
- GIS membantu pemetaan lokasi PLTS secara akurat dengan menganalisis radiasi matahari, topografi, penggunaan lahan, dan kedekatan infrastruktur listrik dalam satu sistem terintegrasi.
- Penentuan lokasi PLTS berbasis GIS mampu meningkatkan efisiensi proyek dengan meminimalkan risiko teknis, konflik lahan, serta biaya konstruksi dan transmisi.
- Pemanfaatan GIS dalam pengembangan energi surya mendukung percepatan transisi energi dan pencapaian target bauran energi terbarukan nasional.
Sobat EBT Heroes! Dalam pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia, perencanaan memegang kunci yang sangat penting. Contohnya dalam pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), tidak cukup hanya memiliki potensi sinar matahari yang tinggi, pembangunan PLTS juga membutuhkan analisis lokasi yang matang. Di sinilah Geographic Information System (GIS) memainkan peran penting.
GIS dapat membantu mengolah data berbasis lokasi secara sistematis. Melalui teknologi ini, pemetaan lokasi PLTS tidak lagi dilakukan berdasarkan perkiraan, tetapi melalui analisis spasial yang terukur dan berbasis data.
GIS dan Penentuan Lokasi PLTS

Dalam praktiknya, GIS memungkinkan berbagai faktor teknis dianalisis secara bersamaan dalam satu sistem. Beberapa aspek yang bisa dipetakan antara lain:
- Tingkat radiasi matahari suatu wilayah
- Kemiringan dan kontur lahan
- Jenis penggunaan lahan
- Kedekatan dengan jaringan listrik
Pendekatan ini membuat proses penentuan lokasi PLTS menjadi lebih efisien. Pengembang dapat menyaring wilayah yang paling potensial sekaligus menghindari area yang berisiko atau tidak sesuai secara tata ruang.
Alih-alih membangun PLTS di lahan yang sekadar terbuka, GIS memastikan bahwa lokasi tersebut memang optimal dari sisi teknis, ekonomi, dan lingkungan.
Baca Juga:
- Peran GIS dalam Pengembangan Energi Terbarukan: Fondasi Perencanaan Berbasis Data Spasial
- Mewujudkan Sektor Pertanian Rendah Karbon, Bagaimana Caranya?
Studi Kasus: Analisis Lokasi PLTS di Kabupaten Bima

Penerapan GIS dalam pemetaan lokasi PLTS pernah dilakukan dalam studi di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Penelitian tersebut mengintegrasikan GIS dengan metode pembobotan kriteria untuk menentukan lokasi paling sesuai.
Empat faktor utama dianalisis
1. Iklim atau radiasi matahari
Wilayah dengan intensitas radiasi tinggi memiliki potensi produksi listrik lebih besar. Bima dinilai memenuhi kriteria ini karena paparan sinar matahari yang tinggi sepanjang tahun.
2. Topografi atau kemiringan lahan
Lahan datar dengan kemiringan rendah lebih ideal untuk pemasangan panel surya karena menekan biaya konstruksi dan mempermudah instalasi.
3. Penggunaan lahan
GIS membantu mengidentifikasi lahan tandus, vegetasi ringan, kawasan terbangun, maupun lahan pertanian. Untuk pembangunan PLTS, lahan tidak produktif lebih direkomendasikan agar tidak menimbulkan konflik sosial dan ekonomi.
4. Akses terhadap infrastruktur listrik
Lokasi yang dekat dengan jaringan transmisi atau gardu distribusi lebih efisien karena mengurangi biaya penyambungan dan potensi rugi daya.
Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa wilayah seperti Woha, Belo, dan Monta dinilai paling optimal karena memenuhi kombinasi terbaik dari keempat kriteria tersebut.
Mengapa Pendekatan Ini Penting bagi Transisi Energi?
Pengembangan PLTS di Indonesia akan terus meningkat seiring target bauran energi terbarukan. Namun, tanpa pemetaan lokasi PLTS yang tepat, proyek bisa menghadapi kendala teknis maupun pembengkakan biaya.
Pemanfaatan GIS membuat proses perencanaan menjadi lebih akurat, transparan, dan terukur. Teknologi ini membantu memastikan bahwa investasi energi surya benar-benar ditempatkan di wilayah dengan potensi terbaik dan risiko minimal.
Dengan pendekatan berbasis data spasial, pengembangan PLTS tidak hanya mendukung efisiensi proyek, tetapi juga mempercepat langkah Indonesia menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
#GIS #EBT #ZONAEBT #PLTS
Sumber: