5 Manfaat & Tantangan Pembangunan PSEL di Bali, Solusi atau Risiko Baru?

Rencana pembangunan PSEL di Bali, foto: technologyIndonesia
  1. Tantangan Pembangunan PSEL Bali dalam Aspek Lingkungan dan Sosial
    Artikel membahas risiko emisi, standar lingkungan, penerimaan publik, serta sinkronisasi tata ruang yang menjadi faktor krusial keberhasilan proyek PSEL di Denpasar–Badung.
  2. Peran PSEL dalam Mendukung Target Bauran EBT dan Net Zero Emission 2060
    PSEL Bali dianalisis dalam konteks kebijakan energi nasional seperti RUPTL 2024-2033 serta kontribusinya terhadap transisi energi bersih di Indonesia.
  3. Manfaat Jangka Panjang PSEL bagi Pengelolaan Sampah dan Ekonomi Hijau Bali
    Jika tantangan teratasi, PSEL berpotensi mengurangi beban TPA Suwung, menghasilkan listrik perkotaan, membuka lapangan kerja, dan memperkuat citra Bali sebagai destinasi berkelanjutan.

Sobat EBT Heroes! Krisis sampah perkotaan di Bali bukan lagi isu jangka pendek. Kawasan metropolitan Denpasar–Badung menghasilkan sekitar 1.000 ton sampah per hari, dengan dampak nyata terhadap lingkungan, sosial, dan citra pariwisata. Tanpa solusi permanen, tekanan terhadap TPA dan kualitas lingkungan akan terus meningkat.

Di tengah situasi ini, proyek Pembangkit Listrik Energi Sampah (PSEL) Bali direncanakan hadir sebagai solusi strategis. Berlokasi di Pesanggaran, Denpasar Selatan, proyek ini masuk dalam kerangka Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan PSEL, dengan target groundbreaking 2026 dan operasi komersial 2027.

Namun sebelum berbicara soal manfaatnya, penting untuk memahami tantangan implementasinya terlebih dahulu.

Tantangan Pembangunan PSEL di Bali

Tantangan dan manfaat pembangunan PSEL di Bali, foto: balipost

1. Risiko Lingkungan dan Standar Emisi

Teknologi waste-to-energy, khususnya berbasis insinerasi, kerap menimbulkan kekhawatiran terkait emisi udara dan residu abu pembakaran. Jika tidak dikelola dengan standar lingkungan yang ketat (AMDAL dan pengendalian emisi), proyek dapat menimbulkan dampak kesehatan dan resistensi publik.

Sistem filtrasi gas buang, pengelolaan fly ash, serta pemantauan emisi secara transparan menjadi faktor krusial.

2. Penerimaan Publik

PSEL sering dipersepsikan sebagai “pembakaran sampah” yang berpotensi mencemari lingkungan. Tanpa komunikasi publik yang terbuka, partisipatif, dan berbasis data, proyek bisa menghadapi penolakan sosial.

Dalam konteks Bali yang sangat sensitif terhadap isu lingkungan dan pariwisata berkelanjutan, aspek ini menjadi tantangan utama.

3. Integrasi ke Grid Listrik

Listrik yang dihasilkan harus terhubung dengan jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Hal ini membutuhkan kepastian tarif, skema power purchase agreement (PPA), serta kesiapan jaringan distribusi.

Sinkronisasi dengan RUPTL 2024-2033 juga diperlukan agar proyek memiliki kepastian perencanaan dalam bauran energi nasional.

4. Sinkronisasi Tata Ruang

Lokasi PSEL harus sesuai dengan RTRW dan RDTR Denpasar–Badung. Perencanaan akses logistik, dampak lalu lintas pengangkutan sampah, serta zonasi kawasan menjadi aspek penting agar tidak memunculkan persoalan baru.

5. Keberlanjutan Pasokan Sampah

Paradoksnya, jika program 3R (Reduce, Reuse, Recycle) berjalan efektif, volume sampah bisa menurun dan memengaruhi kapasitas optimal pembangkit. Karena itu, desain PSEL harus adaptif dan tetap sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular.

Baca Juga:



Jika Tantangan Teratasi, Ini 5 Manfaat Jangka Panjang PSEL Bali

Apabila seluruh tantangan tersebut dapat dikelola dengan baik, PSEL berpotensi memberikan manfaat strategis.

1. Mengurangi Beban TPA Suwung Secara Permanen

PSEL dapat mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA Suwung secara signifikan, memperpanjang umur operasional landfill serta menekan risiko pencemaran air lindi dan bau.

2. Sumber Urban Renewable Energy

PSEL dapat menjadi sumber energi terbarukan berbasis perkotaan yang mendukung target bauran EBT 40 persen dalam RUPTL 2024–2033 serta visi Net Zero Emission 2060.

Energi dihasilkan dari permasalahan perkotaan itu sendiri, sehingga memberikan solusi ganda: pengurangan sampah dan produksi listrik.

3. Mendorong Ekonomi Hijau dan Circular Economy

Pendekatan waste-to-energy dapat memperkuat ekosistem ekonomi sirkular, selama tetap mengutamakan pemilahan dan daur ulang di hulu.

4. Menciptakan Lapangan Kerja Energi Bersih

Proyek ini berpotensi membuka peluang kerja di bidang teknik lingkungan, operasi pembangkit, manajemen limbah, hingga sistem pemantauan kualitas udara.

5. Memperkuat Citra Bali sebagai Pulau Hijau

Sebagai destinasi wisata global, Bali menghadapi tekanan reputasi internasional. Keberhasilan implementasi PSEL dengan standar tinggi dapat memperkuat citra Bali sebagai wilayah yang serius dalam pengelolaan sampah dan transisi energi bersih.

Solusi Jangka Panjang atau Tidak?

PSEL Bali bukan solusi tunggal krisis sampah. Program 3R, pengurangan sampah dari sumber, serta perubahan perilaku masyarakat tetap menjadi fondasi utama.

Namun, jika dirancang dengan standar lingkungan ketat, tata kelola transparan, serta integrasi kebijakan energi yang jelas, PSEL dapat menjadi bagian penting dari solusi sistemik pengelolaan sampah dan transisi energi di Bali.

#Sampah #PSEL #Listrik #Energi #Bali #ZONAEBT

Sumber:

[1] Kenapa PSEL Bali Penting? Urgensi Pembangunan Pembangkit Listrik Energi Sampah

Bot
ZEBot Asisten Digital ZonaEBT
Hai Kak!
Aku ZEBot, asisten digital ZonaEBT. Ada yang bisa kubantu hari ini?