
- Bioetanol menjadi solusi strategis untuk mengurangi impor BBM dan memperkuat kemandirian energi nasional.
- Pencampuran bioetanol E5 melalui Pertamax Green 95 telah tersedia di 177 SPBU sejak 2023.
- Pemanfaatan bioetanol mendukung transisi energi dan target Net Zero Emissions Indonesia 2060.
Sobat EBT Heroes! Indonesia tengah memasuki fase krusial dalam perjalanan transisi energi nasional. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) berbasis fosil menjadi tantangan besar, baik dari sisi ketahanan energi maupun keberlanjutan lingkungan. Di tengah kondisi tersebut, bioetanol hadir sebagai salah satu solusi strategis yang mulai diperkuat perannya dalam bauran energi nasional.
Bioetanol merupakan bahan bakar nabati yang diproduksi dari sumber daya terbarukan seperti tebu dan turunannya. Pemanfaatannya tidak hanya bertujuan menekan impor BBM, tetapi juga mendorong penggunaan sumber daya domestik, memperkuat kemandirian energi, serta mendukung target Net Zero Emissions (NZE) 2060. Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Bioetanol sebagai Strategi Mengurangi Ketergantungan Impor BBM

Selama ini, impor BBM menjadi salah satu faktor utama yang membebani neraca perdagangan Indonesia. Fluktuasi harga minyak global dan keterbatasan produksi minyak mentah dalam negeri membuat Indonesia rentan terhadap gejolak eksternal. Dalam konteks inilah, bioetanol dipandang sebagai alternatif yang memiliki nilai strategis tinggi.
Pencampuran bioetanol dengan BBM jenis bensin memungkinkan pengurangan konsumsi bahan bakar fosil tanpa mengorbankan performa kendaraan. Program pencampuran ini dikenal dengan skema E5, yakni campuran 5 persen bioetanol dan 95% bensin. Sejak tahun 2023, skema E5 telah diuji melalui program trial market oleh Pertamina Patra Niaga dengan produk Pertamax Green 95.
Hingga saat ini, Pertamax Green 95 telah tersedia di 177 SPBU di berbagai wilayah Indonesia. Seluruh produk tersebut telah melalui rangkaian uji kualitas dan keamanan yang ketat, sehingga aman digunakan oleh masyarakat. Kehadiran produk ini menjadi bukti nyata bahwa bioetanol bukan sekadar wacana, melainkan sudah mulai diimplementasikan secara konkret di sektor hilir energi.
Dengan semakin luasnya distribusi BBM campuran bioetanol, potensi penghematan impor BBM pun semakin besar. Selain itu, penggunaan bioetanol juga membuka peluang ekonomi baru di sektor hulu, khususnya bagi industri pertanian dan pengolahan bahan baku bioenergi dalam negeri.
Baca Juga:
- Mengenal Zakat Hijau, Pendekatan Baru Muslim Indonesia Hadapi Ancaman Perubahan Iklim
- Harga Biodiesel dan Bioetanol Februari 2026 Ditetapkan, Ini Rinciannya
Peran Bioetanol dalam Mendukung Transisi Energi dan Net Zero Emissions 2060

Selain aspek ketahanan energi, pemanfaatan bioetanol juga memiliki peran penting dalam menekan emisi gas rumah kaca. Sebagai bahan bakar berbasis biomassa, bioetanol memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan BBM fosil. Penggunaannya dapat berkontribusi langsung pada upaya pengurangan emisi di sektor transportasi, yang selama ini menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa Indonesia saat ini berada pada tahap yang sangat penting dalam transisi energi. Arah kebijakan biofuel, termasuk bioetanol, didorong oleh kebutuhan untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, meningkatkan pemanfaatan sumber daya domestik, serta memenuhi target lingkungan menuju Net Zero Emissions pada tahun 2060.
Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa pengembangan bioetanol bukan hanya soal substitusi energi, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang pembangunan berkelanjutan. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, penguatan infrastruktur, serta peningkatan kapasitas produksi dalam negeri, bioetanol berpotensi menjadi pilar penting dalam sistem energi nasional.
Partisipasi masyarakat juga memegang peran kunci dalam keberhasilan program ini. Dengan memilih BBM seperti Pertamax Green 95, konsumen secara tidak langsung turut berkontribusi dalam mengurangi emisi dan mendukung kemandirian energi Indonesia. Langkah sederhana di tingkat individu ini, jika dilakukan secara masif, dapat memberikan dampak besar bagi ketahanan energi nasional.
Ke depan, pengembangan bioetanol diharapkan tidak berhenti pada skema E5, tetapi dapat ditingkatkan secara bertahap seiring kesiapan teknologi dan pasokan bahan baku. Dengan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat, bioetanol dapat menjadi salah satu fondasi utama dalam mewujudkan sistem energi yang lebih mandiri, bersih, dan berkelanjutan di Indonesia.
#ZONAEBT #EnergiTerbarukan #Bioetanol #Biomassa
Sumber: