengan begitu, Sobat EBT Heroes bisa makin tahu Indonesia tentang pentingnya menjaga ekosistem karbon biru di negara ini.

#zonaebt #sebarterbarukan #ebtheroes

Editor: Tika Sari Safitri

Referensi

[1] Ellison, A.M. (2008). Managing mangroves with benthic biodiversity in mind: Moving beyond roving banditry. Journal of Sea Research, 59(1-2), 2-15.

[2] Primavera, J.H. (1997). Biodiversity and sustainability of shrimp aquaculture. Aquaculture, 155(1-4), 117-127.

[3] Alongi, D.M. (2002). Present state and future of the world’s mangrove forests. Environmental Conservation, 29(3), 331-349.

[4] Donato, D. C., Kauffman, J. B., Murdiyarso, D., Kurnianto, S., Stidham, M., & Kanninen, M. (2011). Mangroves among the most carbon-rich forests in the tropics. Nature Geoscience, 4(5), 293-297.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

56 Comment